Geliat Islam di Hong Kong | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Geliat Islam di Hong Kong

Foto Geliat Islam di Hong Kong

OLEH RAHMALIA USMAN, Penyiar Radio Al Falah 93,8 FM Sigli, melaporkan dari Hong Kong

SAYA ke Hong Kong bersama enam teman hanya untuk menikmati liburan, mengingat Hong Kong merupakan salah satu negara di Asia dengan destinasi wisata dunia terfavorit.

Dulunya Hong Kong merupakan koloni Inggris. Sekarang, Hong Kong menjadi Daerah Administratif Khusus, satu negara dengan dua sistem di bawah naungan Negara People’s Republic of China.

Negara yang mayoritas penduduknya Tiongkok dengan bahasa resminya Inggris dan bahasa keduanya bahasa Cina (dialek Hokkin dan Canton) ini resmi diserahkan kepada Pemerintah Republik Rakyat Cina (RRC) pada 1 Juli 1997. Penyerahan Hong Kong dari Inggris kembali ke Cina diabadikan dalam bentuk monumen berbentuk bunga lotus (teratai) berwarna emas, dinamai the Golden Bauhinia Square.

Untuk menuju ke monumen ini kita bisa menempuh jalan darat menggunakan bus atau ferryboat dari Tsim Sha Tsui (Star Ferry Pier). Destinasi wisata selain kawasan Wan Chai, adalah The Avenue of Stars, Victoria Peak (The Peak) yang merupakan kawasan puncak dari Hong Kong. Dari The Peak ini kita bisa melihat seluruh Kota Hong Kong. Sedangkan di Lady Market, kita bisa membeli pakaian, aksesori, dan souvenir murah. Di kawasan Mong Kok ini masih banyak destinasi wisata yang sangat menarik tentunya.

Di negara yang multikultur dan sangat terbuka ini kita bisa berinteraksi dengan penduduknya, karena mereka mampu berbahasa Inggris dan Mandarin sekaligus. Kota kosmopolitan ini juga termasuk salah satu kota yang welcome terhadap para pendatang. Fasilitas publiknya nyaman, penduduknya pun ramah.

Negara ini didiami oleh berbagai pemeluk agama. Agama yang tumbuh dan berkembang di sini antara lain Budha, Tao, Kong Hu Cu, Kristen, Islam, Hindu, dan Sikh.

Mungkin kita tak pernah mengira bahwa di kota metropolitan ini Islam berkembang begitu pesat. Seiring dengan maju dan berkembangnya Hong Kong, Islam pun menggeliat dan berkembang pesat di sini. Saat ini jumlah pemeluk Islam di Hong Kong mencapai 250.000 jiwa.

Perkembangan Islam di Hong Kong juga dipengaruhi oleh kehadiran tenaga kerja wanita (TKW) atau buruh migran Indonesia (BMI). Para pekerja ini sebagian aktif ikut kegiatan di masjid, terutama di Masjid Kawloon. Setiap hari minggu masjid ini penuh dengan aktivitas umat Islam Indonesia yang datang dari berbagi pelosok Hong Kong, terutama muslimah yang berstatus TKW. Momen ini menjadi ajang berkumpul dan bersilaturahmi bagi sesama Indonesia.

Tujuan mereka adalah untuk belajar membaca Quran, mendengarkan ceramah agama. Penceramahnya sering didatangkan dari Indonesia. Di Hong Kong ada jatah libur sehari dalam seminggu bagi pekerja, termasuk asisten rumah tangga. Hari libur itu mereka isi dengan berbagai aktivitas. Misalnya, mendatangi masjid, ikut latihan keterampilan khusus seperti cara pengobatan alternatif (bekam). Mereka relatif sangat leluasa, bebas, tanpa perlakuan diskriminatif dan kecurigaan dari siapa pun dalam menjalankan kewajiban agamanya dibandingkan dengan minoritas muslim di negara lain.

Maraknya pengajian dan organisasi Islam membuat sebagian perantau lebih islami ketimbang di Tanah Air. Mereka yang sebelumnya tak bisa mengaji, kini bisa membaca Quran dengan lancar. Jika sebelumnya setengah-setengah menjalankan perintah Allah, kini makin giat.

Berdasarkan cerita seorang TKW, setiap ada kunjungan artis, pemuka agama, dan tokoh politik yang ingin mengadakan kegiatan di Hong Kong, sering TKW-lah yang mengorganisir even tersebut. Mayoritas mereka mahir berbahasa Inggris dan sedikit berbahasa Mandarin.

Selama beberapa hari di Hong Kong, kami hanya sempat mengunjungi tiga masjid. Salah satunya Nathan Road (Tsim Sa Sui), kawasan paling sibuk di Hong Kong. Di sini terdapat Masjid Kowloon dan Islamic Center. Ada juga madrasah tempat anak-anak mengaji di lantai dua, berdampingan dengan ruang shalat jamaah perempuan. Di masjid ini juga sering berkumpul jamaah dari berbagai negara.

Sebagian dari mereka merupakan komunitas Cina. Sisanya terdiri atas muslim Asia Tenggara, Timur Tengah, Pakistan, India, dan Afrika. Ketika kunjungan kami ke Hong Kong ini, salah satu teman asal Afrika malah mengucapkan dua kalimah syahadat di Masjid Kowloon ini.

Masjid lainnya, Jamiah, terletak di Shelley Street. Untuk menuju ke masjid tertua di Hong Kong tersebut, kami melewati tangga dan eskalator (tangga jalan) terpanjang di Hong Kong.

Kemudian, kami ke Masjid Ammar & Osman Ramju Sadick Islamic Centre di Oi Kwan Road-Wan Chai. Masjid ini memiliki keunikan tersendiri, berbentuk apartemen, delapan tingkat.

Di Hong Kong kita juga mendapati rumah makan halal yang mayoritas pemiliknya orang-orang Pakistan, Bangladesh. Penginapan di kawasan Kowloon pun sebagian besar milik orang Pakistan dan Bangladesh.

Dengan keleluasaan muslim beraktivitas serta berdirinya masjid-masjid di Hong Kong dan mendapat jaminan dari pemerintahnya, ini bukti bahwa Islam dapat hidup dengan aman di sini tanpa mendapat halangan dan tekanan dari warga nonmuslim.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/aufik/arahdiba/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id