DPRA Kaji Ulang soal RSU Regional | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

DPRA Kaji Ulang soal RSU Regional

Foto DPRA Kaji Ulang soal RSU Regional

* Terkait Pembangunannya Pakai Pinjaman ke LN

BANDA ACEH – Ketua DPRA, Muharuddin mengatakan Badan Musyawarah (Bamus) DPRA akan mengkaji ulang soal pinjaman dana dari luar negeri untuk pembangunan tiga RSU regional di Aceh, yaitu di Bireuen, Aceh Tengah, dan Meulaboh, serta RS kanker di RSUZA, Banda Aceh. Pasalnya, DPRA lebih menyetujui pembangunan itu menggunakan dana otonomi khusus (Otsus) Aceh. Adapun pembangunan RS regional di Langsa dan Tapaktuan akan didanai APBA dan APBN.   

Ketua DPRA mengatakan jadwal kaji ulang persoalan tersebut sesuai diputuskan dalam rapat Bamus Anggota DPRA, Jumat (8/4) siang. Menurutnya, dalam rapat itu diputuskan beberapa agenda akan dilakukan DPRA, yaitu reses dewan ke dapil masing-masing, 12-17 April 2016.

Keesokannya, 18 April 2016, melalukan pertemuan dengan tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA) soal hasil reses, baik hasil pantauan mereka terhadap pembangunan proyek 2015 maupun aspirasi masyarakat terhadap proyek 2016.

“Kemudian 22 April 2016, sidang paripurna untuk mendengar laporan keterangan  pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Aceh tentang program dan kegiatan APBA 2015 yang sudah dilaksanakan Gubernur,” kata Muharuddin kepada Serambi kemarin seusai rapat Bamus itu.

Agenda lainnya, kata Muharuddin, Bamus memutuskan perlu pengkajian ulang soal pinjaman dana luar negeri untuk pembangunan tiga RSU regional dan satu RSU kanker RSUZA. “Aceh setiap tahun menerima dana otsus Rp 7 triliun lebih, kenapa bukan dana itu saja yang akan digunakan untuk pembangunan keempat RS tersebut,” sarannya.

Dia menyebutkan untuk pembangunan keempat RS itu, setiap tahun bisa diplot Rp 500 miliar, seperti dialokasi untuk pembangunan penambahan infrastruktur Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, apalagi menurut Muharuddin, informasi didengarnya, jika pinjaman jadi untuk pembangunan keempat RS tersebut, maka masa pengembaliannya mencapai 15 tahun.

“Sedangkan sisa penerimaan dana otsus tinggal sebelas tahun lagi. Nilai pinjamannya juga mencapai Rp 1,2 – Rp 1,3 triliun. Meski suku bunganya berkisar antara 2,3 – 3,3 persen/tahun, tapi jika kita melihat ke depan, pinjaman itu akan menjadi beban bagi pemerintahan berikutnya bersama rakyat,” ujarnya.

Karena itu, kata Muharuddin, dalam rapat Bamus, anggota DPRA menyarankan sebelum jadwal sidang paripurna soal menyetujui pinjaman dana LN untuk pembangunan keempat RS tersebut, pihaknya mengaku terlebih dahulu akan menyerahkan kepada Komisi III DPRA. Pasalnya, komisi membidangi masalah keuangan itu yang akan mengkaji baik buruknya pinjaman tersebut, karena pembayaran pinjaman itu nanti menggunakan APBA, bukan APBN.

Proyek Geothermal
juga akan Dikaji
TERKAIT pelaksanaan proyek geothermal (pembangkit tenaga listrik dari panas bumi) Seulawah di Aceh Besar, kata Muharuddin juga akan dibahas dalam rapat Bamus soal pinjaman dana dari LN untuk kontruksi. Menurutnya, untuk pelaksanaan tahap awal, Pemerintah Aceh diberikan dana hibah Pemerintah Jerman sekitar 7 juta Euro. “Tapi untuk mendapatkan dana hibah itu, kita harus mengusulkan pinjaman dana kontruksinya sekitar 56 juta Euro, untuk penyelesaian pembangunan pembangkit listriknya yang ditargetkan akan menghasilkan daya listrik 55 MW,” jelas Muharuddin.

Begitu pun, kata dia, Anggota Bamus DPRA juga akan menyerahkan ke Komisi III untuk mengkaji secara mendalam, baik buruk pinjaman LN tersebut terhadap kelanjutan anggaran Aceh ke depan. (her) (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id