Pembunuh Pasutri Teridentifikasi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pembunuh Pasutri Teridentifikasi

Foto Pembunuh Pasutri Teridentifikasi

* Motifnya Diduga Sengketa Lahan

SUKA MAKMUE – Pihak Kepolisian Resor (Polres) Nagan Raya telah mengantongi sejumlah nama yang diduga kuat terlibat membunuh dan membakar pasangan suami istri (pasutri) Munir (50) dan Nurul (45), warga Mon Dua, Kecamatan Tripa Makmur, kabupaten setempat, Minggu (24/4) sekitar pukul 01.20 WIB.

Sebagaimana diberitakan Serambi kemarin, pasutri itu tewas mengenaskan di barak perkebunan milik Koperasi Serbausaha Makmur Mulia di kawasan Krueng Itam, Kecamatan Tadu Raya, Nagan Raya. Barak itu diyakini anak korban, Herman, sengaja dibakar setelah kedua orang tuanya dibunuh.

Atas kematian orang tuanya secara tidak wajar, Herman sudah membuat pengaduan secara resmi ke Mapolres Nagan Raya pada Senin (25/4) siang. “Herman sekaligus melaporkan kasus kematian kedua orang tuanya,” kata Kapolres Nagan Raya, AKBP Agus Andrianto melalui Kasat Reskrim AKP Muhayat MH kepada Serambi di Suka Makmue kemarin.

Dalam laporan yang diterima polisi, kata Muhayat, anak korban juga mencatatkan sejumlah nama yang diduga terlibat sebagai pelaku pembunuh ayah ibunya.

Herman juga menceritakan kepada polisi hal-hal yang selama ini dialami ayahnya selama bekerja sebagai petugas keamanan (security) di perkebunan milik seorang pengusaha lokal itu.

Atas dasar informasi yang disampaikan anak korban, Kasat Reskrim Polres Nagan Raya, AKP Muhayat MH menduga motif pembunuhan pasutri tersebut kemungkinan besar karena kasus sengketa lahan yang selama ini terjadi di kawasan itu. “Soal sengketa lahan ini masih kita dalami,” tambahnya.

Selain itu, kata Kasat Reskrim, Herman juga membeberkan bahwa sebelum ayah dan ibunya tewas pada Minggu dini hari, sang ayah sudah lama tak berani lagi tidur di barak perkebunan itu, terutama setelah sengketa lahan itu mencuat.

Herman juga mengaku selama ini ayahnya, Munir, kerap diteror oleh sejumlah pelaku saat berada di dalam barak melakukan tugas jaga.

“Teror yang dialami korban berupa baraknya sering dilempari dengan batu oleh orang tak dikenal, termasuk ada pengancaman yang diterima korban,” tambah Muhayat.

Ia berjanji akan mengungkap kasus ini secepatnya sekaligus menangkap pelaku yang diduga kuat telah membunuh pasangan suami istri, warga Mon Dua, Kecamatan Tripa Makmur itu.

Muhayat juga mengakui bahwa siang kemarin Kapolres Nagan Raya, AKBP Agus Andrianto SIK telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus yang menghebohkan itu.

Informasi yang diperoleh Serambi, tim khusus yang dibentuk itu terdiri atas personel Satreskrim Polres Nagan Raya, Sat Intelkam, dan personel dari Mapolsek Darul Makmur maupun Mapolsek Kuala.

“Kita masih memfokuskan untuk mencari pelaku, meski indentitasnya sudah kita kantongi, namun polisi butuh waktu untuk menangkapnya,” kata Muhayat.

Ia menduga, jumlah pelaku yang terlibat dalam kasus ini lebih dari satu orang. Hal ini dikuatkan oleh hasil penyelidikan dan olah tempat kejadian yang dilakukan polisi pada Minggu lalu. Polisi juga sudah menyita sejumlah barang bukti, termasuk sebuah topi dan obor yang diduga milik para pelaku kejahatan terhadap pasutri itu.

Saat ditanyai Serambi kemarin, Herman menyatakan dirinya sama sekali tak bisa menerima perlakuan keji yang menimpa kedua orang tuanya yang tewas terbakar pada Minggu (24/4) dini hari di kawasan perkebunan sawit Kecamatan Tadu Raya, Nagan Raya.

“Saya tidak terima orang tua saya dibunuh dan dibakar dengan cara seperti ini,” kata Munir, Senin petang. Ia ceritakan, sebelum ditemukan meninggal pada Minggu lalu, sang ayah bercerita kepadanya bahwa ia tak berani tidur lagi di barak perkebunan karena sering diancam. “Ayah saya sangat tertekan oleh teror tersebut,” ujarnya.

Untuk mengobati kegusaran hatinya, sang ayah mengajak pergi istrinya, Nurul, guna menemani dirinya saat melaksanakan tugas jaga di kebun. “Ini yang aneh, biasanya ayah tak pernah mengajak ibu untuk tidur di barak itu,” kenang Herman.

Meski hanya bisa mengaku pasrah dengan musibah yang dialami kedua orang tuanya, Herman menginginkan polisi dapat segera menangkap pembunuhnya. “Kami serahkan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada aparat kepolisian,” ujar Herman.

Ia berjanji kepada Serambi untuk bercerita lebih lanjut terkait kasus kematian ayah dan ibunya ketika batinnya telah kuat nantinya. “Saya mohon maaf Bang, jiwa saya masih labil dan emosi atas musibah ini. Nanti kalau saya sudah stabil boleh hubungi saya kembali,” kata Herman. (edi) (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id