PLTU Nagan Raya tak Tahan Panas | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

PLTU Nagan Raya tak Tahan Panas

Foto PLTU Nagan Raya tak Tahan Panas

BANDA ACEH – Permasalahan listrik yang mendera Aceh secara berulang akhir-akhir ini, menurut Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof Dr Ir Samsul Rizal M.Eng lebih disebabkan faktor teknis pada mesin pembangkit. Dia mencontohkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya yang menurutnya lebih didominasi faktor politis ketimbang teknis.

“Dua unit PLTU Nagan Raya (Unit Nagan 1 dan Nagan 2) terus menjadi beban bagi PLN. Generator tersebut produk Cina. Sejumlah bahan material logam dan listriknya tidak tahan temperatur tinggi. Dalam waktu tiga sampai enam bulan sekali selalu mengalami kerusakan. Sedangkan generator PLTU buatan Jepang, Eropa, dan Amerika, dua sampai tiga tahun terus beroperasi jarang kita dengar ada onderdilnya yang rusak,” kata Samsul Rizal kepada Serambi, Selasa (26/4) menanggapi persoalan kelistrikan di Aceh saat ini.

Dikatakan Samsul Rizal, program Pemerintah Pusat berupa penambahan daya listrik 10.000 mega watt (MW) sejak tahun 2013 sampai 2016, untuk mengatasi krisis listrik di sejumlah daerah, termasuk Aceh, sulit terlaksana karena proyek itu lebih didominasi faktor politis dari pada teknis.

“Ingin cepat selesai, didatangkanlah generator listrik dari Cina. Akibabatnya, ya seperti dua unit PLTU Nagan Raya itu yang hingga kini terus menjadi beban bagi PLN,” kata Samsul Rizal yang ahli dalam ilmu pencampuran bahan material logam.

Menurutnya, kedua generator listrik yang diimpor dari Cina yang bernilai triliunan rupiah itu, pengoperasiannya lebih baik dikembalikan saja kepada distributor, jangan harus ditanggung PLN karena biaya operasionalnya sudah tidak efisien dan ekonomis lagi.

Sarjana tehnik dari Unsyiah yang pernah magang dan bekerja di PLTU Nagan Raya, sejak PLTU itu dioperasikan pada 2013 hingga 2016 melaporkan sering kali generator mengalami gangguan sehingga harus stop operasi. “Penyebabnya antara lain karena sejumlah bahan material logam dan listriknya tidak tahan temperatur tinggi,” ungkap Samsul Rizal.

Menurut Samsul Rizal, dari hasil perbandingan kualitas bahan material logam dan elektrik yang pernah dipelajarinya di Unsyiah, di Jepang, serta beberapa negara Eopa, dan Amerika, serta referensi dari berbagai sumber, kemampuan teknologi Cina dalam bidang pembuatan generator listrik belum sebaik Jepang, Amerika, dan Eropa. Beberapa unit gerenator listrik dari Cina untuk mendukung program listrik 10.000 MW, termasuk di Nagan Raya (Aceh) dengan kapasitas 2×100 MW, Pangkalan Susu, Belawan (Sumut) dan lainnya sering kali mengalami gangguan dan stop operasi.

Kalaupun ada bebeberapa produk generator produk Cina yang baik, pasti pabriknya menggunakan lisensi Jepang, Amerika dan Eropa. “Apakah pembangkit di Nagan Raya itu menggunakan lisensi dari Jepang, Amerika atau Eropa, kita belum tahu. Yang kita tahu dari sejumlah sarjana teknik Unsyiah yang pernah bekerja di proyek itu, mesinnya diimpor dari Cina. Saat pemasangan kedua unit mesin itu, banyak melibatkan tenaga kerja dari Cina,” demikian Samsul Rizal.

Dugaan bahwa PLTU Nagan (Unit Nagan 1 dan Nagan 2) mengalami gangguan pada sirkulasi pendingin yang menyebabkan temperatur mesin naik, bisa jadi ada benarnya.

Sebab, seperti dikatakan Deputi Manajer Humas dan Hukum PT PLN Wilayah Aceh, Said Mukarram kepada Serambi, Senin (25/4), ketika unit pembangkit Nagan-1 sedang masa pemeliharaan hingga 15 Mei 2016, dipersiapkan untuk bulan Ramadhan tiba-tiba pada Minggu (24/4) sore Unit Nagan-2 mengalami trouble pada sirkulasi pendingin mesin. Padahal belum sampai sebulan mesin pembangkit tersebut juga mengalami kerusakan.(her) (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id