Dai Desa Terpencil tak Menetap di Lokasi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dai Desa Terpencil tak Menetap di Lokasi

Foto Dai Desa Terpencil tak Menetap di Lokasi

* DSI Aceh Segera Evaluasi

KUALASIMPANG – Dinas Syariat Islam Aceh yang melakukan tinjauan lapangan selama tiga hari (28-30 Maret 2015) ternyata menemukan sebagian besar tenaga dai (pendakwah) di Aceh Tamiang, tidak menetap di lokasi penugasannya. Sehingga kontrak mereka terancam tak diperpanjang.

Kepala UPTD Penyuluhan Agama Islam dan tenaga Dai, Dinas Syariat Islam Aceh, Drs H Nasruddin Ibrahim MAg, Rabu (30/3) mengatakan, pihaknya turun ke Tamiang sebelum melakukan perpanjangan kontrak 33 dai yang ditugaskan di kawasan perbatasan Aceh-Sumut ini. “Hasil tinjauan dan masukan masyarakat kepada kami, sebagian besar dai ternyata tidak tinggal di desa terpencil tempat ia ditugaskan,” katanya.

Padahal keberadaan mereka di tengah masyarakat sangat dibutuhkan, dan menentukan capaian kerja pembinaan umat, sesuai tujuan program,” katanya. Terlebih lagi, Aceh Tamiang merupakan perbatasan antara Aceh dengan Sumatera Utara, sehingga rawan terjadi pendangkalan akidah.

Sementara, dalam pertemuan dengan para dai, mereka juga menbgeluhkan honor mereka yang belum dibayar selama tiga bulan sejak Januari hingga Maret 2016. “Untuk gaji mereka, akan kami bayarkan secara rapel untuk tiga bulan,” jelas Nasruddin.

Menurutnya, gaji mereka memang terbilang minim dibandingkan tugas yang diemban. Masing-masing dai hanya diberi honor Rp 2,8 juta per bulan ditambah uang transportasi sebesar Rp 300 ribu. “Namun kami berusaha setiap tahun ada kenaikan honor bagi para dai. Sehingga tidak menjadi kendala bagi mereka dalam beraktivitas,” ujarnya.

Untuk efektifitas program dai desa terpencil ini, ia berharap masyarakat turut memantau kinerja dai. “Apabila ada dai yang tidak aktif di masyarakat, segera laporkan kepada DSI kabupaten selaku kordinator, atau DSI Aceh untuk diberi peringatkan. Jika sudah diingatkan tapi masih membangkang, maka kami akan menonaktifkan dai yang bersangkutan,” tegasnya.

Selain mengevaluasi para dai, Dinas Syariat Islam Aceh juga melakukan pertemuan dengan para mualaf yang memiliki usaha di Aceh Tamiang. Usaha mereka ini akan diverifikasi, dan yang lolos verifikasi akan diberi tambahan modal usaha dari Baitul Mal Aceh.

“Dari Aceh Tamiang mengajukan 10 nama mualaf yang memiliki usaha. Namun hasil verifikasi kami, baru tiga mualaf yang memiliki usaha dan akan ditindaklanjuti dengan pemberian modal usaha oleh Baitul Mal Aceh,” ujarnya.(md) (uri/syrafi/orat/AG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id