Zaini Segera Bereskan RSIA | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Zaini Segera Bereskan RSIA

Foto Zaini Segera Bereskan RSIA

* GeRAK: Kasus Suryani Catatan Hitam Pemerintahan ‘Zikir’

BANDA ACEH – Kejadian meninggalnya Suryani dan bayinya, warga Desa Lambatee, Kecamatan Darul Kamal, Aceh Besar yang diduga akibat terlambat penanganan medis saat berada di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh, menyita perhatian banyak pihak, termasuk Gubernur Aceh, Zaini Abdullah. Gubernur berjanji akan mendalami kasus itu dan akan membereskan berbagai persoalan di RSIA.

Setelah berita kematian ibu dan anak asal Aceh Besar itu merebak di media massa, Gubernur Zaini, Rabu (30/3) langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke RSIA. Gubernur Zaini datang bersama Asisten III Setda Aceh, Syahrul Badruddin sekira pukul 12.30 WIB.

Kedatangan Gubernur Zaini disambut Direktur RSIA Banda Aceh, drg Erni Rahmayani. Sesampai di rumah sakit yang bersebelahan dengan Lapangan Blangpadang tersebut, Zaini langsung meninjau ruang bersalin yang digunakan Suryani menjelang persalinan.

Setelah meninjau ruang bersalin, Gubernur Zaini melakukan pertemuan tertutup di aula rumah sakit tersebut dengan Direktur RSIA dan dokter yang menangani pasien yaitu dr Ulfah Wijaya Kesumah SpOG. Pada pertemuan itu, Doto Zaini menanyakan proses penanganan medis terhadap Suryani yang hendak melahirkan anak ketiganya.

Seusai pertemuan yang berlangsung sekira 20 menit itu, Gubernur Zaini kepada wartawan tidak banyak memberi keterangan. Menurutnya, hingga kemarin ia belum menerima informasi akurat mengenai kronologis kejadian. “Saya tidak bisa memberi keterangan karena masih simpang siur keterangan yang saya dapat,” katanya dalam konferensi pers.

Karena itu, dia meminta tim komite medik dan tim medis yang menanangani pasien untuk membuat kronologis peristiwa dengan benar dan penuh tanggung jawab. Kronologis tersebut akan menjawab penyebab kematian Suryani dan bayinya dan memudahkan dirinya mengambil sikap untuk memberikan sanksi.

“Nanti semua bergantung pada hasil (kronologis) itu dan kita akan melihat tindakan apa yang perlu kita ambil. Kalau ini disebabkan oleh kelalaian dari petugas medis tentu kita akan mengambil tindakan tegas. Tapi kalau misalnya ada tanda-tanda dalam sistem penanganan pasien tidak terdapat kesalahan, tentu akan kita cari sebab akibat meninggalnya pasien dan bayinya,” ujar Zaini.

Nada bicara Doto Zaini sedikit meninggi ketika ditanya adanya persoalan jasa medis yang terjadi di rumah sakit tersebut. Doto Zaini membantah adanya persoalan itu. Ia mengingatkan dokter agar dalam memberi pelayanan kepada masyarakat harus mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, bukan karena uang. “Tiap dokter yang diberi tanggung jawab itu harus bekerja, bukan karena uang tapi karena kemanusiaan,” ujarnya.

Direktur RSIA Banda Aceh, Erni Rahmayani kepada wartawan mengatakan, penanganan yang dilakukan dokter spesialis terhadap Suryani hingga dirujuk ke RSUZA sudah sesuai prosedur. Menurutnya, setiap tindakan yang dilakukan bidan atas instruksi dokter spesialis.

Hanya saja, kata Erni, pada saat penanganan pasien, dokter spesialis dalam keadaan kurang sehat karena sedang mengalami diare. “Pada saat ditelepon untuk operasi, beliau (dr Ulfah Wijaya Kesumah) dalam kondisi kurang sehat karena diare. Ketika menghubungi dokter spesialis lainnya, mereka juga mempunyai kegiatan lain karena dalam jam tugas,” katanya.

