Sampel Beras Rusak Diuji Lab Hari Ini | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Sampel Beras Rusak Diuji Lab Hari Ini

Foto Sampel Beras Rusak Diuji Lab Hari Ini

BANDA ACEH – Hari ini Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop UKM) Banda Aceh akan menyerahkan ke Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) setempat sampel beras “daur ulang” atau beras rusak yang dikeluhkan warga karena menyebabkan sakit perut setelah dikonsumsi. Beras tersebut akan diuji secara laboratoris.

“Sebelum dilakukan uji lab, kami tak berani berpendapat apakah beras yang menyebabkan warga sakit perut itu daur ulang atau campuran.

Setelah diuji lab, baru dapat kita pastikan dan mengambil langkah selanjutnya,” kata Kadisperindagkop dan UKM Banda Aceh, Rizal Junaedi SE kepada Serambi seusai melakukan rapat bersama Tim Pengawasan Peredaran Barang dan Jasa serta Elpiji, di ruang rapat dinas setempat, Rabu (6/4).

Tim yang berjumlah 12 orang itu terdiri atas unsur Disperindagkop dan UKM Banda Aceh, Yayasan Perlindungan Konsumen Aceh (YaPKA), Bagian Ekonomi Polresta Banda Aceh, Kejaksaan Negeri Banda Aceh yang juga dihadiri perwakilan dari Disperindag Aceh.

Rapat itu digelar untuk menindaklanjuti keluhan warga yang mengaku sakit perut setelah mengonsumsi beras rusak tersebut, sebagaimana diberitakan Serambi kemarin.

Sejauh ini, kata Junaedi, pihaknya belum tahu dari mana beras itu berasal. Namun, ia memastikan beras tersebut bukan berasal dari Aceh, khususnya Banda Aceh. “Maka dalam tim ini kita juga melibatkan penegak hukum untuk menyelidiki kasus ini. Apabila nanti sudah terbukti setelah dilakukan penyelidikan, maka selanjutnya tugas penegak hukumlah untuk menindaklanjutinya,” kata Rizal.

Junaedi mengimbau masyarakat harus cerdas dalam memilih beras dan langsung memeriksa kualitasnya dengan cara melihat langsung butiran beras tersebut. Pedagang juga harus teliti dalam memasok beras untuk dijual ke masyarakat.

“Konsumen harus lebih cerdas dan membuat perjanjian dengan pedagang. Apabila tidak sesuai, maka harus ada jaminannya. Misalnya, bisa ditukar dengan beras berkualitas bagus atau uang pembeli dikembalikan utuh,” kata Rizal.

Sementara itu, Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Zulkifli SH mengatakan, polisi tetap akan menyelidiki indikasi beras daur ulang yang beredar di pasaran dan berkoordinasi dengan instansi terkait. “Bagaimanapun, mereka lebih ahli dan lebih menguasai soal ini,” sebut Zulkifli. Kapolresta juga meminta agar konsumen yang merasa dirugikan segera melapor ke pihaknya.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, Ir Basri A Bakar MSi mengatakan, beredarnya beras yang disinyalir sebagai beras daur ulang–seperti diberitakan Serambi kemarin–jelas perbuatan yang melanggar hukum, apalagi terkait dengan keamanan pangan.

Ia menduga, pelaku yang mendaur ulang beras tersebut sengaja ingin mendapatkan keuntungan besar dengan cara-cara tidak manusiawi. Hal semirip ini pun pernah terjadi dua tahun lalu dalam bentuk beras plastik yang juga bikin heboh republik ini.

“Maka polisi perlu mengusutnya. Jangan sampai masyarakat trauma dengan kebutuhan pokoknya sehari-hari. Pelakunya harus dihukum setimpal,” kata Kepala BPTP Aceh, Ir Basri A Bakar MSi kemarin. BPTP, menurut Basri, telah berupaya mendongkrak produksi gabah melalui sentuhan teknologi, sehingga Aceh saat ini sudah surplus beras. Tapi di pihak lain masih ada pihak yang memperkeruh suasana dengan mempermainkan hukum. “Kami akan berusaha mendapatkan sampel beras untuk diteliti, apakah mengandung bahan berbahaya atau tidak. Tentu ini juga tanggung jawab BPOM untuk memastikan beras tersebut aman atau tidak bila dikonsumsi,” ujarnya.

Basri A Bakar menambahkan, pihaknya belum bisa langsung menyimpulkan penyebab mengapa beras yang diduga hasil daur ulang itu cepat basi dan berbau. “Harus dilakukan analisis mutu fisik, kimia, dan parameter lain,” saran Basri A Bakar.

Salah satu kemungkinan lain di luar unsur kesengajaan adalah beras tersebut hasil giling dengan kadar air yang masih tinggi karena panen musim hujan, sehingga beras mudah tengik, berjamur, dan berkapur yang berakibat air cuciannya sulit jernih. “Adanya kontaminasi karena kadar air tinggi menyebabkan beras cepat basi dan orang yang memakannya bakal sakit perut,” demikian Basri A Bakar. (una/mir/dik) (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id