Tebarkan Spirit Damai Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tebarkan Spirit Damai Aceh

Foto Tebarkan Spirit Damai Aceh

BANDA ACEH – Guru Besar UIN Ar-Raniry, Prof Dr Yusny Saby MA menyerukan semua pihak untuk menebarkan spirit damai Aceh. Khusus kepada pemimpin dan tokoh politik Myanmar yang dalam dua hari terakhir belajar merawat damai di Aceh, dia anjurkan untuk membagi apa yang mereka pelajari di Aceh kepada komponen-komponen strategis lainnya di Myanmar.

Yusny juga mendoakan agar perdamaian yang baru tercipta di Myanmar bisa terus bertahan seperti halnya perdamaian Aceh. Damai untuk selama-lamanya.

“Sebagaimana Saudara-saudara rasakan bisa tidur nyenyak selama di Aceh, seperti itu pulalah hendaknya Saudara rasakan saat kembali ke Myanmar yang dulunya berkonflik,” kata Yusny Saby dalam acara perpisahan (farewell party) pihak ICAOIS dengan tokoh-tokoh politik Myanmar yang sejak Kamis (21/4) lalu berada di Banda Aceh untuk mempelajari proses perdamaian Aceh.

Perpisahan yang hangat dan mengharukan itu berlangsung di Imperial Kitchen, Seutui, Banda Aceh, dihadiri sekitar 60 orang. Terdiri atas pimpinan dan staf ICAIOS, kalangan peneliti damai Aceh dari ASH Center Harvard Kennedy School, Amerika Serikat, Lembaga Proximity, serta perwakilan UIN Ar-Raniry, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Malikussaleh selaku tiga PTN yang memprakarsai terbentuknya ICAOIS (International Center for Aceh and Indian Ocean Studies).

Atas nama Unsyiah, Wakil Rektor IV, Dr Nazamuddin juga berbicara singkat. Ia berharap agar pelajaran dan pengalaman Aceh merawat damai lebih dari satu dasawarsa bisa menginspirasi para pengambil kebijakan dan tokoh-tokoh politik Myanmar untuk mempertahankan damai yang baru terwujud di sana.

Di antara peserta terdapat Chief Minister of Karen State, Daw Nan Khin Htwe Myint. Sejumlah tokoh dari Myanmar yang bicara tadi malam menyatakan mereka memperoleh sangat banyak pelajaran berharga dari Aceh yang akan mereka terapkan di Myanmar agar perdamaian di negara mereka bertahan untuk selamanya.

Kemarin sore, sesi diskusi dengan delegasi Myanmar dan para peneliti dari Amerika Serikat itu dibahani oleh Yarmen Dinamika dan Juanda Djamal. Sebelumnya, dibahani oleh Shadia Marhaban, Nur Djuli, Munawar Liza Zainal, Mawardi Ismail, dan seorang akademisi dari IPB, Dr Mohammad Shohibudin.

Usai sesi terakhir kemarin, para peserta piknik singkat ke Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh, dan Lampu’uk, Aceh Besar. Pagi ini para peserta mengunjungi Museum Tsunami Aceh dan Situs Kapal PLTD Apung, lalu menuju Bandara Sultan Iskandar Muda Blangbintang untuk kembali ke negaranya melalui Jakarta. (dik) (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id