Bidan Merasa Dipojokkan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Bidan Merasa Dipojokkan

Foto Bidan Merasa Dipojokkan

MEWAKILI teman-temannya yang berdinas di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh, seorang bidan senior menyatakan bahwa posisi mereka sangat terpojok dalam pemberitaan Serambi kemarin, karena seolah-olah bidan tidak melaporkan apa-apa kepada dr Ulfah Wijaya Kesumah menyangkut kondisi gawat pasien Suryani sebelum akhirnya dirujuk ke RSUZA Banda Aceh dan meninggal di sana.

“Biarlah nanti tim penyidik yang membuktikan apa yang sebenarnya terjadi dan di mana Dokter Ulfah berada saat itu,” ujar bidan tersebut yang tak mau namanya disiarkan.

Tapi ia mengaku tahu di mana Dokter Ulfah saat itu dan baginya itu rahasia besar yang tak perlu diungkap ke media. Dari bidan ini pula Serambi mendapat informasi kemarin bahwa benar pihak Polresta Banda Aceh sudah mengirim personel reserse kriminal ke RSIA untuk mengusut kasus yang menyebabkan Suryani dan bayinya meninggal dalam proses persalinan, Selasa (29/3).

Sebelumnya, kepada Gubernur Aceh, Direktur RSIA Banda Aceh, drg Erni Rahmayani menyatakan, pasien Suryani yang hendak bersalin tidak tertangani maksimal karena dokter spesialis yang sedianya bertugas, yakni dr Ulfah Wijaya Kesumah SpOB, sedang mengalami diare.

“Pada saat ditelepon untuk operasi, Dokter Ulfah dalam kondisi kurang sehat karena diare. Ketika dihubungi dokter spesialis lainnya, mereka juga mempunyai kegiatan lain karena dalam jam tugas,” kata Erni kepada Gubernur Zaini yang menyidak rumah sakit itu, Rabu siang.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang dimaksud Erni sedang memiliki kegiatan lain di luar RSIA saat itu adalah dr T Rahmad Iqbal SpOG dan dr Serida Aini SpOG.

Nah, keterangan inilah yang dianggap aneh oleh Fadhil Rahmi Lc dari Ombudsman Perwakilan Aceh. Soalnya, Ombudsman sudah sejak lama mendapat data bahwa dr Serida Aini tak aktif lagi di RSIA.

“Karena jasa medisnya belum dibayar beberapa bulan, maka Dokter Serida menyurati Direktur RSIA untuk tidak bertugas lagi di rumah sakit tersebut. Jadi, apabila dikatakan dia tidak berada di rumah sakit saat Suryani hendak bersalin, itu memang benar. Tapi itu sudah sejak 17 Desember 2015 berdasarkan surat yang sudah beliau kirimkan kepada Direktur RSIA,” ungkap Fadhil Rahmi.

Ia sebutkan, dr Serida Aini SpOG bekerja di RSIA sejak akhir Mei hingga medio Desember 2015. Setelah itu, ia ke luar karena pembayaran uang jasa medisnya tidak lancar.

Dengan fakta seperti itu, berarti hanya tinggal dr Teuku Rahmat Iqbal SpOG yang diharapkan bisa menangani proses persalinan Suryani yang janinnya sudah meninggal di kandungan karena terminum air ketuban.

Tapi Teuku Rahmat Iqbal SpOG yang ditanyai Serambi kemarin petang menjelaskan bahwa saat pasien Suryani datang ke RSIA pada Senin (28/3) sekitar pukul 06.00 WIB, masih dia yang bertugas jaga.

Saat itu kondisi pasien masih cukup stabil, setelah diobservasi dan diawasi sesuai prosedur tetap (protap). Lalu, pukul 08.00 WIB, jam tugas Rahmad Iqbal pun berakhir. Ia berganti shift jaga dengan dr Ulfah Wijaya Kesumah SpOG.

“Begitu ganti shift pukul 08.00 WIB, saya sudah off. Lalu sore harinya pasien mengalami trouble dan harus dirujuk ke RSUZA. Waktu itu, saya tidak bertugas, karena memang bukan jam dinas saya, melainkan jam dinas dokter lain,” tegas Rahmat Iqbal SpOG.

Sementara itu, Direktur RSIA, drg Erni Rahmayani MPH yang ditanyai wartawan mengatakan, penanganan yang dilakukan dokter spesialis terhadap Suryani hingga dirujuk ke RSUZA sudah sesuai prosedur.

Menurutnya, setiap tindakan yang dilakukan bidan atas instruksi dokter spesialis. Hanya saja, ulang Erni, pada saat penanganan pasien Suryani, dokter spesialis yang sedianya bertugas dalam keadaan kurang sehat karena diare.

“Tindakan yang dilakukan oleh bidan atas instruksi dokter spesialis. Walaupun wujudnya dokter tidak di samping pasien, tapi segala tindakan yang dilakukan bidan atas instruksi dokter spesialis,” ucapnya, Rabu.

Saat ditanyai lagi kemarin sore tentang desakan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) yang meminta kepada Gubernur Aceh agar ia dicopot dari jabatan Direktur RSIA, drg Erni menanggapinya dengan santai.

“Saya siap menerima konsekuensi apabila terdapat kesalahan dari rumah sakit yang saya pimpin. Bahkan diproses secara hukum pun saya siap apabila terbukti ada kesalahan dalam memberikan pelayanan,” ujarnya.

Ia pertegas bahwa rumah sakit itu milik Pemerintah Aceh. “Saya hanya sebagai pengelola rumah sakit. Wewenang Pak Gubernurlah tindakan apa yang akan diambil. Saya sudah menjalankan tugas sesuai dengan tupoksi,” ucapnya. (dik/mas/mir) (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id