Mengambil Pelajaran dari Gempa Kumamoto | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mengambil Pelajaran dari Gempa Kumamoto

Foto Mengambil Pelajaran dari Gempa Kumamoto

Oleh Zulfakriza Zulhan

DALAM satu minggu terakhir, sedikitnya ada dua gempa besar dan merusak yang terjadi di Jepang bagian selatan atau tepatnya di wilayah Kumamoto. Gempa pertama terjadi pada Kamis (14/4/2016) pukul 21.27 waktu Jepang. Kekuatan gempa pertama tercatat pada magnitudo M6.2 (USGS) dengan kedalaman yang relatif dangkal yaitu sekitar 10 km. Berselang dua hari, wilayah ini kembali diguncang gempa yang lebih besar yaitu M7.0 pada 16 April 2016 pukul 01.25 waktu Jepang. Sampai 17 April 2016 pukul 11.00 waktu Jepang, tercatat 3.499 gempa susulan (sumber: Hi-net)

Kedua gempa yang terjadi ini tergolong gempa yang merusak dikarenakan sumber yang dangkal dan magnitudo yang kuat. Beberapa gempa susulan terjadi dengan magnitudo yang lebih kecil dari gempa utamanya. Badan jawatan meteorologi Jepang (JMA) merilis intensitas dirasakan mencapa skala VIII untuk gempa pertama dan skala IX untuk gempa yang kedua. Sehingga gempa ini tergolong gempa besar dan diperkirakan energi yang terlepas hampir setara dengan 40 kali bom Hiroshima serta mampu mengganggu struktur di batuan dasar yang berdampak pada kerusakan bangunan dan infrastruktur yang berbahan beton.

Tentunya dengan intesitas tersebut sangat berpotensi menimbulkan kerusakan bangunan ataupun insfrastruktur lainnya, serta tanah longsor. Bahkan sebuah benteng kuno yang berusia 400 tahun ikut rusak akibat guncangan gempa. Seperti yang diberitakan oleh media online pada Minggu (17/4/2016) pukul 02.20 WIB, korban jiwa sudah mencapai 41 orang. Beberapa dari korban terperangkap di bawah reruntuhan gedung dan beberapa lainnya akibat kebakaran dan longsoran yang terjadi di pegunungan. Sedangkan korban luka-luka mencapai 2.000 orang serta puluhan ribu warga harus mengungsi di tempat-tempat penampungan seperti gedung serba guna yang ada di sekolah-sekolah.

Gempa ‘foreshock’
Ada yang menarik untuk dipahami dari dua kejadian gempa di Kumamoto. Gempa yang pertama berkukatan M6.2 dan berselang dua hari disusul dengan gempa yang lebih besar yaitu M7.0. Biasanya yang sering kita pahami adalah gempa susulan terjadi lebih kecil dari gempa utamanya. Akan tetapi berbeda dengan Gempa Kumamoto. Gempa yang pertama terjadi pada Kamis (14/4/2016) adalah gempa awal atau dikenal dengan foreshock.

Gempa pertama itu sebagai awal pelepasan energi gempa sebelum energi yang lebih besar terlepas pada gempa yang kedua. Ada beberapa kemungkinan hal seperti itu terjadi. Beberapa riset gempa bumi mejelaskan, terjadinya gempa foreshock disebabkan karena bidang kontak sesar yang sangat hiterogen sehingga energi terlepas tidak dalam waktu yang bersamaan. Selain itu ada kemungkinan gempa yang pertama memicu gempa kedua yang kekuatannya lebih besar, dalam hal ini sumber gempa pada dua sesar yang berbeda.

Jika dilihat dari mekanisme fokus gempa yang terjadi di wilayah Kumamoto, gempa ini terjadi akibat adanya aktivitas sesar geser dengan pola mendatar. Berdasarkan peta seismotektonik Pulau Kusyu, setidaknya ada 16 sesar aktif yang terpetakan. Belum lagi beberapa sesar kecil yang merupakan percabangan dari sesar utamanya. Gempa yang terjadi pada Kamis (14/4/2016) dan Sabtu (16/4/2016) lalu, kemungkinan dipicu oleh aktivitas sesar Futagawa dan Hinagu yang berada berdekatan dengan Kota Kumamoto. Sesar ini menerus sampai memotong Aso caldera yang merupakan satu gunung api purba yang ada di Pulau Kyushu.

