Korban Penikaman Merasa Dizalimi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Korban Penikaman Merasa Dizalimi

Foto Korban Penikaman Merasa Dizalimi

* YARA Dinilai tak Netral

BANDA ACEH – Korban pengeroyokan disertai penikaman yang menimpa dua pemuda, yakni Rifiil Abrar (22), warga Gampong Batoh, Kecamatan Luengbata dan M Rheja Farda (23), warga Lamteumen, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, merasa dizalimi dengan pernyataan pihak Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh.

Mereka menilai YARA tidak tahu seperti apa yang telah dilakukan anak-anak yang ‘dilindungi’ oleh lembaga bantuan hukum tersebut.

Kemudian, yang paling disayangkan, YARA tidak pernah meminta keterangan (sebagai pembanding) dari kejadian penikaman yang dialami kedua korban. “Kami sebagai korban penikaman yang dilakukan oleh delapan anak-anak yang mereka bela itu tidak pernah diminta keterangannya terkait kejadiannya seperti apa. Lalu, kami nilai tembakan YARA jelas-jelas menyudutkan Polresta, dengan melupakan persoalan kriminal yang sebenarnya terjadi,” kata Rifiil Abrar, kepada Serambi, Kamis (7/4).

Rifiil menjelaskan untuk mendapatkan keadilan terhadap apa yang mereka alami, dirinya bersama M Rheza, ditemani dua sepupunya Rian dan Mulia telah menuju ke Kantor YARA di Jalan Pelangi Nomor 88, Gampong Keuramat, Banda Aceh, Rabu (6/4).

Tujuan mereka ke sana, agar pihak YARA juga bisa mendengar keterangan mereka sebagai korban penggeroyokan dan penikaman yang dilakukan oleh 8 orang remaja di bawah umur itu, pada Minggu 27 Maret 2016 lalu, di Jalan T Umar, Banda Aceh, sekitar pukul 02.15 WIB.

Bukan, hanya sebelah pihak dari 8 pelaku yang berlindung dan legal melakukan aksinya itu di bawah Undang-Undang Perlindungan Anak. “Kami ke sana ikut membawa bukti penganiayaan yang kami alami, seperti foto setelah kami ditikam oleh 8 pelaku itu serta bukti lainnya. Namun, kami terkesan diabaikan,” kata Riffil.

Rheja meminta YARA tidak mengaburkan permasalahan kriminal penganiayaan dan penikaman yang mereka alami.

Ia juga menyanyangkan penyataan yang dipolitisir yang menyebutkan sepeda motor mereka hanya bersenggolan di depan Taman Putroe Phang, Banda Aceh, pada 27 Maret 2016, lalu para pelaku meminta maaf dan disambung adu jotoh oleh korban.

“Itu jelas sekali bohong. Kami hanya berdua, tidak mungkin bisa menantang jumlah mereka yang 8 orang. Berpikir logika saja. Dari segi umur kami memang lebih tua. Tapi, segi jumlah mereka lebih banyak, mana kami berani adu jotos. Fakta sebenarnya, delapan pelaku itu kami nasihati agar tidak ngebut di jalan. Tapi, mereka tak terima dan justru menunggui kami di sekitar traffic light di sekitar Jalan Seulawah, Seutui,” demikian Rheja. (mir) (uri/syrafi/orat/AG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id