Warga Keluhkan Air PDAM Laweung | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Warga Keluhkan Air PDAM Laweung

Foto Warga Keluhkan Air PDAM Laweung

BANDA ACEH – Masyarakat Gampong Suka Jaya, Kecamatan Muara Tiga, Pidie mengeluhkan kondisi air bersih berwarna kuning dan keruh yang disuplai oleh PDAM Laweung, Pidie. Kondisi air yang diklaim tidak melalui proses penyulingan dan tak layak dikosumsi itu telah menimbulkan keluhan gatal-gatal pada kulit.

Hal itu diungkapkan oleh Joel, seorang warga Gampong Suka Jaya yang datang bersama sejumlah warga lainnya ke Kantor Harian Serambi Indonesia di Tanjung Permai, Manyang Pagar Air, Aceh Besar, Selasa (19/4). “Kondisi ini sudah berlangsung lama. Namun, tidak pernah dituntaskan, meski ada komplain dari pelanggan. Tapi, komplain itu justru berdampak tidak baik bagi pelanggan itu sendiri. Kalau bisa saya katakan air memang tidak layak kosumsi, karena pada saat bak air dibersihkan di dalam bak itu meninggalkan seperti lumpur tebal,” ujarnya.

Ia mengatakan, selain kondisi air yang keruh dan berwarna kuning. Warga juga mempersoalkan kondisi air dari PDAM itu yang hidup mati. Karena hanya lancar pukul 10.00 sampai pukul 18.00 WIB, selebihnya pada malam hari tak memperoleh air. Apalagi, kalau kondisi hujan, air sama sekali tidak mengalir. Misalnya ada hujan seminggu, maka dalam seminggu itu air tidak mengalir. “Ketika kita tanyakan kenapa air tak hidup, dengan alasan karena air keruh dan berwarna kuning. Setahu kami, tidak hujan pun air memang keruh dan kuning, bahkan tidak layak diminum,” kata Joel.

Selanjutnya lanjut Joel, beban yang paling memberatkan pelanggan, yakni masalah iuran yang harus dibayarkan setiap bulan mencapai Rp 100 ribu lebih. Padahal dari perkiraan warga, pemakaian air tidak begitu banyak. Karena, untuk minum, warga akan beli air galon. Bayangkan saja keluarga kecil yang anggotanya tiga sampai empat orang dan diperkirakan penggunaan 30 sampai 40 kubik lah. Tapi iuran yang harus dibayarkan mencapai Rp 100 ribu lebih tiap bulannya. “Sementara satu kubik air itu yang kami tahu harganya hanya Rp 18 ribu, tinggal dikalikan saja. Pertanyaannya dari mana rumusnya datang nilai Rp 100 ribu lebih itu. Semoga kondisi ini menjadi perhatian para pengambil kebijakan di Kabupaten Pidie,” harap Joel.

Informasi dari Kepala PDAM Laweung, Rauf, saat ini ada dua WTP yang digunakan untuk menyuplai air ke pelanggan di Laweung, yakni WTP lama suplai air lima liter per detik dan WTP suplai air sepuluh liter per detik. Dari dua WTP itu, menurutnya, WTP lama tidak layak lagi digunakan karena air sering kotor. Kini WTP suplai air sepuluh liter per detik yang masih berfungsi.

Kepala PDAM Laweung, Rauf, kepada Serambi, Selasa (19/4) mengatakan, tidak normalnya suplai air PDAM ke pelanggan karena ada pemasangan kawat bronjong untuk pengamanan tebing Krueng Kalee di dekat WTP. Pemasangan kawat bronjong itu menggunakan alat berat, akibatnya suplai air terhadap pelanggan terhenti satu hingga dua jam saja. Rauf juga mengatakan musibah banjir bandang yang terjadi beberapa bulan lalu menyebakan air sungai masih berlumpur yang belum sempat dibersihkan. “Pemasangan kawat bronjong dan banjir menjadi kendala menyuplai air ke pelanggan tidak normal dan sedikit kotor. Minggu ini suplai air ke pelanggan normal kembali,” janjinya.

Ia mengklaim saat ini suplai air PDAM dari Krueng Kalee ke pelanggan jarang macet, dibandingkan dahulu. Dirinya dipercaya menjabat Kepala PDAM Laweung, berusaha supaya PDAM itu bisa berfungsi secara baik dalam menyuplai air ke pelanggan. Dia telah pernah dipanggil oleh Direktur PDAM Sigli terkait beredarnya informasi dirinya telah melakukan pengutipan Rp 20 ribu kepada pelanggan. “Tarif yang saya gunakan sesuai yang tertuang dalam SK Bupati Pidie Rp 1.800 per kubik. Jadi tidak lebih tidak kurang. Jadi tidak benar saya kutip 20 ribu per kubik,” katanya.(mir/naz) (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id