Tak Ada Tanda Kekerasan pada Jasad Pasutri Terbakar | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tak Ada Tanda Kekerasan pada Jasad Pasutri Terbakar

Foto Tak Ada Tanda Kekerasan pada Jasad Pasutri Terbakar

* Hasil Visum Dokter

SUKA MAKMUE – Dokter di RSUD Nagan Raya yang melakukan visum et repertum terhadap jasad pasangan suami istri (pasutri) Munir (50) dan Nurul (45) yang ditemukan meninggal hangus terbakar pada Minggu (24/4) lalu di barak sebuah perkebunan sawit, mengaku tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuh korban saat diperiksa di rumah sakit setempat.

“Kondisi jenazah ini saat tiba di rumah sakit memang sudah hangus terbakar dan tak bisa dikenali lagi,” kata dr Aan Andrian, dokter di RSUD Nagan Raya menjawab Serambi, Selasa (26/4) siang.

Selaku dokter yang memvisum jasad Munir dan Nurul, ia mengaku tak bisa melakukan autopsi terhadap kedua jasad tersebut karena tak memiliki wewenang untuk melakukannya. Kewenangannya hanya sebatas melakukan visum et repertum.

Saat melakukan visum itulah, kata dr Aan, ia tak menemukan adanya tanda-tanda bekas kekerasan pada tubuh kedua korban, layaknya orang yang disiksa lalu kemudian dibunuh dengan cara dibakar.

Saat divisum, kedua jasad tersebut tak lagi utuh. Namun, Dokter Aan sudah mendapat penjelasan dari polisi yang mengangkut kedua jenazah dari lokasi kejadian ke rumah sakit bahwa memang ada beberapa bagian organ tubuh korban yang tertinggal di lokasi kejadian. “Maklum, kondisi tubuh korban mulai hancur akibat terbakar api,” kata Aan.

Ia juga menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan, jasad Munir dan istrinya diperkirakan telah terbakar dua jam lebih di dalam kobaran api hingga kondisi keduanya sangat memprihatinkan, bahkan sama sekali tak bisa lagi dikenali.

Apalagi, saat diperiksa kondisi jasad korban sudah sangat rapuh, termasuk tulang-belulangnya. “Ada kita temukan bagian tulang dada korban yang sudah bolong, namun hal itu terjadi ketika jasad korban diangkat dari lokasi, diduga menggunakan alat bantu seperti kayu sehingga bagian tubuh/tulang yang terbakar ini hilang karena tulangnya sudah rapuh,” jelas Aan.

Dokter Aan juga menegaskan pihaknya tak bisa memastikan apakah kematian Munir dan Nurul memang karena dibunuh sebelumnya lalu dibakar atau korban dibakar hidup-hidup oleh pelaku seperti dugaan yang selama ini berkembang di masyarakat.

Masalahnya, kata Aan, jasad keduanya sangat sulit diidentifikasi, sehingga tanda kematian sulit dipastikan penyebabnya. Yang jelas, pada tubuh korban tak ditemukan adanya tanda kekerasan, termasuk di bagian tubuh yang masih utuh seperti otot dada atau panggul.

“Saat ditemukan posisi jasad dalam posisi tegak lurus dengan posisi tangan ke atas,” jelas dokter jaga di IGD RSUD Nagan Raya itu. Menurutnya, penyebab kematian pasutri itu hanya bisa diungkap melalui proses penyelidikan seperti yang saat ini dilakukan aparat kepolisian.

Sementara itu, Kapolres Nagan Raya, AKBP Agus Andrianto SIK melalui Kasat Reskrim AKP Muhayat MH pada Selasa (26/4) siang di Suka Makmue menyatakan hingga kemarin pihaknya telah memeriksa enam saksi guna mengungkap kasus ini.

“Saksi yang kita periksa ini sudah memberikan keterangan di hadapan penyidik. Kita berharap keterangan mereka dapat membantu polisi dalam menentukan siapa pelakunya atau penyebab dari kasus pembakaran ini,” tegas Muhayat.

Ia tambahkan, berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan polisi, telah didapat sejumlah informasi terkait kematian Munir dan isterinya Nurul. Polisi berharap kasus ini secepatnya terungkap dan pelakunya dapat ditangkap.

“Sudah ada yang kita curigai, namun untuk membuktikan kebenaran atau keterlibatannya, maka harus dibuktikan dengan sejumlah bukti yang kuat,” kata Muhayat.

Sebelumnya, anak kandung korban, Herman mengaku sebelum meninggal terbakar, ayahnya sering diteror dan diancam oleh pihak tertentu mengingat posisinya sebagai security dari sebuah perusahaan perkebunan di Nagan Raya. Sengketa lahan diduga sebagai salah satu motif mengapa Munir dihabisi. Istrinya ikut terbunuh karena malam itu berada di barak perusahaan tersebut lantaran diajak sang suami untuk menemaninya bermalam di barak. “Sebelumnya, ibu saya tak pernah menginap di barak tersebut. Ini sesuatu yang tak lazim,” kata Herman. (edi) (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id