Pemkab dan Pertamina Operasi Pasar | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pemkab dan Pertamina Operasi Pasar

Foto Pemkab dan Pertamina Operasi Pasar

* Ekses Kelangkaan Elpiji Melon

SIGLI – Ekses kelangkaan gas elpiji tabung berisi 3 Kg (gas melon), seperti yang dikeluhkan warga dalam pemberitaan Serambi, Rabu (13/4), Pemkab Pidie dan Pertamina pun langsung menggelar Operasi Pasar (OP) di tiga titik. Yakni di Kuta Beudeu (Kota Sigli), Geumpang dan Mane, Kamis (14/3).

“Kami pun akan segera menyusun aturan untuk menertibkan dan pengawasan elpiji melon ini,” kata Asisten II Setdakab Pidie, H Maddan MSi, mengutip hasil rapat terkait kelangkaan elpiji 3 Kg yang dipimpinnya kemarin, dan dihadiri pihak distributor, Pertamina, Kejari, Kepolisian, Agen penjualan, Hiswana, serta Disperindagkop dan ESDM. Asisten II Bidang Perekonomian ini, juga mengakui pihaknya menemukan adanya pelanggaran batas Harga Eceran Tertinggi (HET) pada penjualan elpiji 3 Kg di Kabupaten Pidie dan sekitarnya. “Maka itu kami akan bentuk tim pengawasan dan penertiban dengan melibatkan polisi dan aparatur hukum lainnya untuk menindak pelaku yang memainkan harga elpiji melon,” jelasnya.

Sebab, elpiji 3 Kg ini merupakan bahan bakar bersubsidi yang seharusnya membantu rakyat, bukan malah menumpas rakyat kecil.Sementara itu, OP elpiji 3 Kg yang disebar ke masyarakat kemarin sebanyak 1.120 tabung, yang dapat dibeli dengan harga Rp 17.000/tabung.

Perwakilan PT Pertamina Pidie, A Muhajir Kahuripan yang membawahi bidang marketing untuk Provinsi Aceh, dalam rapat itu mengatakan, untuk kabupaten Pidie sebetulnya jatah kuota elpiji bersubsidi sudah ditambah.

Untuk penyaluran 2015, sebelumnya diberikan sebanyak 1.704 tabung per hari, dan kini sudah ditambah 15 persen. “Bulan ini kami menambah 2 persen lagi hingga mencapai 1.750 tabung/hari,” katanya.

Ia mengakui, permintaan elpiji melon (3 Kg) bisa dikatakan tak pernah cukup, apalagi pengguna elpiji 12 Kg –yang bukan tumah tangga sasaran– kini juga menggunakan elpiji. “Hal ini dibuktikan dengan menurunkan jumlah permintaan terhadap elpiji nonsubsidi sebesar 12 persen dari jumlah warga di kabupaten ini,” ungkapnya berdasarkan data konsumsi elpiji tahun 2016 di Pidie.

Namun pihaknya berjanji masih akan mengupayakan elpiji 3 Kg tetap bisa didapat masyarakat RTS minimal satu tabung per konsumen. “Kami juga akan buat spanduk bertulis harga resmi di pangkalan, supaya masyarakat tahu berapa harga elpiji yang seharusnya dibayar untuk satu tabung. Di spanduk itu juga akan ditulis nomor pengaduan, agar masyarakat bisa melapor jika terjadi permainan harga,” katanya.

Ia menerangkan, Rumah Tangga Sasaran (RTS) yang berhak menggunakan elpiji 3 Kg, seharusnya masyarakat berpenghasilan di bawah Rp 1,5 juta/bulan, dan pedagang kecil atau usaha dengan omzet di bawah Rp 25 juta per bulan. Semisal pedagang pisang goreng, tempel ban, tukang bakso, pedagang keliling, dan lainnya. Bukan pemilik restoran, atau rumah makan besar dengan omzet di atas Rp 25 juta/bulan,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Hiswana Migas, Wirdansyah, dalam forum itu mengungkapkan banyak ditemukan rumah makan besar (restoran) yang memakai elpiji melon dalam jumlah yang banyak (lebih dari satu tabung, bahkan ada yang menyimpan sampai 30 tabung elpiji melon.

Ketua Komisi B DPRK setempat, Tgk Anwar Husen mengatakan, hasil pansus bulan Maret 2016, banyak sekali ditemukan penjualan elpiji 3 Kg di atas harga HET. “Padahal di pangkalan tertera harga HET Rp 17.000/tabung. Karena itu kami imbauy masyarakat segera melapor jika ada yang menjual elpiji dengan harga Rp 18 ribu ke atas per tabung.(aya) (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id