Menyoal Konvensi Parpol | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Menyoal Konvensi Parpol

Foto Menyoal Konvensi Parpol

PARTAI NasDem, Demokrat, PAN, dan Hanura menggelar konvensi untuk menjaring calon kepala daerah di Aceh. Warga Aceh yang ingin menjadi kepala daerah pun beramai-ramai mendaftar. Seriuskah parpol menggelar konvensi atau sekadar formalitas belaka? Mengapa  analis politik memandang ajang ini lebih menguntungkan masyarakat jika digelar secara serius dan apa pula untung dan ruginya bagi para kandidat? Serambi mengulasnya dalam liputan eksklusif berikut ini.

Aceh seakan demam konvensi. Partaipolitik beramai-ramai menggelar  konvensi, sebuah mekanisme penjaringan kepala daerah ala partai untuk Pilkada 2017 di Aceh. Ajang ini pun seakan menghipnotis banyak orang.  Lihat saja, para kandidat dengan latar belakang beragam beramai-ramai mendaftar ke partai NasDem. Mulai dari Irwandi Yusuf, Ahmad Farhan Hamid, hingga Tarmizi Karim tertarik berkompetisi di ring penjaringan kepala daerah tingkat satu. Bukan cuma ke Nasdem, Tarmizi Karim dan Ahmad Farhan Hamid juga mendaftar ke konvensi Partai Demokrat.  

Sementara jumlah balon bupati/wali kota yang sudah mendaftar ke lima partai tersebut tak terhitung jumlahnya. Menariknya, Ketua DPW Partai Golkar Aceh, TM Nurlif juga ikut mendaftar. Sebagai partai yang meraih kursi lebih banyak di DPRA dibanding NasDem dan punya 91 kursi di seluruh kabupaten/kota, Golkar pun tampaknya ‘kesemsem’ dengan konvensi pihak lain. Tidak mengherankan, hingga Jumat kemarin, sudah 4 balon gubernur dan 50-an balon bupati/wali kota yang mendaftar ke  NasDem. Sedangkan yang mendaftar ke Partai Demokrat, 2 balon gubernur dan 40-an balon bupati/wali kota. Ini belum termasuk yang mendaftar ke Hanura dan PAN.  

Kepada Serambi, sejumlah kandidat mengaku siap kalah di konvensi.  Mereka sadar politik begitu dinamis. Untung dan rugi merupakan risiko berpolitik. Seperti ulasan yang disampaikan Fajran Zain (Baca: Plus Minus  Konvensi), boleh jadi partai juga terjebak pada pragmatisme. Pemenang  kontes juga siap tidak diusung.

Buktinya, di tataran nasional, Dahlan Iskan yang pernah memenangkan konvensi capres Partai Demokrat, gagal diusung. Demokrat bahkan secara resmi tak mendukung siapa pun dalam Pilpres 2014. Boleh jadi pemenang konvensi ditinggalkan, begitu muncul tokoh lain yang lebih populis. Atau, seperti kata Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, T Iskandar Daod,  jika nilai yang diraih kader partai ‘tak jauh’ dari orang luar partai, maka pihaknya akan memilih kader partai untuk diusung sebagai calon kepala daerah.  

Tak semua disurvei
Ketua DPW Partai NasDem Aceh, Zaini Djalil SH mengatakan, meskipun baru berumur empat tahun, partai pimpinan Surya Paloh itu punya banyak kader yang bisa dicalonkan sebagai pemimpin bangsa. Namun, sebagai partai yang terbuka, NasDem memberikan kesempatan luas kepada masyarakat yang ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah untuk mendaftarkan ke NasDem. Pada saatnya nanti partai akan mensurvei calon mana yang punya kapabiltas dan elektabilitas tinggi. “Bukan karena kekurangan kader. Konvensi hanya sebuah ajang yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat yang punya potensi terbaik untuk maju melalui Partai NasDem,” kata Zaini kepada Serambi.