Ditinjau dari jenis batuan yang tersusun di wilayah Kumamoto adalah jenis batuan sedimen yang kemungkinan berasal dari endapan vulkanik dari Gunung Aso serta endapan aluvial lainnya. Secara geologi, umur endapan yang terbentuk masih tergolong muda dan relatif lunak. Sehingga rambatan gelombang gempa akan lebih kuat terasa di permukaan atau dengan istilah lain dikenal dengan istilah terjadinya amplifikasi rambatan gelombang gempa. Kondisi seperti ini tentunya akan lebih memperparah tingkat kerusakan bangunan dan terjadi longsor yang lebih besar.

Pemahaman baru
Sebuah hal yang penting bagi kita untuk menjadikan setiap kejadian sebagai sebuah pembelajaran. Setiap pembelajaran akan memberikan pamahaman baru yang nantinya akan bermanfaat untuk kewaspadaan dan kesiapsiagaan jika terjadi hal yang sama di masa yang akan datang.

Kejadian gempa bumi yang menghentak Kumamoto pada Kamis dan Sabtu lalu, sebagaimana telah kita singgung di atas, harus menjadi pembelajaran bagi kita semua. Hal tersebut dikarenakan secara geologi maupun tektonik wilayah Aceh hampir sama dengan Wilayah Kumamoto. Kedua wilayah ini sama-sama memiliki beberapa sesar aktif, gunung api aktif dan beberapa kota yang terbangun di atas sedimen vulkanik dan aluvial.

Tentu saja kita belum bisa melupakan kejadian gempa bumi di dataran tinggi Gayo pada Juli 2013 lalu. Sebuah gempa bumi yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif yang belum dipahami dengan baik oleh para geolog. Hal ini dikarenakan belum banyak penelitian yang dilakukan untuk memahami sesar aktif-sesar aktif yang ada di daratan Aceh. Sehingga pemahaman sumber-sumber gempa bumi dengan baik adalah sebuah keniscayaan.

Dalam hal ini, informasi yang dibutuhkan tidak hanya lokasi sesar aktif, akan tetapi parameter-paremeter kegempaan lainnya perlu dikuantifikasi dengan baik. Terutama sumber-sumber gempa yang berada pada wilayah perkotaan yang padat penduduk. Selain itu, pamahaman sumber gempa bumi sebagai langkah awal proses perencanaan pembangunan yang mengedepankan upaya pengurangan risiko bencana.

Jika kita memperhatikan posisi Kota Banda Aceh yang merupakan ibu kota pemerintah Aceh. Secara teknonik, wilayah ini diapit oleh dua sesar yang kemungkinan aktif yaitu sesar Seulimum yang menerus sampai ke Pulau Weh dan sesar Aceh yang menerus sampai ke Pulo Aceh. Kedua sesar ini mengapit kota Banda Aceh dari sisi barat dan timur. Belum banyak informasi ilmiah yang terdokumentasi terkait dengan kedua sesar tersebut. Kita belum mengetahui tingkat keaktifannya, seismisitasnya juga laju pergeserannya. Informasi ini menjadi penting sebagai parameter untuk menghitung tingkat bahaya kegempaan yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.

Selain itu, secara geologi kota Banda Aceh tersusun dari endapan aluvial yang relatif lunak. Menurut hemat penulis, ketebalan endapan di kota ini belum terhitung dengan baik. Sehingga kedalaman engineering bedrock sebagai bahan acuan dalam perancangan struktur bangunan yang aman gempa belum terkuantifikasi dengan baik.

Tentu saja kita berharap kejadian gempa di Kumamoto beberapa hari yang lalu tidak terjadi di tempat kita. Akan tetapi tidak ada salahnya kita mawas diri dan melakukan upaya pengurangan risiko bencana dengan memahami sumber-sumber gempa bumi serta melakukan langkah mitigasinya.

* Zulfakriza Zulhan, Doktor bidang Seismologi dan Anggota Himpunan Ahli Geofisika Indonesia. Email: zulfakriza@gmail.com (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id