Tervonis Tumbang Saat Dicambuk | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tervonis Tumbang Saat Dicambuk

Foto Tervonis Tumbang Saat Dicambuk

KULASIMPANG – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kualasimpang, Aceh Tamiang, Jumat (29/4) melaksanakan eksekusi cambuk terhadap lima tervonis kasus maisir (judi). Dalam uqubat cambuk yang diadakan di halaman Kantor Dinas Syariat Islam setempat, seorang tervonis tumbang saat cambukan terakhir (cambukan ketujuh). Terhukum yang tumbang itu adalah Jon Napitupulu (43), warga Dusun Merpati Putih, Desa Landuh, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang.

Selain Jon, empat tervonis lain yang dicambuk terdiri atas dua laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah Siti Jahara (39), warga Desa Kota Kualasimpang, Salamah (44) warga Desa Bukit Tempurung, Kecamatan Kualasimpang, Robi Candra (22) warga Desa Landuh, Kecamatan Rantau, dan Muhammad Andika (23) warga Desa Bukit Tempurung, Kecamatan Kualasimpang.

Amatan Serambi, Siti yang mendapat giliran pertama dicambuk tujuh kali. Lalu, disusul Salamah yang juga menerima uqubat cambuk tujuh kali. Seusai dicambuk, Salamah sempat hoyong. Sehingga harus dipapah oleh petugas ke dalam kantor Dinas Syariat Islam untuk bisa beristirahat.

Setelah itu, algojo melanjutkan hukuman cambuk terhadap tervonis Jon Napitupulu sebanyak tujuh kali. Saat dicambuk, Jon sempat memerengkan badannya. Akibatnya, beberapa cambukan mengenai lengan sebelah kiri, sehingga tampak memar. Bahkan, pada cambukan ketujuh yang merupakan cambukan terakhir, Jon tumbang dan terjatuh ke lantai panggung eksekusi.

Melihat hal itu, petugas langsung mengangkat dan memapah Jon ke ambulans. Kemudian, ia diberi minum dan diperiksa kesehatannya. Menurut dokter, kondisi Jon baik dan sadar. Hanya saja, ia tidak makan siang sehingga lemas saat dicambuk.

Beberapa saat kemudian eksekusi cambuk dilanjutkan untuk tervonis Muhammad Andika Robi Candra masing-masing enam kali. Uqubat untuk kedua tervonis terakhir itu berlangsung tanpa kendala.

Wakil Bupati Aceh Tamiang, Drs Iskandar Zulkarnain seusai eksekusi cambuk itu mengatakan, sebenarnya hukuman itu tak perlu terjadi jika warga patuh dalam menjalankan syariat Islam. Namun, menurutnya, karena warga melanggar Qanun Aceh soal syariat Islam, maka eksekusi cambuk harus dilakukan.

“Saya berharap eksekusi cambuk ini merupakan yang terakhir dilaksanakan di Tamiang. Jangan ada lagi warga yang melanggar qanun syariat Islam di Aceh umumnya dan Tamiang khususnya,” ungkap Iskandar. Wabup juga berharap, pihak keluarga agar selalu mengingatkan saudaranya agar tak melakukan perbuatan yang melanggar qanun syariat Islam.(md) (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id