Korban ‘Selfie’ Dikubur Seliang | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Korban ‘Selfie’ Dikubur Seliang

  • Reporter:
  • Selasa, April 19, 2016
Foto Korban ‘Selfie’ Dikubur Seliang

* Satu Korban Lagi Ditemukan

LANGSA – Dua korban tewas yang merupakan sepupu, Khairulia Layali (21) dan Maisya Sriylia Rahmi (25), warga Gampong Matang Seulimeng, Kecamatan Langsa Barat, Senin kemarin dikuburkan satu liang di kampungnya. Kedua korban meninggal setelah disapu ombak saat berfoto-foto (selfie/sendiri dan wefie/berkelompok) di Pantai Pasie Saka, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya, Minggu (17/4) sore.

Pemakaman dua bersaudara itu dilakukan ba’da zuhur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gampong Matang Seulimeng. Pengantaran jenazah ke tempat peristirahatan terakhir diiringi isak tangis keluarga, dihadiri ratusan pelayat, baik famili korban maupun warga setempat.

Khairulia Layali merupakan mahasiswi semester 6 Jurusan PPKn FKIP Universitas Syiah Kuala Banda Aceh yang berlamat di Lorong M Daud Gampong Matang Seulimeng. Sedangkan kakak sepupunya, Maisya Sriylia Rahmi, beralamat di Lorong Famili Gampong Matang Seulimeng, Langsa Barat. Almarhumah juga mahasiswi yang sedang dalam tahap penyelesaian tugas akhirnya di Kampus STIM Pase Kota Langsa.

Ayah Khairulia Layali, Mustafa (56), merupakan PNS di Kantor Dinas Syariat Islam (DSI) Langsa. Saat ditemui Serambi di rumahnya Senin petang mengatakan, jenazah anaknya dan kakak sepupu korban tiba di Langsa pukul 08.30 WIB diantar menggunakan mobil jenazah RSUD Aceh Jaya.

Setelah tiba, kedua jenazah disemayamkan di rumah Khairulia Layali. Tepat memasuki azan zuhur, kedua korban dimakamkan seliang di TPU M Daud. “Mereka dikubur satu liang sesuai kesepakatan keluarga,” kata Mustafa. Ia juga menerangkan bahwa ibu Khairulia Layali bernama Yusriah (56), PNS Capil Aceh Timur, merupakan kakak dari ibunda Maisya Sriylia Rahmi.

Menurut Mustafa, Khairulia Layali merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua saudara kandungnya pria. Khairulia Layali tergolong anak cerdas. Selama ini dia sangat dekat dengan ibunya. Terakhir dia pulang ke Langsa pada Februari 2016, menghadiri pesta perkawinan kakak sepupunya, yakni Maisya Sriylia.

Sebelum kejadian pada Minggu sore, sebut Mustafa, paginya putri satu-satunya itu sempat menelepon ibunya, mungkin mengabarkan bahwa dia dan kakak sepupunya hendak pergi ke pantai Calang, Aceh Jaya. Kakak sepupunya, Maisya Sriylia Rahmi, baru beberapa hari berada di Banda Aceh. Ia datang mengunjungi suaminya (Rahmat -red) yang bekerja di bengkel mobil.

Namun, sore harinya keluarga sangat terkejut dan seperti tak percaya setelah mendapat kabar bahwa anaknya itu sudah meninggal di Pantai Pasie Saka, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya.

Amatan Serambi, acara tahlilan kedua korban dilaksanakan di rumah Khairulia Layali. “Dia anak pandai dan sempat mengabarkan kepada ibunya bahwa pada Agustus mendatang akan kuliah pengabdian masyarakat (KPM) di Sigli sebagai syarat untuk penyelesaian akhir sarjananya di Unsyiah. Almarhum sebelumnya pernah berniat mau pindah ke Unsam, karena dia mau dekat dengan ibunya yang sering sakit-sakitan. Tapi dosen di Unsam mengusulakn lebih baik dia selesaikan kuliah di Unsyiah saja, karena di Unsyiah lebih lengkap fasilitasnya,” kenang Mustafa yang air matanya terlihat berlinang.

Sementara itu, dari Calang, dilaporkan bahwa Iswandi (31), salah satu korban tenggelam di Pantai Pasie Saka, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya, Senin (18/4) ditemukan dalam kondisi tak bernyawa setelah tim gabungan mencari korban di sepanjang garis pantai.

Korban tewas akibat terseret gelombang saat berupaya menolong dua wanita yang disapu gelombang saat berfoto-foto di Pasie Saka, Minggu (17/4) sore.

Korban yang tercatat sebagai warga Glugur Darat I, Kecamatan Medan Timur, Medan, Sumatera Utara, itu ditemukan sekitar 100 meter dari bibir pantai di lokasi kejadian dalam kondisi terapung.

Jasad Iswandi didaratkan dengan speed boat melalui Kuala Babah Nipah, Kecamatan Samponiet, karena jalan ke Pasie Saka belum bisa dilalui ambulans.

Sesampai di Babak Nipah, mayat tersebut langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Teuku Umar, di Calang menggunakan mobil ambulans untuk divisum. “Mayat korban sudah kita mandikan dan kafankan di RSUD, sehingga hanya menunggu dijemput oleh pihak keluarganya saja,” kata dr Suriadi Jauhari, Direktur RSUD Teuku Umar.

Disebutkan, korban mengalami luka akibat benturan benda keras di bagian kepala dan badan, sehingga korban meregang nyawa. Sedangkan di lokasi kejadian tak ada ruang (space) untuk berenang karena banyak bebatuan, sehingga akibat terjangan ombak korban mengalami benturan dan membuatnya tak berdaya menghadapi ombak yang menyeretnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK), Aceh Jaya Amren Sayuna menyebutkan, korban ditemukan setelah dicari sejak hilang terseret gelombang di Pasie Saka. “Alhamdulillah, atas kerja keras tim gabungan kita dari SAR, TNI, Polri, Panglima Laot, Tagana, relawan RAPI, BPBK, PMI dan masyarakat, korban sudah kita temukan,” ujar Amren Sayuna.

Sebelumnya diberitakan bahwa Minggu lalu, Rahmad Hidayat (30), Maisya Sriyulia Rahmi (25), Khairulia Layali (20), dan Iswandi (31) datang dari Banda Aceh ke Pasie Saka yang panoramanya indah.

Setiba di kawasan itu, Khairulia Layali dan Maisya Sriyulia Rahmi langsung selfie (foto sendiri-sendiri), kemudian berlanjut dengan foto bareng (wefi) di hamparan bebatuan besar di tepian pantai. Saat sedang wefi di onggokan batu besar, tiba-tiba ombak menerjang mereka dari belakang dan langsung menyeret istri Rahmat Hidayat bernama Maisya Sriulia Rahmi dan adik sepupunya, Khairulia.

Melihat Maisya dan Khairulia terseret gelombang, Iswandi langsung melompat ke laut untuk menyelamatkan mereka. Namun, pemuda asal Medan itu tak bisa berbuat banyak. Dia malah ikut hilang ditelan ombak dan baru kemarin mayatnya ditemukan. (zb/c45) (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id