Kisah Tragis Petugas Damkar, Dua Balita Itu Kehilangan Ayah Periang | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kisah Tragis Petugas Damkar, Dua Balita Itu Kehilangan Ayah Periang

Foto Kisah Tragis Petugas Damkar, Dua Balita Itu Kehilangan Ayah Periang

AIR mata terus membasahi pipi Cut Elisa (32) saat menerima orang-orang yang bertakziah ke rumah orangtua almarhum suaminya, di Desa Cut Mamplam Kandang, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, Selasa (26/4) siang. Cut Elisa adalah istri dari Fasdar alias Fadlan (33), petugas pemadam kebakaran yang meninggal dunia akibat tergilas mobil pemadam, saat menjalankan tugasnya, Senin (25/4) malam.

Cut Elisa sama sekali tidak menyangka jika suami dan ayah dari dua buah hatinya yang masih kecil itu, harus pergi secara tragis. Padahal, sang suami yang telah tujuh tahun mengabdi di Pemadam Kebakaran Kota Lhokseumawe kala itu sedang menjalankan tugas mulia, membantu petugas pemadam kebakaran Aceh Utara, untuk memadamkan api yang membakar deretan kios di Syamtalira Bayu, Aceh Utara.

Tak banyak kenangan yang mampu diceritakan oleh wanita yang berprofesi sebagai bidan ini. Menurut Cut, suaminya yang berstatus tenaga honorer di pemadam kebakaran Kota Lhokseumawe itu adalah seorang periang. Kesehariannya, bila di rumah, dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama kedua anaknya yang masih Balita, yakni M Nailufar (4,5) dan Naiva (2,5). “Biasanya dia orang yang suka bercanda dan ceria, sehingga melengkapi kebahagiaan kami selama ini,” jelasnya.

Hanya saja, Cut Elisa menangkap adanya perubahan sikap suaminya dalam satu pekan menjelang ajalnya. Suaminya yang dulunya periang berubah menjadi seorang pendiam. “Bila ada kita tanya, maka baru menjawab,” katanya.

Begitu juga pada Senin malam, saat suaminya hendak berangkat kerja sekitar pukul 22.30 WIB, tidak banyak pembicaraan akhir dengannya. “Abang hanya mengatakan, kalau banyak petugas yang piket, kemungkinan pukul 02.00 WIB akan pulang ke rumah. Abang juga mengatakan membawa kunci rumah,” ujarnya.

Selepas suaminya pergi, Cut Elisa mengakui gelisah. Hingga satu jam berselang, pada pukul 23.30 WIB, Cut menerima telepon yang mengabarkan suaminya mengalami kecelakaan dan sudah dibawa ke Rumah Sakit Umum Cut Mutia.

Cut pun bergegas berangkat. Namun, ternyata sang suami telah membujur kaku di kamar mayat rumah sakit tersebut. “Kami tidak bisa menerima perlakuan seperti ini, makanya perkaranya sudah kami laporkan ke Polres Lhokseumawe,” ungkapnya.

Kepada pihak kepolisian, dia mengharapkan dapat mengusut tuntas perkara ini. Jangan sampai dinyatakan ini kejadian lakalantas. “Suami saya sedang melakukan tugas mulia, ingin menolong orang yang sedang mengalami musibah kebakaran. Akibat tugas mulia ini, suami saya harus meninggal dunia dan meninggalkan saya dan dua anak yang masih kecil. Jadi tolonglah diproses perkara ini sehingga saya dan kedua anak kami yang sudah yatim ini bisa mendapatkan keadilan,” ungkap Cut Elisa penuh harap.

Sementara itu Ibnu Sakdan sopir Armada Kebakaran Pemko Lhokseumawe kepada Serambi kemarin menyebutkan, ia berangkat dari Lhokseumawe bersama empat petugas lainnya. “Tapi saya tak ingat jam berapa lagi, karena setelah mendapatkan perintah, kami langsung berangkat dan tak sempat melihat pukul berapa lagi,” katanya.

Setiba di lokasi, kata Ibnu Sakdan, empat petugas langsung turun mengambil selang untuk membantu memadamkan api. Tapi massa melempari mobil tersebut dengan batu dan mengejarnya. Saat itu, Ibnu berusaha menjauhi kerumunan massa agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. “Saya tak sempat melihat ke belakang, karena khawatir menabrak massa,” katanya.

Ibnu Sakdan menghentikan mobilnya setelah diberitahu telah menabrak seseorang. “Saya langsung turun dan memangku teman saya itu. Saya meminta tolong kepada warga, tapi tak ada yang berani mendekat. Baru kemudian tiba polisi membantu kami membawa ke rumah sakit,” katanya.

Belakangan setelah kejadian itu juga mengaku mendapat informasi tiga rekannya berhasil menyelamatkan diri dari amukan massa, meski sempat terkena lemparan batu. “Tujuan kami menolong korban kebakaran dan kami bekerja berdasarkan SOP. Jadi jangan disalahkan kami terlambat, sebab kami juga harus memastikan bahwa info kebakaran itu benar terjadi. Karena selama ini kami juga sering dibohongi oleh penelpon yang tak dikenal,” katanya.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Anang Triarsono, melalui Kasat Lantas AKP Yasir SE, mengakui telah menerima laporan dari keluarga petugas pemadam kebakaran yang meninggal dunia. Pihaknya mulai melakukan penyelidikan.

Namun begitu, sesuai keterangan awal dari petugasnya yang ada di lapangan malam itu, korban terjatuh saat bergantungan di dinding damkar yang berjalan, selanjutnya tergilas ban damkar hingga meninggal dunia. Awalnya massa mengira kalau yang tergilas itu warga setempat, hingga mereka mengamuk dengan melempar batu damkar.

“Tapi pastinya kami akan terus melakukan penyelidikan termasuk akan memintai keterangan sejumlah saksi, sehingga nanti baru diambil kesimpulan apakah itu ada unsur pidana atau hanya unsur laka lantas. Bila masuk dalam unsur lakalantas, maka akan kita serahkan kepada satuan Lantas,” pungkas AKP Yasir.

Sementara itu, keluarga korban, Junaidi Yahya mengatakan pihaknya tidak bisa menerima kalau perkara ini masuk dalam lakalantas. “Karena dari hasil pernyataan saksi, termasuk kawan-kawan satu regu korban, korban terjatuh karena efek dari amukan massa kala itu. Bisa jadi terjatuh akibat lemparan batu atau karena ditarik. Karena kami minta polisi bisa mengusut tuntas perkara ini,” harap Junaidi Yahya.(jaf/bah) (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id