Meninggal Saat Melahirkan, Ibu dan Anak Dikubur Satu Liang | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Meninggal Saat Melahirkan, Ibu dan Anak Dikubur Satu Liang

Foto Meninggal Saat Melahirkan, Ibu dan Anak Dikubur Satu Liang

HUJAN tangis mengiringi pemakaman Suryani binti Abdul Wahab dan anaknya, Selasa (29/3) siang. Suryani adalah warga Desa Lambatee, Kecamatan Darul Kamal, Aceh Besar yang meninggal dunia usai melahirkan anak ketiganya, Selasa (29/3) yang juga meninggal dunia.

Suryani mengembuskan napas terakhir usai perjuangan panjang melahirkan buah hatinya melalui bedah caesar di RSUZA Banda Aceh, Selasa (29/3) dini hari. Bayi yang dilahirkannya sudah tak bernyawa. Tak lama berselang, sang ibu pun menyusul.

Kepergian ibu dan anak tersebut menyisakan selaksa kisah pilu. Kemarin, di sela-sela pelaksanaan fardhu kifayah, suami Suryani, Muslem Puteh (47) bercerita panjang lebar bagaimana kronologis meninggalnya istri tercinta. Kepada wartawan, Muslem mengaku istrinya pertama dirawat dan rencana bersalin di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh. Muslem membawa istrinya ke RSIA, Senin (28/3) sekira pukul 06.00 pagi.

“Sejak berangkat, istri saya memang sudah sakit dari rumah, dia sudah tidak tahan. Kami peserta BPJS, sasampai di RSIA kami langsung mendaftar dan masuk ruangan. Para perawat memperlakukan kami seperti biasa, sesuai prosedur dan administrasi,” kata Muslem.

Meski sudah tiba di rumah sakit, namun Muslem mengaku istrinya tak mendapat perawatan layaknya orang yang mau melahirkan. Sejak pukul 06.00 hingga 13.00 WIB, tidak ada satupun dokter yang menyambangi istrinya. Tak tahan melihat kondisi istri, akhirnya Muslem mendatangi perawat dan menanyakan di mana dokter. “Tapi mereka bilang ‘bapak tidak perlu berhubungan dengan dokter, karena kita di sini mempunyai administrasi sendiri’ begitu mereka jawab,” cerita ayah dua anak ini.

Menurut Muslem, para perawat seperti tak menggubris istrinya yang sedang meronta-ronta kesakitan. Bahkan menurut Muslem, yang sering melihat kondisi istrinya adalah anak-anak SPK (perawat magang-red). Menurut Muslem, istrinya tak berhenti merintih menahan sakit yang teramat sangat, istrinya terus meronta. Perasan cemas pun terus menggayut hati Muslem, hingga pada pukul lima sore, ia bersama famili mendesak perawat di RSIA untuk segera mengoperasi istrinya.

“Menurut kami sudah tak mungkin bisa melahirkan secara normal, tapi mereka tetap bilang istri saya bisa melahirkan normal, mereka menghindar dan tidak mau melakukan operasi,” ujarnya.

Sekira pukul 19.00 WIB, Muslem kemudian memutuskan untuk keluar dari RSIA. Ia bermaksud memindahkan istri dari rumah sakit tersebut. Namun, keinginannya itu tak tersampaikan, Muslem mengaku tidak diberikan izin oleh pihak RSIA. “Dibilang istri saya harus melahirkan secara normal, intinya mereka melarang kami keluar, padahal sampai pukul delapan malam itu istri saya sudah sangat sakit. Bayangkan dari jam enam pagi sampai jam delapan malam istri saya menahan sakit tanpa perawatan khusus di rumah sakit itu,” sebut Muslem dengan suara tersedu-sedu.

Singkat cerita, pada pukul 21.00 WIB, seorang dari perawat yang telah berganti piket mengambil alih dan tiba-tiba membuat rujukan ke RSUZA Banda Aceh. Rujukan itu, sebut Muslem, bukan keinginan keluarga, rujukan itu dibuat sendiri oleh perawat dimaksud. “Lalu kami dibawa ke sana, sampai di RSUZA kami diterima dengan baik kemudian langsung dilakukan pengecekan oleh dokter. Katanya, istri saya sudah tak layak lagi melahirkan secara normal dan langsung diambil tindakan, yakni operasi,” kata Muslem.

Dua jam kemudian, Muslem dipanggil dan dipersilakan masuk melihat kondisi istrinya. Saat itu, kata Muslem, dokter yang menangani istrinya itu menanyakan sesuatu kepada dirinya. “Dia tanya ‘untuk keselamatan istri bapak, apakah bapak ikhlas kalau peranakan (rahim) istri bapak diangkat’. Saya jawab kalau untuk keselamatan, ya silakan. Dokter itu juga bilang rahim istri saya sudah rusak sebelum sampai ke RSUZA dan harusnya dioperasi lima atau tujuh jam sebelumnya,” kata Muslem.

Keluar dari ruangan tempat istrinya dioperasi, Muslem kemudian melihat anaknya yang sudah tak bernyawa. Dalam kesempatan itu, pihak RSUZA juga meminta maaf kepada Muslem karena tak bisa menyelamatkan nyawa anak ketiganya itu. Menurut keterangan dokter kepada Muslem, anaknya itu saat lahir memang sudah tak benapas.

Setelah proses operasi selesai, istri Muslem kemudian dibawa masuk ke ruangan. Saat itu, kondisi istrinya sehat namun lemas sehingga butuh transfusi darah. “Jam empat pagi, tiba-tiba dari hidung dan mulut istri saya keluar air, sempat dibantu sekitar setengah jam oleh tim medis, kemudian istri saya dinyatakan meninggal dunia,” kisah Muslem.

Dalam wawancara kemarin, Muslem menyesalkan pelayanan tidak maksimal sejak di RSIA. Padahal, katanya, RSIA itu milik pemerintah. “Coba bayangkan berapa jam istri saya tak ditangani di RSIA, malam baru dirujuk ke RSUZA. Saya yakin saat di RSIA itu memang tidak ada dokter, tapi kami tetap dipertahankan di situ, padahal menurut dokter istri saya sudah harus dioperasi dari pagi atau siang. Semoga kejadian seperti ini tak menimpa orang lain. Saya mohon doa untuk istri dan anak saya,” pinta Muslem dan mengakhiri wawancara dengan wartawan.

Kini, Muslem hidup menjadi ayah sekaligus ibu bagi dua anaknya, Teuku Rian Malik Maulana (9) dan Cut Raihan Anatasya (7). Amatan Serambi, kemarin, Muslem tampak begitu tegar menghadapi cobaan. Ia menggendong sendiri jenazah anaknya di samping jenazah istrinya yang dibawa bersama sanak famili dan masyarakat menuju tempat peristirahatan terakhir. Doa dan air mata mengiringi jenazah ibu dan anak tersebut ketika dimasukkan ke dalam satu liang.(dan) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id