PPS Lampulo tak Mampu Tampung Tangkapan Nelayan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

PPS Lampulo tak Mampu Tampung Tangkapan Nelayan

Foto PPS Lampulo tak Mampu Tampung Tangkapan Nelayan

BANDA ACEH – Dalam dua bulan terakhir ikan tangkapan nelayan melimpah, mencapai 10 hingga 15 ton dari masing-masing boat yang pulang melaut. Namun hasil melimpah itu belum didukung fasilitas Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Lampulo Banda Aceh karena cold storage (ruang pendingin ikan) PT Aceh Jaya Lampulo Bahari hanya berkapasitas 50-100 ton.

Ketua Asosiasi Pedagang Ikan (ASPI) TPI Lampulo, Suherman menjawab Serambi, Selasa (19/4) mengatakan, masing-masing boat membawa pulang ikan antara 10 hingga 15 ton. Namun sebanyak tiga hingga empat ton ikan dari masing-masing boat tidak bisa dipasarkan karena sudah dalam keadaan tidak bagus. “Ada 100 lebih boat yang merapat di PPS Lampulo,” kata Suherman.

Ditambahkannya, ikan-ikan yang dibawa pulang tersebut tergantung dari kualitasnya, apabila sudah seminggu di laut dan tidak bagus terkena es maka tidak dapat lagi dikonsumsi oleh masyarakat. “Sebab itu diperlukan tempat penggilingan atau pengolahan ikan di Aceh, sehingga ikan-ikan yang tidak bagus itu bisa diolah menjadi tepung, pupuk, maupun makanan ayam sehingga tidak terbuang percuma,” kata Suherman.

Boat dengan ukuran 60 grasston (GT), sebutnya, hanya dapat menampung es sebanyak 400-500 batang yang disimpan dalam palka. Jumlah es batang itu bertahan selama 8-10 hari di laut. “Ketersediaan es lumayanlah, namun apabila boat-boat nelayan dilengkapi dengan pendingin maka ikan yang dibawa pulang akan lebih bagus lagi. Selama ini belum dilengkapi dengan pendingin,” katanya. Ia membandingkan di Medan, ikan-ikan yang tidak bagus itu dibeli Rp 1.300- Rp 2.000 per kg dari nelayan untuk diolah menjadi tepung dan makanan ternak. “Kalo kita disini tidak tahu membawa kemana, maka ini jadi permasalahan dan inilah kelemahan perikanan di Aceh,” tukasnya.

Sementara Toke Bangku (orang yang membiayai operasional boat penangkapan ikan di laut) Lampulo, Banda Aceh, Fakhruddin menambahkan, banyaknya ikan yang diperoleh maka harga ikan yang dijual pun murah. Seperti dencis Rp 8.000/kg dan tongkol ukuran kecil Rp 3.000-Rp 4.000/kg, sedangkan tongkol besar Rp 12.000-Rp 14.000/kg.

“Harga ikan sedang murah, apabila harga yang dijual seperti itu maka nelayan tidak bisa melaut walaupun laku semua. Jadi apabila 30 ton, harga tongkol kecil Rp 2.500/kg dan kalau murah seperti ini kita rugi karena biaya perjalanan boat-boat besar sekali jalan sampai Rp 70 juta. Penampungnya juga hanya satu di sini dan itupun terbatas hanya 100 ton ikan,” katanya.

Ia juga mengharapkan pemerintah dapat membangun pengolahan ikan, agar ikan-ikan yang tidak bagus itu dapat diolah menjadi tepung dan lainnya sehingga tidak terbuang percuma ke laut. Selain itu, pabrik penampungan ikan juga ditambah tiga atau empat pabrik agar ikan-ikan dapat tertampung secara baik.

Direktur Pemasaran PT Aceh Jaya Lampulo Bahari, Abubakar yang ditemui terpisah mengatakan pihaknya tidak sanggup apabila semua ikan tangkapan itu dilimpahkan ke pihaknya. “Kalau semua ikan itu dilimpahkan ke saya, tidak sanggup saya tampung. Maka pemerintah daerah harus berpikir apa yang dibutuhkan oleh masyarakat,” sebutnya.

Ia juga mengaku hanya menampung ikan-ikan yang kualitasnya bagus, agar dapat dikirim ke luar daerah dengan kualitas yang juga masih bagus. Menurutnya, selama ini hasil tangkapan nelayan sebanyak 200 ton dalam sehari dan pihaknya hanya dapat menampung 50-100 ton.

Sampai saat ini, kata Abubakar, pihaknya juga belum mendapatkan air PDAM sehingga masih menggunakan air sumur bor. Ia juga meminta agar pipa PDAM tersebut nantinya tidak disatukan dengan pipa yang dialirkan airnya ke masyarakat. “Kita memerlukan air dalam jumlah banyak, dan juga bersih untuk menjaga kualitas ikan,” tutupnya.(una) (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id