Syauki Butuh Biaya Pengobatan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Syauki Butuh Biaya Pengobatan

Foto Syauki Butuh Biaya Pengobatan

* Menderita Penyempitan Anus

* Pasien tak Ditanggung BPJS

BANDA ACEH – Bayi bernama Syauki Zahwan (9 hari) yang terlahir dalam kondisi mengalami penyempitan anus (atresia ani) dan pembengkakan kepala (hydrochepalus), dan saat ini dirawat di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, ternyata tidak dijamin oleh BPJS. Alasannya, karena bayi tersebut belum 14 hari terdaftar sebagai peserta BPJS. Karena aturan BPJS, peserta baru akan dijamin setelah 14 hari sejak didaftarkan. Sementara saat ini, orang tua pasien (Romansyah dan Agustina) yang merupakan keluarga miskin asal Aceh Timur itu tidak memiliki biaya untuk membayar perawatan anaknya itu.

Orang tua bayi tersebut, Romansyah, Sabtu (2/4) menceritakan, anaknya lahir di RS Cut Nyak Dhien Langsa pada Rabu, 23 Maret 2016 dalam kondisi menderita Hydrochepalus. Kemudian dirujuk ke RSUD Langsa, di situlah diketahui bahwa selain menderita pembesaran kepala, anus bayi itu hanya sebesar lubang jarum, sehingga ia tidak bisa buang air besar. Sehingga dua hari kemudian pasien ini pun dirujuk ke RSUZA Banda Aceh.

Menurut Romansyah, karena anaknya didaftar sebagai peserta BPJS sehari setelah lahir, maka baru bisa aktif sebagai peserta setelah 14 hari setelah pendaftaran. “Karena itu, semua biaya perawatan Syauki, mulai dari Langsa hingga ke RSUZA harus saya tanggung dengan biaya pribadi,” katanya. Hingga kemarin, Romansyah yang berstatus pengangguran itu, sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp 25 juta.

“Saat kandungan istri saya berusia tujuh bulan, saya sudah mendaftar ke BPJS Langsa. Namun petugas BPJS mengarakan saya agar mendaftar setelah bayi lahir saja. Saat bayi sudah lahir dan sedang dalam perawatan, kami malah disalahkan karena tidak mendaftar saat kehamilan,” ujar Romansyah.

Saat ini Romansyah mengaku bingung untuk biaya perawatan anaknya, apalagi jika harus operasi, dengan biaya ratusan juta. Sebab uang yang sudah ia keluarkan juga hasil pinjaman dari kerabat.

Sementara Wakil Direktur RSUZA, dr Azharuddin SpOT (K) Spine FICS mengatakan, Syauki menderita dua kasus penyakit yang harus ditangani dengan pembedahan. Menurutnya, pada anus bayi Syauki terdapat saluran yang tidak semestinya ada. “Namun kondisinya tidak emergency, karena tidak macet,” jelasnya.

Azharuddin mengatakan, untuk mengurangi beban keluarga, pihak RS akan berkoordinasi dengan Baitul Mal, untuk membantu keluarga pasien.

Sementara Anggota DPD RI, Sudirman (Haji Uma) yang turut mendampingi keluarga ini, menyayangkan banyaknya kekurangan dalam aturan BPJS. “Contohnya kasus ini, walaupun sudah mendaftar sebagai peserta, namun tidak bisa dijamin oleh BPJS sebelum 14 hari. Aturan seperti ini seharusnya bisa direvisi. Sehingga tidak mengganggu pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Kepala BPJS Kesehatan Aceh, Dra Rita Masyita Ridwan yang dikonfirmasi, mengatakan bahwa sesuai aturan, memang peserta yang baru mendaftar baru bisa aktif dan diakui setelah 14 hari. Ia menambahkan, jika mereka melanggar aturan 14 hari itu, maka akan menjadi temuan oleh auditor di kemudian hari.

“Aturannya, bagi ibu hamil, di usia kandungan tujuh bulan sudah bisa mendaftarkan bayi ke BPJS kesehatan. Sehingga jika ada apa-apa dapat langsung dijamin. Namun kalau pengakuan ada petugas yang menganjurkan mendaftar setelah melahirkan, saya tidak bisa memberi komentar. Karena belum konfirmasi ke BPJS Langsa,” ujar Rita, kemarin.(mun) (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id