Yang pasti, kata dia, tidak semua calon mendaftar akan disurvei oleh NasDem. Nama-nama yang disurvei, antara lain berdasarkan hasil pleno kabupaten/kota dan provinsi, serta berdasarkan pertimbangan DPP. Sedangkan survei dilaksanakan oleh lembaga kredibel. “Kita sarankan, yang mendaftar adalah mereka yang punya potensi besar untuk menang.  Jangan sampai mendaftar ke NasDem karena ingin disurvei,” kata dia.

Namun, jika nantinya calon yang didukung NasDem sulit tembus lantaran minimnya dukungan partai politik lain, sang kandidat harus bisa menerima.  “Itu sebabnya,  jauh-hjauh hari kita ingatkan agar calon tersebut menjalin komunikasi politik dengan partai lain,” kata Zaini. Jika pun tetap sulit lolos, bisa saja NasDem mengalihkan dukungan ke calon berikutnya sesuai dengan tingkatan kapabilitas dan elektabilitas.

Sementara Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Aceh memastikan akan mengusung calon kepala daerah yang lolos tahapan survei yang dilakukan partai tersebut pada Pilkada 2017. Kandidat yang diusung bisa jadi berasal dari non-partai.  

“PD akan mengusung calon yang diinginkan masyarakat, yang pasti sudah menang survei,” kata Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, T Iskandar Daod kepada Serambi, Sabtu (2/4). Menurut dia, tujuan PD melakukan konvensi kepala daerah untuk mencari figur yang mampu melakukan percepatan pembangunan daerah sesuai dengan visi-misi partai.

Wakil Sekretaris DPD Partai Demokrat Aceh, Iqbal Farabi menambahkan, setiap nama kandidat yang mengikuti survei akan diumumkan secara terbuka kepada masyarakat. Jika Partai Demokrat mengusung calon sendiri pada Pilkada 2017, dipastikan di semua daerah–kecuali Banda Aceh—partai tersebut harus menggalang koalisi dengan partai lain, termasuk untuk Gubernur Aceh. “Itu akan menjadi bahan pertimbangan dalam proses politik oleh DPD,” kata Iqbal.

Kendati demikian, Iqbal mengungkapkan, tujuan utama Partai Demokrat bukan Pilkada 2017. Menurut dia, target utama konvensi untuk memenangkan Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 dan Pemilihan Presiden (Pilpres).

Konvensi main-main?
Namun, ada saja yang meyakini konvensi tersebut sekadar formalitas.  Target yang sesungguhnya disimpan di balik meja. Pemenang konvensi sudah disiapkan jauh-jauh hari atau boleh jadi tak diusung meski jadi pemenang, seperti halnya Dahlan Iskan yang pernah memenangkan konvensi Capres Partai Demokrat.

“Mungkin ada yang serius, tapi bisa jadi juga main-main. Kalau kursi di dewan sedikit, apalagi tidak punya kursi, mau dibawa ke mana nanti calon pemenang konvensi? Selain itu, tidak mudah bagi partai A bisa mendukung pemenang konvensi dari partai B. Jadi, konvensi ini terkesan lucu-lucu,” kata mantan Sekretaris DPW PAN Aceh, Tarmidinsyah Abubakar kepada Serambi. Belum lagi ada sebagian partai masih terikat dengan Koalisi Aceh Bermartabat, sebuah koalisi yang disponsori Partai Aceh.

Namun, partai yang menggelar konvensi mengaku serius dengan konvensi yang mereka gelar. “Ini konvensi serius, perintah DPP. Kita tidak main-main,” kata Ketua DPD Hanura Aceh Syafruddin Budiman.  Meskipun hanya mempunyai 28 kursi di 23 kabupaten/kota seluruh Aceh, Syafruddin mengaku komit mengusung siapa pun pemenang konvensi Hanura. Begitu pula Ketua DPW PAN Aceh, Anwar Ahmad, pihaknya juga mengaku siap mengusung siapa pun pemenang. “Hampir semua partai harus menjalin koalisi, sehingga peluang tidak diusung juga ada. Tapi, kita yakin, kalau elektabilitasnya tinggi, pasti akan mendapat dukungan luas untuk diusung,” kata Anwar Ahmad.(sak/mas) (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id