Suami Korban RSIA Minta Dibayar Diat | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Suami Korban RSIA Minta Dibayar Diat

Foto Suami Korban RSIA Minta Dibayar Diat

* 200 Unta Atas Kematian Istri dan Anaknya

BANDA ACEH – Muslem Puteh (47) meminta pihak Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh membayar diat 200 anak unta sebagai denda karena pihak rumah sakit milik Pemerintah Aceh itu dinilai tak melayani istrinya Suryani binti Abdullah saat melahirkan di rumah sakit tersebut, sehingga istrinya itu bersama bayi mereka meninggal ketika sudah dirujuk ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA), Banda Aceh, Selasa (29/3) dini hari.

Muslem menyampaikan hal ini dalam pertemuan dengan Direktur RSIA yang baru, dr Amri Kiflan, Kadiskes Aceh, dr M Yani MKes, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh, dr Fachrul Jamal, SpAn KIC, Wakil Direktur Pelayanan RSUZA, Dr dr Azharuddin, dan beberapa pegawai lainnya saat mereka bertakziah ke rumah Muslem di Gampong Lampeune-eun, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Kamis (7/4) sore.

“Karena di Aceh menegakkan syariat Islam, maka saya meminta pihak rumah sakit membayar diat berupa 100 ekor anak unta untuk istri saya dan 100 anak unta untuk anak saya,” kata Muslem seraya meminta dukungan masyarakat Aceh dan ulama di Aceh agar Pemerintah Aceh dapat melaksanakan diat itu.

Selain itu, ayah dua anak itu juga meminta agar direktur rumah sakit dan dokter spesialis yang menangani istrinya itu agar diproses hukum karena dinilai tak menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Ia menyadari, kematian itu takdir Allah.

“Tapi ketika ada orang yang melanggar aturan tidak ditindak, saya tidak terima. Kalau institusi salah, ya salah. Kepada komite medik dan IDI agar berjalan di atas garis, jangan membela dokter yang salah karena satu koprs. Saya hanya mencari keadilan, saya tidak ingin menzalimi orang lain,” katanya dengan nada kesal.

Pada pertemuan itu, Muslem juga menyampaikan kekecewaannya terhadap pelayanan RSIA. Ia juga mengaku kecewa karena drg Erni Rahmayani yang ketika kasus itu menjabat Direktur RSIA, kemarin tak ikut melayat.

Sementara itu, Direktur RSIA Banda Aceh, dr Amri Kiflan MKes ketika menjawab wartawan membantah tudingan adanya geng di RSIA, seperti disampaikan Ketua Komisi VI DPRA, T Iskandar Daod sebagaimana diberitakan Serambi kemarin. Menurutnya, persoalan yang terjadi selama ini hanya tidak terkontrol dengan baik sistem kerja tenaga medis.

“Tidak ada geng, cuma mungkin perlu berbenah betul, tapi bukan geng-gengan tidak ada geng-gengan di dalam (rumah sakit). Mungkin hanya menyempurnakan sistem saja karena sistem selama ini tidak sempurna sehingga terkesan terkotak-kotak, bukan geng-geng,” katanya seraya berjanji akan menyelesaikan persoalan di RSIA secepatnya.

Dalam pertemuan itu, Kadiskes Aceh, dr Yani mengaku kurang mengerti soal diat. Selebihnya, dia menjelaskan bahwa Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah sudah bersikap atas kasus itu. Salah satunya mengantikan drg Erni Rahmayani dari Direktur RSIA kepada dr Amri. Selain itu, pihaknya saat ini sedang menunggu hasil audit investigasi komite medik RSIA dan IDI Aceh.

Sedangkan Ketua IDI Wilayah Aceh, dr Fachrul Jamal mengaku adanya kelalaian dari dokter spesialis dan tenaga medis lain dalam kasus tersebut. Dia mengatakan, sejak munculnya kejadian itu, pihaknya sudah menginvestigasi guna mencari permasalahan terjadi.

“Kita sudah pernah rapat dengan dokter spesialis yang menangani Suryani, direkturnya (drg Erni Rahmayani), dan teman-teman (dokter) yang menanggani Suryani di Rumah Sakit Zainoel Abidin. Kita (Komite IDI) perlu melakukan pertemuan lebih intens lagi untuk bisa menentukan orang bersalah bidang apa, karena ini perlu analisis dan informasi yang lengkap. Insyaallah bulan ini akan selesai,” janjinya. (mas) (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id