Mayat Penderita HIV-AIDS Dimumikan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mayat Penderita HIV-AIDS Dimumikan

Foto Mayat Penderita HIV-AIDS Dimumikan

ZAMNA IDYAN asal Aceh Utara, Mahasiswa Master of Nursing Science Chulalongkorn University, Bangkok, melaporkan dari Thailand

SAAT ini saya sedang dalam tahap menulis tesis. Beruntung sekali, saya mendapatkan pembimbing seorang profesor yang expert di bidang HIV-AIDS. Sembari mengerjakan tesis, saya diundang sang Profesor untuk terlibat dalam proyek besar penelitian tentang HIV-AIDS di Thailand yang disponsori Chulalongkorn University.

Penelitian ini dimulai Januari 2016 dan akan selesai Juni 2016, berpusat di Rumah Sakit Bangrak Hospital Bangkok. Berbeda dengan rumah sakit pada umumnya, rumah sakit ini khusus memberikan pelayanan kepada penderita dengan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual saja, seperti sifilis (raja singa/kencing nanah), herpes simplex kelamin, dan HIV-AIDS.

Selama penelitian, saya diundang magang di rumah sakit tersebut. Ini kesempatan langka bagi saya, menimba ilmu tentang HIV AIDS langsung dari pakar-pakar yang kompeten di bidangnya.

Banyak pengalaman juga ilmu baru yang saya dapatkan selama magang dan terlibat dalam riset ini. Salah satunya adalah bagaimana mengembangkan sebuah rumah sakit khusus untuk penderita HIV-AIDS, fasilitas dan peralatan yang dipakai, serta manajemen penyakit infeksi menular seksual yang berstandar internasional.

Pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika tim riset melakukan survei ke Wat Phra Bat Nam Phu, Lopburi, Thailand. Wat Phra Bat Nam Phu ini awalnya adalah kuil Buddha yang sejak tahun 1990 berubah fungsi menjadi tempat penampungan penderita HIV di Thailand. Letaknya di sebelah timur laut, berjarak 150 kilometer atau kira-kira tiga jam perjalanan darat dari Bangkok.

Wat Phra Bat Nam Phu saat ini menampung sekitar 500 penderita HIV positif. Penderita umumnya laki-laki, wanita tunasusila (WTS), perempuan yang tertular virus HIV dari suami ataupun pacar, kelompok dengan perilaku risiko tinggi (lesbian, gay, biseksual, transgender/LGBT), dan anak-anak yang tertular dari orang tuanya.

Di tempat penampungan ini, para penderita HIV-AIDS yang masih sehat disediakan rumah gratis. Untuk penderita yang butuh perawatan, disediakan ruang rawatan yang mampu menampung pasien sebanyak 150 bed. Fasilitas dan perawatan digratiskan kepada seluruh penderita. Di dalam area penampungan terdapat sebuah museum bernama Life Museum. Dari namanya, sekilas tak ada yang aneh dari museum ini. Namun, alangkah terkejutnya saat saya melangkah ke dalam museum ternyata isinya sangat bertolak belakang dari namanya life museum (museum kehidupan). Di dalam museum ini justru terdapat mayat-mayat yang diawetkan atau mumi yang dipajang di dalam kotak kaca. Mumi-mumi tersebut ada yang diletakkan dalam posisi berdiri, ada pula dalam posisi tidur. Lalu dibuat keterangan bahwa mumi-mumi itu adalah mayat-mayat pasien yang diawetkan setelah meninggal karena AIDS.

Awalnya saya tak yakin tentang itu. Pengunjung lainnya juga meragukannya. Namun, setelah mengonfirmasi ke kurator museum, saya baru percaya bahwa tubuh yang diawetkan itu adalah benar-benar tubuh mayat penderita yang meninggal karena HIV-AIDS.

Masih tampak jelas otot-otot mayat yang telah menghitam akibat proses pengawetan. Jenis kelamin mumi pun dapat dengan mudah dikenali pengunjung karena tubuh mumi tak ditutupi kain apa pun. Sebagian besar mumi adalah mantan kelompok dengan perilaku risiko tinggi tertular HIV-AIDS, yaitu mantan PSK dan kaum LGBT.

Pemandangan menyedihkan ketika saya saksikan satu mumi bayi berusia delapan bulan yang meninggal karena positif tertular virus HIV dari ibunya. Terbersit dalam pikiran saya, mengapa pihak museum tega mengawetkan mayat yang mereka sudah sangat menderita saat berjuang dengan penyakit HIV-AIDS semasa hidupnya?

Menurut profesor pembimbing saya, museum ini didirikan untuk memberi peringatan kepada masyarakat bahwa begitu berbahayanya HIV-AIDS yang hingga kini belum ada obatnya dan betapa menderitanya penderita HIV-AIDS semasa hidup dan matinya.

Pesan yang ingin disampaikan museum itu adalah untuk memberi efek jera, sehingga diharapkan akan mengurangi perilaku seks bebas dan perilaku risiko tinggi tertular virus HIV-AIDS di Thailand.

Data tahun 2014 dari UNAIDS (lembaga dunia yang menangani epidemik HIV) bahwa jumlah penderita di Thailand yang hidup dengan diagnosa HIV positif sangatlah tinggi, yaitu 490.000 orang.

Sebagian besar adalah orang yang berumur 15 tahun ke atas, yaitu 440.000 orang, anak-anak 0-14 tahun 6.900 orang. Sedangkan jumlah yang meninggal karena AIDS mencapai 19.000 kasus.

Di Rumah Sakit Bangrak, tempat saya magang, rata-rata melayani 500 pasien HIV positif per bulan. Begitupun, Thailand telah meluncurkan strategi nasional 2012-2016 untuk menekan kasus HIV-AIDS yang dikenal dengan program “AIDS Zero”. Program ini terdiri atas zero new HIV infection (tak ada kasus baru), zero AIDS-related deaths (tak ada kematian karena AIDS), dan zero discrimination (tak ada diskriminasi).  Di Aceh, hingga September 2014 tercatat 193 kasus AIDS (Depkes, 2014). Angka ini tak termasuk yang kasusnya tidak terdiagnosis. Jumlah kasus terbanyak di Aceh Utara, dengan 47 penderita HIV-AIDS. Mengingat tingginya kasus baru HIV-AIDS di Aceh, semua kita tak boleh lagi abai dan lalai, sebelum booming penderita AIDS seperti di Thailand, terjadi pula di Aceh.

Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/syrafi/orat/AG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id