Enam Bocah Rohingya Masuk SDN 3 di Langsa | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Enam Bocah Rohingya Masuk SDN 3 di Langsa

Foto Enam Bocah Rohingya Masuk SDN 3 di Langsa

* Proses Pembauran di Awasi The Save Children

LANGSA – Setelah 10 bulan lamanya berada di barak pengungsian Dinsos Gampong Lhoek Banie, kini enam anak pengungsi Rohingya, Myanmar, mulai mengenyam pendidikan kurikulum Indonesia di SD Negeri 13 Gampong Matang Seulimeng, Kecamatan Langsa Barat.

Walaupun keenam bocah itu sama sekali belum bisa berbahasa Indonesia, tetapi berkat bantuan parapihak, anak-anak itu sudah diarahkan untuk memahami bahasa dan budaya yang jauh berbeda dengan latar belakang keluarganya.

Proses pembauran dengan murid lainnya yang merupakan warga Langsa ini, akan menjadi fase penting dan menentukan bagi masa dapan hidup bocah pengungsi ini. Dengan dimulainya proses pendidikan di jenjang paling dasar ini, keenam bocah itu pun kini mulai mengenakan seragam merah putih, yang merupakan identitas khas Indonesia.

Proses pembauran ini termasuk pemenuhan perlengkapan sekolah, untuk sementara ditangani oleh NGO Save The Children. Karena kebijakan negara untuk pengungsi Rohingya ini juga belum jelas, apakah dipulangkan ke negaranya atau telah disetujui untuk menetap di Aceh.

Ke enam anak anak pengungsi Rohingya tersebut bernama Samah Bibi (7), Yasurahman (7), Julekha (10), Somir Khan (8), Yasir Arfat (10) dan Sadeka (8). “Hari Selasa (29/3) ini merupakan hari paling menentukan masa depan mereka, dalam hal pendidikan dan kehidupan bersosialisasi dengan lingkungan dan teman-teman baru di SDN 13 Langsa,” kata Wasatgas Penanggulangan Pengungsi Rohingya di Kota Langsa, Suriyatno AP MSP, kepada Serambi, kemarin.

Ia menjelaskan, ke enam anak pengungsi Rohingya ini ada yang masuk di kelas I dan ada yang langsung duduk di kelas II. “Yasurahman, Somir Khan, Sadeka, dan Sama Bibi masuk kelas I. Sementara, Julekha dan Yasir Arfat masuk di kelas II, karena menyesuaikan umur mereka,” jelas Suriatno.

Menurutnya ke enam anak pengungsi Rohingya ini, untuk sementara hanya masuk sekolah selama tiga hari dalam seminggu. Karena selebihnya mereka akan dididik di sekolah khusus yang dibentuk di camp pengungsian, akibat sulitnya proses pembauran kelompok masmyarakat beda budaya ini. “Untuk nilai akademik yang akan diisi dalam rapor serta ijazah mereka nanti, akan di musyawarahkan lagi dengan pihak-pihak terkait,” papar Suryatno.

WASATGAS Penanggulangan Pengungsi Rohingya di Kota Langsa, Suriyatno, juga mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pendidikan Langsa, atas kerjasama dengan pihaknya dalam penanganan pengungsi. Shingga enam orang anak pengungsi Rohingya ini bisa mengenyam pendidikan formal di SD Negeri 13 Gampong Matang Seulimeng ini.

“Yang terpenting, sementara ini ke enam anak-anak muslim dari Myanmar tersebut mendapatkan pendidikan seperti anak-anak normal lainnya,” katanya. Menurutnya, hal ini sangat penting dalam memperbaiki kondisi kejiwaan (psikologis) mereka, yang berpotensi menyimpang akibat depresi.

Kondisi mereka pada hari pertama masuk sekolah, kemarin, terlihat anak-anak ini bersenang-senang dalam suasana baru bersama teman-teman baru, tentunya selama ini tidak mereka dapatkan di kamp pengungsi.

“Saya berharap kepada pihak-pihak terkait untuk terus membantu proses belajar anak-anak pengungsi Rohingya ini, karena bagi anak seusia ini, sangat rentan dan perlu dididik untuk menambah wawasan dan ilmu, layaknya anak-anak seusianya,” harap Suriatno.(zb) (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id