Ombudsman: Beri Sanksi Pimpinan RSIA | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ombudsman: Beri Sanksi Pimpinan RSIA

Foto Ombudsman: Beri Sanksi Pimpinan RSIA

aceh.Uri.co.id, BANDA ACEH – Kepala Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Aceh, Dr Taqwaddin Husin MH menyatakan sangat prihatin atas keterlambatan penanganan ibu bersalin di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh yang berujung pada kematian Suryani dan bayinya, warga Desa Lambatee, Kecamatan Darul Kamal, Aceh Besar, Selasa (29/3/2016).

“Menurut saya, Pak Gubernur harus segera menuntaskan permasalahan yang terjadi di rumah sakit tersebut. Ganti pimpinan, pejabat, dan dokter yang tidak melayani publik dengan optimal,” ujar Kepala ORI Perwakilan Aceh itu.

Taqwaddin juga menyarankan Gubernur Zaini Abdullah segera mengevaluasi dan memutasi pimpinan atau pejabat RSIA yang patut diduga tak peduli dan tidak memberi pelayanan prima kepada pasien (dalam hal ini Suryani), sehingga nyawa ibu hamil itu tak tertolong saat melahirkan secara caesar di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh untuk mengeluarkan janinnya yang duluan meninggal dalam kandungan.

Pengabaian kewajiban medis, apa pun dalihnya, lanjut Taqwaddin, merupakan maladministrasi dan malapraktik berat yang harus diberi sanksi administratif dan sanksi lainnya. Dalam konteks dokter dengan pasien, ulas Taqwaddin, seharusnya terjadi hubungan hazard verbentennis, yaitu perjanjian berisiko tinggi yang mengharuskan dokter dan paramedis bekerja dengan sungguhsungguh, profesional, dan serius, karena jika abai atau keliru bisa menimbulkan akibat yang fatal, yakni kematian.

“Makanya pihak rumah sakit, terlebih lagi rumah sakit milik pemerintah, harus memberikan pelayanan sebaik mungkin. Kejadian pengabaian seperti yang terjadi terhadap pasien Suryani merupakan bukti buruknya pelayanan RSIA akhir-akhir ini,” kata Taqwaddin.

Menurutnya, ada sebab tertentu mengapa hal ini bisa terjadi dan itu juga sangat perlu didalami Gubernur Aceh. “Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab BPJS dan lain-lain. Misalnya, terkait dengan hak-hak dokter dan paramedis yang lambat atau abai dibayarkan oleh pimpinan RSIA. Kami berharap Gubernur Aceh segera membenahi manajemen RSIA untuk memulihkan citranya yang dirusak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” demikian Dr Taqwaddin.

Sebelumnya, saat ditanyai Gubernur Zaini seusai inspeksi mendadak (sidak) di RSIA, Rabu (30/3/2016) siang, Direktur RSIA Banda Aceh, drg Erni Ramayani MPH, mengaku tak ada lagi masalah (tunggakan) jasa medis di rumah sakit yang ia pimpin itu.

Keterlambatan dalam penanganan proses bersalin Suryani pun, menurutnya, juga bukan disebabkan keengganan dokter menangani pasien gara-gara jasa medisnya terlambat dibayar.

Gubernur Zaini bahkan meninggi nada suaranya ketika ditanya soal jasa medis yang masih bermasalah di rumah sakit tersebut. Doto Zaini membantah adanya persoalan itu.

Begitupun, ia mengingatkan dokter agar dalam memberi pelayanan kepada masyarakat harus mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, bukan karena uang. “Tiap dokter yang diberi tanggung jawab itu harus bekerja bukan karena uang, tapi karena kemanusiaan,” imbuh dokter jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) ini. (#) (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id