Amplop Merah untuk Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Amplop Merah untuk Aceh

Foto Amplop Merah untuk Aceh

OLEH RAHMALIA USMAN, Mahasiswa Postgraduate HUST, penerima China Scholarship Council, melaporkan dari Wuhan, Tiongkok

RAKYAT Tiongkok bersiap-siap untuk mengumpulkan hadiah tahunan yang paling mereka nantikan, yakni hong bao (nama lain angpao), amplop merah berisi uang keberuntungan.

Setelah mengungkapkan salam tahun baru, selama perayaan Musim Semi (New Year Spring Festival), seperti Gong Xi Fa Cai, anggota yang lebih tua dari keluarga akan memberikan anak-anak paket berwarna merah diisi dengan uang kertas baru.

Pada awalnya, ini adalah tradisi lama di keluarga Tiongkok bahwa pasangan yang sudah menikah memberikan hong bao bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk orang dewasa muda yang belum menikah. Orang meletakkan uang ke dalamnya hanya untuk membuat pihak yang mendapatkan amplop merah ini bahagia.

Uang keberuntungan di dalam hong bao juga disebut yasuiqian, yakni sejumlah kecil uang yang dapat menekan setan dan menjaga anak-anak dalam damai dan keamanan sepanjang tahun. Jadi, makna sebenarnya dari ritual amplop merah ini adalah berkah tahun baru.

Hong bao diberikan pada acara-acara khusus, seperti perayaan tahun baru, pernikahan, ulang tahun, dan merupakan ritual yang disebutkan dalam buku sejarah sejak Dinasti Qing (1644-1911).

Lalu, mengapa mesti amplop merah? Merah artinya beruntung (lucky and fortune) dalam budaya Tiongkok. Memberikan hong bao dalam amplop merah adalah bagian yang sangat penting dari tradisi Tiongkok, sehingga sangat sulit untuk menemukan alternatif lain untuk menggantikan tradisi yang sudah berabad-abad ini.

Saat modernisasi melanda Tiongkok, beberapa kebiasaan tradisional masih dijalankan sampai hari ini, tetapi dengan cara yang modern pula. Orang-orang Tiongkok memberikan amplop merah berisi uang hong bao ke teman dan relasi selama perayaan Tahun Baru Imlek. Memanfaatkan tradisi, perusahaan internet pun, termasuk Tencent, Alibaba, Baidu, dan Sina Weibo memungkinkan pengguna mengirim dan merebut amplop merah cyber melalui smartphone.

Statistik Tencent menunjukkan 516 juta orang berpartisipasi dalam bertukar amplop merah tahun ini, sedangkan WeChat meluncurkan amplop merah maya pada tahun 2014, dengan metode langsung mentransfer uang tunai. Jadi, sangat menyenangkan karena penerima mengambil langsung hadiah yang tersedia.

Cara kerjanya seperti ini: jika seseorang dalam kelompok WeChat (media sosial yang digunakan orang-orang Tiongkok sejenis dengan Facebook) yang terdiri atas sepuluh orang mengirimkan 100 yuan sebagai hadiah dan mengatakan ada orang yang dapat memiliki maksimal 20 yuan, maka lima orang yang pertama membuka amplop merah dapat “mengambil” uang. Sedangkan yang lainnya akan kehabisan amplop “keberuntungan” tersebut.

Kami (mahasiswa Aceh) juga mengalami hal ini sebagai pengguna Wechat. Terkadang ada dosen atau teman yang mengirimkan amplop merah untuk kami. Nah, siapa yang cepat membuka amplop, maka dialah yang akan mendapatkan uang tersebut. Dalam kenyataannya, amplop merah membuat suasana lebih seru dan memperkuat interaksi.

Selama malam Tahun Baru Imlek 2016, lebih dari 420 juta orang memberikan atau menerima amplop dan sekitar 8 miliar amplop merah dikirim hari itu. Artinya, delapan kali lebih banyak daripada angka untuk malam tahun baru Cina 2015. http://www.chinadaily.com.cn

Amplop Merah WeChat adalah cara yang inovatif bagi orang untuk mengirim salam. Hal ini juga membuat orang-orang untuk menggunakan pembayaran Wechat dan perlu menghubungkannya dengan rekening bank (e-banking).

Bicara amplop merah sebagai tradisi Tiongkok, tidak terlepas dari anak-anak Aceh yang beberapa tahun terakhir mendapatkan beasiswa dari Pemerintah RRC. Setiap tahun, beberapa anak-anak Aceh menunggu dikirimkan hong bao yang menjadi tradisi dari Negeri Panda ini.

Sejauh pantauan beberapa mahasiswa yang kuliah di Negeri Cheng Ho ini, negara berpaham komunis ini tak pernah memaksakan atau mencoba menyuntikkan ideologinya kepada para mahasiswa. Mereka juga tak pernah mempermasalahkan keyakinan yang dianut pendatang ke negerinya. Mereka sangat menghargai orang-orang asing.

China Scholarship Council (www.csc.edu.cn) memberikan beasiswa pada tahun 2011 secara bersamaan kepada empat mahasiswa Aceh, kemudian tahun 2012 untuk satu mahasiswa, tahun 2013 juga untuk satu mahasiswa. Tapi pada tahun 2014 meningkat untuk sembilan mahasiswa, sama seperti tahun 2015. (Cakradonya Community).

Nah, dari 15 kuota beasiswa yang dialokasikan untuk Indonesia, sebagiannya didapatkan oleh anak-anak Aceh (www.china-embassy.org/indo). Saya mohon maaf bila ada yang tak terdeteksi.

Pada 24 Maret 2016, Rektor UIN Ar Raniry, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA dan rombongan mengadakan follow up kerja sama dengan universitas yang ada di Wuhan. Pertemuan itu disambut baik oleh Vice President (Prof Chen Jianquo) dan para Deputy of School of International Huazhong University of Science and Technology (HUST).

Hasil pertemuan itu melahirkan beberapa MoU antara UIN Ar-Raniry dan HUST. Jadi, kita tunggu saja berapa kuota Beasiswa “Amplop Merah” (Hong Bao) yang akan diberikan kepada Aceh tahun 2016? Mudah-mudahan beasiswa terus mengalir untuk anak-anak Aceh.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id