Polisi Tetapkan Delapan Tersangka Ilegal Logging | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Polisi Tetapkan Delapan Tersangka Ilegal Logging

Foto Polisi Tetapkan Delapan Tersangka Ilegal Logging

IDI – Dari 14 terduga pelaku ilegal logging yang ditangkap aparat Polres Aceh Timur, di lokasi penebangan kayu di hutan Gampong Ranto Panjang Bidari, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, Rabu (20/4) lalu, kini telah ditetapkan tersangka sebanyak 8 orang.

“Kedelapan tersangka ilegal logging ini langsung kami tetapkan sebagai tersangka, karena kami telah memiliki bukti yang cukup bahwa pelaku telah merambah hutan lindung, didukung bukti kayu ilegal dan keterangan saksi ahli dari Dishutbun,” kata Kapolres Aceh Timur melalui Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha.

Proses penetapan status tersangka pelaku ilegal logging ini tergolong cepat, dan menunjukkan keseriusan polisi dalam mengusutnya. Padahal, untuk kasus ilegal logging di kabupaten ini, biasanya sulit untuk diproses hukum, karena berbagai sebab dan alasan. Sehingga berdampak pada timbulnya sikap apatis dari masyarakat terhadap aparat hukum.

Sementara, banjir, longsor dan bencana lainnya yang disebabkan hilangnya daya dukung hutan, terus terjadi dan memakan korban masyarakat sekitar hutan, hingga menimbulkan kerugian yang sangat besar atas rusaknya infrastruktur.

AKP Budi Nasuha mengungkapkan, ke-8 tersangka ini masing-masing memiliki peran, lima orang sebagai operator chainsaw, dua operator bulldozer, ditambah satu orang pemodal (cukong) berinisial BT alias Atan. Sementara enam orang lagi hanya dikenakan wajib lapor, karena hanya tukang masak.

Kasat Reskrim Polres Aceh Timur, AKP Budi Nasuha juga mengungkapkan, para pelaku hanya mengincar adalah kayu bernilai tinggi seperti Merbau dan Meranti. “Kayu ilegal ini kemudian dibawa ke pemesan dari Medan (Sumut), yang saat ini masih kami telusuri. Para pelaku ini bukan warga lokal, namun dari Aceh Tamiang dan Medan (Sumut),” jelasnya.

Namun sayangnya, hukuman yang akan menjerat mereka tak lebih dari lima tahun, sesuai pasal yang akan dikenakan. “Mereka akan dijerat pasal 12 jo pasal 82 sub 84 sub 85, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, dengan ancaman hukuman penjara paling singkat satu tahun dan paling lama lima tahun,” ungkap AKP Budi.(c49) (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id