Menurut laporan, dokter spesialis kebidanan dan kandungan di rumah sakit milik Pemerintah Aceh tersebut hanya tiga orang, yaitu dr Ulfah Wijaya Kesumah SpOG, dr T Rahmad Iqbal SPOG, dan dr Serida Aini SpOG. Tapi saat kejadian itu, dr Rahmad dan dr Serida tidak berada di rumah sakit.

“Semua tindakan yang dilakukan, termasuk memeriksa kondisi pasien itu terlaporkan melalui telepon atas instruksi dr Ulfah. Tindakan yang dilakukan oleh bidan atas instruksi dokter spesialis. Walaupun wujudnya dokter tidak di samping pasien, tapi segala tindakan yang dilakukan bidan atas instruksi dokter spesialis,” ungkapnya.

Secara terpisah, Gerakan Antikorupsi (GeRAK) Aceh mendesak Gubernur Zaini Abdullah mengevaluasi kinerja di RSIA Banda Aceh. Gubernur juga diminta berani mencopot oknum dokter atau perawat yang tidak memberikan pelayanan dengan baik saat Suryani dirawat di rumah sakit itu, dua hari lalu.

Koordinator GeRAK Aceh, Askhalani mengatakan, mengacu pada pengakuan Muslem (47), suami almarhumah Suryani yang menceritakan buruknya pelayanan di RSIA–seperti diberitakan Serambi kemarin–sungguh sangat miris. “Jika benar penyebab meninggalnya Suryani dan bayinya karena pelayanan buruk di RSIA, maka ini menjadi catatan hitam dalam sejarah kepemimpinan Zaini-Muzakir (Zikir). Jika ini terus dibiarkan, tak menutup kemungkinan akan terjadi lagi,” kata Askhalani.

Kasus tersebut, sambungnya, juga telah mencederai rasa keadilan bagi masyarakat Aceh. GeRAK juga mengklaim, kejadian tersebut merupakan salah satu tindakan inkonstitusional yang dilakukan pemerintah dalam melayani kebutuhan publik di bidang kesehatan. “Pelayanan dan mekanisme sebagaimana diatur UU menjadi prioritas bagi pihak rumah sakit. Selama ini, pelayanan di RSIA tidak sesuai dengan SOP dan ini harus menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Aceh,” sebut Askhalani.

GeRAK juga menuding, kesan pelayanan ala kadar atau tidak sesuai prosedur di RSIA adalah buntut dari aksi demonstrasi yang dilancarkan pegawai, perawat, dan dokterRSIA pada 22 Desember 2015 atas desakan untuk membayar dana insentif. “Jika benar begitu, maka ini adalah salah satu faktor di mana kinerja awak RSIA lebih mementingkan upah dari pada pelayanan kepada publik. Ini sebagai bukti, bahwa kinerja petugas RSIA bergeser dari tujuan dan harapan masyarakat Aceh,” jelas Askhalani.

Selain mendesak Gubernur mengevaluasi kinerja RSIA dan mencopot petugas yang tidak memberi pelayanan dengan baik, GeRAK juga mendesak DPRA yang membidangi masalah kesehatan untuk proaktif melakukan pengawasan sebagaimana tugas dan fungsi dewan. GeRAK meminta DPRA untuk intens melakukan pengawasan khusus di sektor kesehatan. “Anggaran untuk kesehatan terus meningkat, tapi pelayanan yang baik belum juga kunjung didapat. Ini menunjukkan adanya kesalahan terstruktur yang harus segera dievaluasi,” pungkas Askhalani.

Tanggapan juga disuarakan Koordinator Solidaritas Perempuan Antikorupsi (SPAK) Aceh, Yulindawati. Ia juga mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan tegas terhadap rumah sakit tersebut. SPAK juga meminta Gubernur Aceh melakukan investigasi dan mengevaluasi seluruh kinerja rumah sakit.

“Kami mengimbau masyarakat agar berani membuat laporan terhadap rumah sakit yang memberikan pelayanan buruk dan melaporkannya ke pihak berwajib. Kami siap mendampingi dan mengadvokasi para korban. Polisi agar merespons kejadian ini walau tanpa pengaduan dari korban,” demikian Yulindawati.(mas/dan) (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id