Ibrahim Pidie Bantah Serobot Lahan Rakyat | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ibrahim Pidie Bantah Serobot Lahan Rakyat

Foto Ibrahim Pidie Bantah Serobot Lahan Rakyat

BANDA ACEH – Tudingan dan laporan penyerobotan lahan rakyat di luar HGU (Hak Guna Usaha) PT Fajar Baizuri di Kabupaten Nagan Raya dibantah oleh owner (pemilik) perusahaan tersebut, H Ibrahim Pidie.

“Tidak ada niat sedikit pun untuk merampas milik masyarakat. Saya ini sudah tua dan hampir mati. Sejak awal saya mengurus HGU pada 1991 saya niatkan bisa ikut mendongkrak perekonomian masyarakat,” kata Ibrahim Pidie kepada Serambi di Banda Aceh, Rabu (13/4).

Ibrahim Pidie selaku Direktur Utama (Dirut) PT Fajar Baizuri & Brother mengatakan, selama ini dia mengambil sikap diam karena pihaknya percaya akan ada penyelesaian terbaik yang dilakukan oleh pemerintah maupun proses hukum.

“Kita tetap menghormati berbagai upaya yang dilakukan agar tidak ada yang dirugikan, apalagi sampai merugikan hak-hak masyarakat. Kalau pun kali ini saya harus ngomong itu semata-mata untuk meluruskan informasi sehingga tidak ada yang terprovokasi dengan isu yang malah bisa merugikan semua pihak,” kata Ibrahim Pidie didampingi Konsultan HukumPT Fajar Baizuri & Brother, Zulfikar Sawang SH.

Ibrahim Pidie mengisahkan, izin HGU untuk lahan seluas 9.311 hektare yang kini berada dalam wilayah Kabupaten Nagan Raya keluar pada 1991. Penanaman sawit dimulai 1992 namun karena konflik berkepanjangan akhirnya telantar. “Waktu itu semua kita berusaha menyelamatkan nyawa. Malah dua mandor kebun saya terbunuh,” kata Ibrahim yang sejak konflik terpaksa pindah ke Jakarta bersama keluarganya.

Menurutnya, pada 2009 pihak PT Fajar Baizuri kembali melakukan peremajaan tanaman sawit yang sudah tidak produktif malah banyak yang mati. “Tiba-tiba secara tak terduga di lapangan sudah banyak yang mengklaim areal HGU PT Fajar Baizuri adalah tanah mereka. Malah ada yang sudah diperjualbelikan dengan berbekal sertifikat yang diolah oleh oknum-oknum pejabat. Buktinya, ada 49 sertifikat yang dibatalkan oleh PTUN dan ini sudah berkekuatan hukum tetap (inkracht),” tandas Ibrahim Pidie. Ditambahkan oleh Zulfikar Sawang, “lahan seluas 198 hektare yang sempat diperjualbelikan juga sudah putus di persidangan PN Meulaboh sebagai milik PT Fajar Baizuri.”

Menurut Ibrahim Pidie, perkebunan PT Fajar Baizuri yang berada dalam wilayah Kecamatan Kuala, Kuala Pesisir, Tadu Raya, dan Tripa Makmur memiliki 1.274 karyawan yang sebagian besar adalah warga setempat. Kapasitas pabrik kelapa sawit (PKS) mencapai 30 ton/jam atau rata-rata 500 ton/hari. Dari jumlah itu, Fajar Baizuri mengolah 100 ton milik sendiri dan 400 ton milik masyarakat. “Jika dikalikan dengan harga TBS saat ini Rp 1.750/kg, maka dalam sehari ada sekitar Rp 700 juta penghasilan masyarakat. Alhamdulilah, geliat ekonomi sangat nyata,” kata pengusaha yang kini berusia 73 tahun tersebut.

Ibrahim Pidie berharap masyarakat mendukung langkah-langkah yang dilakukan oleh pihak perusahaan sesuai dengan ketentuan yang telah diatur. “Kami menghormati upaya penyelesaian yang dilakukan. Namun, ketika proses penyelesaian itu sedang dilakukan, biarlah kami merawat kebun agar tanamannya tetap sehat. Kalaupun nantinya diputuskan ada areal yang ternyata milik masyarakat, sawitnya tetap sehat, bukan malah mati karena tak terawat,” demikian Ibrahim Pidie. (nas) (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id