Menariknya Moda Transportasi Singapura | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Menariknya Moda Transportasi Singapura

Foto Menariknya Moda Transportasi Singapura

OLEH JURNALIS J HIUS MBA, pemuda Aceh yang tinggal dan bekerja di Batam dan Singapura, melaporkan dari Singapura

BICARA tentang perkembangan Singapura, tak akan pernah habisnya. Semakin banyak tempat yang kita kunjungi, semakin banyak informasi dan pengetahuan yang kita dapatkan. Singapura bukanlah negara mayoritas muslim, namun prinsip tata kota dan toleransi kehidupan sosialnya sangat dekat dengan ajaran Nabi Muhammad saw.

Hidup dan bekerja di dua negara, Indonesia dan Singapura, membuat saya mudah mempelajari kelebihan dan kekurangan dari dua negara yang bertetangga ini. Kali ini saya ingin sekali membahas masalah transportasi, karena dari transportasilah ekonomi daerah bisa berkembang merata serta mobilitas penduduk juga semakin mudah.

Rerata penduduk Singapura tinggal di apartemen, flat, mes, dan sebagainya. Hanya sebagian kecil yang tinggal di rumah pribadi. Sistem kependudukan seperti ini membutuhkan perencanaan transportasi yang detail, karena dalam jam tertentu penduduk akan pergi pada arus yang sama dan pulang pada arus yang sama pula. Jadi, transportasi massal adalah solusi yang paling sangat mungkin diterapkan di negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi paling tangguh di kawasan ASEAN ini.

Mulai tahun 2000-an, Singapura fokus membangun berbagai jenis transportasi massal, seperti peremajaan bus, perluasan jangkauan trayek, pengadaan mass rapid transport (MRT) sampai light rail transit (LRT) alias kereta ringan berteknologi canggih.

Selain itu, peningkatan jumlah feri untuk ke Malaysia dan Indonesia pun diperbanyak guna mendukung arus wisatawan. Hal paling menarik, hampir seluruh jalan protokol Singapura punya jalur sepeda. Amazing.

Singapura menyadari dari jauh hari bahwa mobilitas penduduknya serta wisatawan adalah salat satu bagian penting untuk membuat Singapura bergerak, Moving Singapore. Penduduk lokal akan berpikir dua kali untuk membeli kendaraan pribadi, selain mudahnya mendapatkan transportrasi umum, kepemilikan kendaraan pun mengakibatkan pengeluaran pajak yang tinggi. Di Singapura, semakin lama umur kendaraan pribadi, semakin mahal pajaknya.

Selain dari kuantitas dan kualitas transportasi di Singapura yang saya pelajari adalah bagaimana angkutan itu saling berintegrasi, sehingga pengguna bus mudah untuk bertukar ke LRT. Wisatawan yang turun di Bandara International Changi bisa langsung menaiki LRT ke pusat kota, pengunjung yang masuk dari Pelabuhan Harbour Front pun tinggal turun satu lantai untuk bisa membeli Ezlink (kartu transportrasi) untuk bisa jalan ke mana saja di Singapura. Transportrasi yang terintegrasi adalah salah satu elemen dari konsep Smart City.

Seluruh penduduk lokal di Singapura memiliki kartu Ezlink Pass Card yang bisa diisi pulsa (top up) sebagai mode pembayaran seluruh transportasi umum (kecuali taksi). Kartu yang juga bisa digunakan untuk belanja di Seven Eleven ini digunakan saat masuk dan ke luar setiap stasiun kereta. Jadi, di sini tak ada transaksi uang. Untuk mengisi pulsa pun, disediakan vending machines, layaknya mesin ATM.

Wisatawan pun bisa memiliki kartu ini, dengan membeli Singapore Tourist Past seharga S$ 10. Ini bisa digunakan 24 jam ke mana pun tanpa batas. Mudah sekali jalan-jalan di Singapura.

Sistem transportrasi yang mudah itu juga didukung dengan sistem keamanan yang mutakhir. Tak ada tempat umum di Singapura yang tak terpantau CCTV, sehingga membuat seluruh orang aman dan nyaman.

Fasilitas peta dan papan informasi di setiap sudut public service pun sangat membantu kita untuk tidak tersesat di Negara Singa ini.

Singapura memang habis-habisan melayani penduduk dan pengunjung negaranya. Ratusan miliar dolar digelontorkan pemerintahnya untuk melayani masyarakatnya. Meski pajak penghasilan dan biaya hidup tinggi di sini, namun penduduk Singapura nyaman dengan hal itu, karena pajaknya terimbangi dengan fasilitas yang diberikan negara.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari Singapura untuk dibuat di Aceh? Pastinya saya bukanlah orang Aceh pertama yang berkunjung ke Singapura. Warga Aceh, terutama pembuat kebijakannya, sudah berulang-ulang berkunjung ke negeri ini. Ada yang bertujuan untuk studi banding (kalau memang layak disebut begitu), untuk berbelanja, liburan atau juga mungkin mengantar sanak saudara untuk berobat.

Transportasi bisa menjadi bagian kecil yang dapat dicontoh dari Singapura untuk Aceh. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada kearifan lokal di Aceh, namun pada kenyataannya, susah sekali mendapatkan pelayanan transportasi yang layak di Aceh. Akibatnya, masyarakat lebih memilih membeli kendaraan pribadi untuk keluarganya. Penambahan jumlah kendaraan di Aceh terutama di kota besar seperti Banda Aceh, Lhokseumawe, Langsa, dan Meulaboh tidak diiringi dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang aturan, sehingga makin lama makin banyak terjadi kecelakaan di Aceh.

Inovasi Banda Aceh dalam merumuskan Transkoetaradja layak diacungi jempol dan diikuti oleh daerah lain, sambil juga mengepalkan tangan guna memberi semangat kepada pihak terkait untuk tidak main-main dengan pelayanan ini.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id