Dua Tarian Aceh Meriahkan HUT TMII | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dua Tarian Aceh Meriahkan HUT TMII

Foto Dua Tarian Aceh Meriahkan HUT TMII

JAKARTA – Dua tarian asal Aceh, yaitu tarian di atas tikar yang dipersembahkan seniman asal Simeulue, Aceh dan suling maut dipadukan tarian gerak guel oleh penari Bener Meriah memeriahkan HUT ke-41 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di arena Festival Budaya Nusantara TMII, Jakarta, Senin (18/4).

“Tarian di Atas Tikar” dikreasikan oleh Yoppi Andri menghadirkan penari perempuan dan penari lelaki yang memanfaatkan tikar pandan hasil anyaman. Yoppi mengenakan kopiah meukeutob buatan perajin dari Garot, Pidie.

“Kami memanfaatkan properti tikar asal Simeulue yang dibawa khusus untuk keperluan HUT Taman Mini,” kata Yoppi. Stand Simeulue memang menampilkan aneka tikar pandan dan benda-benda hasil industri kelautan, seperti gelang akar bahar, makanan khas, dan lain-lain.

Asisten II Pemerintah Kabupaten, Simeulue, Hasbi, mengatakan pihaknya akan sangat serius menggarap seni pertunjukan dari Simeulue. “Kita sempurnakan lagi tariannya,” kata Hasbi.

Sedangkan delegasi kesenian Bener Meriah menghadirkan sejumlah seniman dari Tanah Gayo, yaitu “si suling maut” Misdhalina, Zul Rengga, Suriah Desprin, dan Usman Salihin. Mereka memainkan nomor gerak Guel dan lantunan suling yang syahdu. Di penghujung pertunjukan, mereka memperlihatkan gerak tari gembira “Resam Gayo.” Delegasi Bener Meriah dipimpin Irmansyah.

Seperti diketahui, Pemerintah Aceh dalam HUT TMII tahun ini bertindak sebagai pendukung utama atau tuan rumah. Selama pameran dalam rangka HUT Ke-41 TMII, Jakarta, 17-24 April itu, Pemerintah Aceh juga menggratiskan kopi Gayo dan minuman cokelat asal Pidie Jaya kepada setiap tamu yang berkunjung. Arena pameran HUT Taman Mini diikuti 23 kabupaten/kota dari Aceh dan seluruh provinsi di Indonesia. Aceh menyediakan paviliun sendiri yang berbentuk bangunan Masjid Raya Baiturrahman.

Dalam arena pameran HUT ke-41 TMII di Gedung Sasana Krya, Jakarta, Aceh juga memamerkan benda-benda khas daerah ini, seperti kopiah meukeutob dan batu giok Nagan Raya. Kopiah meukeutob menarik perhatian pengunjung pameran karena bentuk dan warnanya yang sangat unik.

Boy, yang menjaga stand “kopiah meuketob” menceritakan, kopiah tersebut dibikin oleh perajin dari Garot, Pidie. Di arena pameran, kopiah dijual Rp 800 ribu per buah. Boy mengatakan, kopiah dibuat secara manual oleh perempuan-perempuan setengah baya di Garot. Kepala Dinas Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi memuji kopiah bikinan dari Garot tersebut. “Buatannya sangat rapi,” kata Reza. (fik) (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id