Wali Kota Diminta Cabut Larangan Konser Bergek | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Wali Kota Diminta Cabut Larangan Konser Bergek

Foto Wali Kota Diminta Cabut Larangan Konser Bergek

* Suaidi: Tak akan Kami Cabut

LHOKSEUMAWE – CV Aceh Mediatama Indonesia selaku event organizer (penyelenggara) konser Bergek pada Minggu (10/4) siang di Blang Mangat, meminta Wali Kota Lhokseumawe segera mencabut larangan konser tersebut. Soalnya, panitia sudah melakukan berbagai persiapan, mengantongi sejumlah izin, dan siap menjalankan aturan terkait penegakan syariat Islam. Sementara Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya yang menegaskan pihaknya tak akan mencabut larangan konser Bergek.

Seperti diberitakan kemarin, makin sulit bagi Zuhdi alias Adi Bergek untuk manggung di Aceh. Setelah rencana konsernya di Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, 3 April lalu ditolak ulama dan DPRK setempat, giliran Wali Kota Lhokseumawe, Kamis (7/4), membatalkan konser pelantun lagu Boh Hate Gadoh tersebut. Konser itu sedianya digelar di Lapangan Bulog Punteut, Blang Mangat, Lhokseumawe.

Direktur CV Aceh Mediatama Indonesia, Dedi Maulana, Jumat (8/3) menyesalkan keputusan Wali Kota Lhokseumawe membatalkan konser tersebut. “Kami dalam tekanan. Kami tak paham apa yang terjadi sebenarnya. Sikap itu diambil Wali Kota tanpa ada klarifikasi pada kami. Jadi, keputusan Wali Kota kami rasa tanpa ada alasan. Acaranya juga belum terselenggara,” ujar Dedi.

Selaku warga negara, lanjut Dedi, dalam mengadaakan pentas hiburan, ia sudah berupaya mengikuti seluruh aturan hukum dan taat pajak. “Karena itu, kami minta Wali Kota Suaidi Yahya mencabut larangan konser Bergek. Kami hanya cari sedikit rezeki di sini. Konser akan kami laksanakan sesuai syariat Islam. Apabila salah, nanti kami siap ditegur,” kata Dedi.

Dikatakan, pihaknya menggelar konser itu hanya untuk hiburan semata dan mencari nafkah, tanpa ada unsur politis. “Jadi, sekali lagi, saya dan penyelenggara selaku warga Lhokseumawe minta Wali Kota mencabut surat larangan tersebut,” ujarnya.

Apabila Wali Kota Lhokseumawe tak mencabutnya, tambah Dedi, maka pihaknya akan berembuk kembali sesama panitia tentang langkah lanjutan yang akan ditempuh. “Bila wali kota tetap tak mencabut larangan konser Bergek, maka untuk keadilan, Wali Kota harus membuat peraturan khusus yang isinya ke depan tak boleh ada lagi konser di Lhokseumawe,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Lokal KonserBergek, Andi Masta, meminta masalah ada solusinya dan konser bisa tetap digelar. “Bila harus dibatalkan, sangat disayangkan, karena panitia sudah rugi materi dan tenaga. Bila tetap dilarang, kami nilai Wali Kota tebang pilih. apalagi kami sudah ikuti prosuder yang ada. Saat konser, pria dan wanita akan kita pisah. Acaranya kita buat siang sampai sore, bukan malam. Mushalla pun kita siapkan. Surat izin pun sudah kita kantongi semua,” jelasnya.

Meski sampai Jumat (8/4) siang Wali Kota belum mencabut larangan itu, tambah Andi, persiapan untuk konser itu di Lapangan Punteut sudah mulai dilakukan.

 Tak akan cabut
Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya yang dikonfirmasi ulang kemarin, menegaskan, dirinya tak akan mencabut larangan konser Bergek. Sebab, menurutnya, surat larangan tersebut berawal dari hasil keputusan berbagai lapisan masyarakat di Blang Mangat, termasuk ulama yang menolak konser Bergerk.

“Kita keluarkan surat larangan itu agar nanti tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan kerugian yang lebih besar. Kita rasa semua pihak bisa mengerti maksud saya,” jelasnya.

Tapi, lanjut Suaidi, bila panitia tetap ingin menggelar konser Bergek, dirinya takkan mengambil sikap apa pun. “Tapi, apa pun yang terjadi nanti, kami lepas tangan. Kami sudah mengeluarkan surat larangan untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tak diinginkan,” timpal Wali Kota.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, Sudirman alias Haji Uma mengatakan, pembatalan konser bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Tapi, di tingkat nasional pembatalan oleh pemerintah karena berbagai alasan yang masuk akal.

“Kami menghormati keputusan ulama dan wali kota. Tapi ,ke depan harus ada regulasi yang jelas terkait penyelenggaraan even tersebut, termasuk harus mengatur pelaksanaa kampanye pilkada dan pemilu. Sebab, saat kampanye juga berkumpul laki-laki dan perempuan dalam satu lokasi. Hal ini agar tak terkesan pilih kasih dan dipolitisir dalam pemberian izin,” ujar Haji Uma.

Ia menyarankan, ke depan mesti ada lembaga sensor terhadap produk seni yang melibatkan ulama di dalamnya. Sehingga, ketika dipublikasi sudah layak dikonsumsi pasar dan masyarakat.

 Jangan lawan ulama
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (HMP-KPI) STAIN Malikussaleh Lhokseumawe, Khairul Rizal berharap panitia konser Bergek jangan melawan ulama dan tokoh masyarakat setempat. Sehingga nanti tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Ia menyayangkan sikap panitia konser Bergek yang sesumbar tetap akan menggelar konser Adi Bergek di Blang Mangat, Minggu (10/4). “Pernyataan itu sangat tak menghargai pemerintah dan tokoh masyarakat setempat, apalagi bila sampai melibatkan petugas negara (TNI),” ujarnya.(bah/jaf) (uri/aufik/arahdiba/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id