Mari Peduli Individu ‘Skizofrenia’ | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mari Peduli Individu ‘Skizofrenia’

Foto Mari Peduli Individu ‘Skizofrenia’

Oleh Yunita Amaiza

ISTILAH skizofrenia masih terdengar asing di masyarakat, tetapi penyakit yang satu ini, yaitu penyakit gila menjadi sangat familiar dalam masyarakat kita. Pada intinya skizofrenia dan penyakit gila itu berarti sama. Istilah skizofrenia berasal dari bahasa Latin baru, yaitu schizo yang berarti “terpecah” dan phrenia yang berarti “pikiran”. Skizofrenia adalah gangguan psikologis yang parah yang ditandai dengan proses berpikir yang sangat terganggu.

Hal tersebut menekankan bahwa pikiran seseorang terpecah dari realitas, dan bahwa individu itu menjadi bagian dari dunia yang kacau dan menakutkan. Individu dengan skizofrenia mungkin menunjukkan serangkaian luas gejala, termasuk pikiran yang terganggu, komunikasi yang ganjil, emosi yang tidak tepat, perilaku motor yang tidak normal, dan penarikan diri.

Skizofrenia adalah gangguan psikologis yang serius dan bertahan lama. Sekitar setengah dari pasien di rumah sakit jiwa (RSJ) adalah individu dengan skizofrenia. Seperti skizofrenia terdengar mengganggu untuk orang asing, kita hanya dapat membayangkan keganjilan orang yang hidup dengan skizofrenia. Sering kali pengalaman skizofrenia adalah sebagai satu teror yang paling menakutkan.

Untuk kebanyakan dari mereka yang hidup dengan gangguan ini, mengendalikan gangguan ini berarti menggunakan medikasi yang sangat kuat untuk melawan gejala-gejalanya. Penyebab paling umum dari kemunculan gangguan ini dalam individu adalah karena mereka menghentikan pengobatannya. Mereka menghentikannya karena mereka merasa sudah lebih baik atau karena mereka tidak menyadari bahwa pikiran mereka mengalami gangguan.

 Gejala ‘skizofrenia’
Adapun gejala-gejala skizofrenia yaitu: Pertama, gejala-gejala positif, Halusinasi yaitu pengalaman sensoris di saat tidak ada stimulus nyata, Delusi yaitu kepercayaan salah yang salah dan terkadang tidak termasuk akal yang bukan bagian dari suatu budaya tertentu. Kedua, gejala-gejala negatif. Afek datar yaitu sebuah gejala negatif di mana individu menunjukkan sedikit atau tidak ada emosi, berbicara tanpa cengkok emosi, dan mempertahankan ekspresi wajah hingga tidak berubah. Ketiga, gejala-gejala kognitif. Gejala-gejala kognitif dari skizofrenia, meliputi kesulitan untuk mempertahankan atensi, hambatan menyimpan informasi dalam ingatan, dan ketidakmampuan untuk memaknai informasi dan membuat keputusan.

Adapun penyebab skizofrenia dari faktor-faktor biologis yaitu skizofrenia setidaknya sebagian disebabkan oleh faktor genetika. Ketika kesamaan genetika terhadap skizofrenia meningkat, maka risiko orang tersebut mengembangkan skizofrenia juga meningkat. Seseorang individu yang memiliki kembar identik dengan skizofrenia memiliki 4% kemungkinan mengembangkan gangguan tersebut, sementara kembar fraternal 14%, saudara kandung 10%, keponakan sekitar 3%, dan individu yang tidak terkait dalam populasi sekitar 1%.

Data seperti ini menunjukkan bahwa faktor genetika memainkan peran penting dalam skizofrenia. Abnormalitas struktur otak menjadi salah satu kemungkinan penyebab skizofrenia. Abnormalitas struktur dalam otak telah ditemukan pada individu-individu dengan skizofrenia. Teknik-teknik pencitraan termasuk pemindaian MRI telah menunjukkan vertikel-vertikel yang diperbesar dalam otak para individu ini.

Vertikel adalah ruang-ruang yang dipenuhi dengan cairan dalam otak, dan pembesaran vertikel mengindikasikan atropi atau kemunduran di jaringan otak lainnya. Individu dengan skizofrenia juga memiliki korteks frontal yang kecil (area di mana proses berpikir, perencanaan, dan pegambilan keputusan terjadi) dan menunjukkan aktivitas yang lebih sedikit dibandingkan dengan individu yang tidak memiliki skizofrenia.

 Faktor sosio-ekonomi
Selain itu, faktor psikologis juga sebagai satu-satunya penyebab skizofrenia, stres mungkin dapat menjadi faktor yang memainkan peran. Model stres diatesis berpendapat bahwa kombinasi dari disposisi biogenetik dan stres menyebabkan skizofrenia. Kemudian faktor terakhir kemungkinan penyebab skizofrenia adalah faktor sosio-ekonomi, di mana individu yang hidup di lingkungan miskin lebih mungkin untuk mengembangkan skizofrenia daripada orang-orang yang memiliki status sosio-ekonomi tinggi.

Kita bisa melihat bahwa angka individu yang mengalami skizofrenia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Rata-ratanya pasien di RSJ adalah mereka yang mengalami skizofrenia. Itu baru sebagian kecil kita melihatnya, lain lagi mereka yang masih belum terdata dan belum mendapat penanganan medis untuk proses peyembuhan. Kita juga bisa melihat banyak individu yang skizofrenia masih berkeliaran di jalan-jalan ataupun di jembatan-jembatan dengan keadaan yang sangat memprihatikan yang belum mendapat penanganan medis.

Penulis berharap, seharusnya kita yang masih diberi kesehatan fisik maupun kesehatan mental dapat peduli terhadap mereka. Setidaknya kita bisa memberitahukan keberadaan mereka ke pihak RSJ agar mereka segera mendapat penanganan. Yang paling penting dalam proses penanganan pemulihan mereka adalah perhatian keluarga dan masyarakat.

Individu yang mengalami skizofrenia kemungkinan bisa sembuh apabila mereka mendapat pengobatan yang rutin dan teratur dari RSJ. Jadi, mari kita sama-sama sadar dan peduli terhadap nasib dan masa depan mereka yang mengalami skizofrenia.

Yunita Amaiza, Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id