Dewan: Tutup Kafe Karaoke | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dewan: Tutup Kafe Karaoke

Dewan: Tutup Kafe Karaoke
Foto Dewan: Tutup Kafe Karaoke

* PSK Berkeliaran di Aceh Barat

MEULABOH – DPRK Aceh Barat mengeluarkan rekomendasi kepada Pemkab setempat untuk menghentikan kegiatan karaoke di kafe-kafe yang buka di kawasan Pasar Aceh Meulaboh. Pasalnya, selain melanggar izin yang dikeluarkan Pemkab, juga melanggar aturan pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Selain itu, dewan juga merekomendasi sebuah kafe berkaraoke di wilayah itu untuk dicabut izinnya.

Ketua Komisi D DPRK Aceh Barat Banta Lidan memaparkan sikap dewan dalam pertemuan dengan Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP/WH) dan jajaran Kantor Perizinan di Aceh Barat di gedung dewan setempat, Rabu (27/9). Pertemuan dihadiri dua Wakil Ketua Dewan, yakni Usman dan Samsi Barmi, kemarin. Pertemuan tersebut untuk menyikapi keributan di kafe karaoke Ratu di Desa Pasar Aceh pada Sabtu malam pekan lalu, sehingga dua anggota FPI ditahan polisi.

Menurut Banta Lidan, dewan mengeluarkan rekomendasi sehingga dinas terkait lebih tegas dan tidak membiarkan pelanggaran syariat Islam makin merajalela pada sejumlah kafe. Usaha karaoke, kata dia, tidak dibenarkan dalam aturan yang dikeluarkan Pemkab. Cafe hanya untuk jualan minuman dan makanan. “Persoalan ini akan dibawa kepada forum pimpinan daerah untuk disikapi lebih lanjut, sehingga tidak terulang,” katanya.

Beberapa anggota DPRK Aceh Barat seperti Mawardi Basyah, Masrizal, Suhurdi, dan Heriana menyorot kinerja WH yang tidak menindak pelanggar syariat Islam. “Sehingga masyarakat yang harus turun menertibkan. Seharusnya, dengan ditindak oleh WH yang berkoordinasi dengan aparat terkait, pelanggaran syariat dapat diatasi. Kita sayangkan ekses dari persoalan penertiban itu, sudah ada tersangka yang ditahan polisi,” kata Mawardi Basyah.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRK Usman secara blak-blakan dalam pertemuan di gedung dewan kemarin mengungkapkan, kondisi di Meulaboh kini memprihatinkan karena banyak muncul PSK (pekerja seks komersial). Mereka umumnya wanita dari luar Meulaboh. “Kondisi ini perlu diambil sikap tegas. Sayang, daerah kita syariat Islam, jangan dikotori oleh mereka,” katanya.

Usman juga mengaku sudah melakukan investigasi dan menemukan pada beberapa kafe di Meulaboh sudah beroperasi PSK. Mereka muncul dan sering diantar jemput. “Melalui forum ini, mohon ditindak tegas. Daerah kita syariat Islam, tetapi kegiatan maksiat muncul,” kata Usman.

Sebagaimana diketahui, sejumlah anggota FPI Aceh Barat dan FPI Nagan Raya mendatangi sejumlah kafe di kawasan Pasar Aceh Meulaboh pada Sabtu malam pekan lalu. FPI menilai telah terjadi pelanggaran syariat. Akibatnya, terjadilah keributan antara anggota FPI dengan pengunjung serta pemilik kafe, yang berakhir dengan pengrusakan. Pihak FPI mengaku jam buka kafe telah melewati batas yang ditentukan. Ekses keributan, pemilik kafe dan pengunjung melaporkan kasus itu ke polisi karena diduga terjadi tindak pidana pengrusakan dan penganiayaan. Akibatnya, simpatisan FPI Aceh Barat M Riski dan Ketua FPI Nagan Raya Neldi Isnayanto ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh polisi.

Sementara itu, pejabat Satpol PP/WH Aceh Barat Erdian mengatakan, petugas WH selama ini sering melakukan pengawasaan pada kafe-kafe di kawasan Pasar Aceh serta pada lokasi lain di Meulaboh. Namun, pihaknya juga berharap mendapat dukungan penuh dari pihak kepolisian. kepolisian.

Ia menyatakan, pihaknya siap mengambil tindakan tegas terhadap pelanggar syariat. “Dalam aturan yang pernah disepakati beberapa tahun silam bahwa kafe di kawasan Pasar Aceh tidak dibenarkan membuka hingga larut malam atau melebihi pukul 24.00 WIB,” kata Erdian.

Sementara Kabid Perizinan dari Pemkab Aceh Barat T Armia mengatakan, dengan adanya rekomendasi dari DPRK, tentu akan dievaluasi dan dilakukan sejumlah langkah, termasuk mencabut izin sebuah kafe yang berkaraoke. Kafe lain pun, kata T Armia, akan diawasi dengan lebih ketat oleh Satpol PP/WH. “Jika melanggar akan dicabut izinnya,” kata dia.

Keuchik Pasar Aceh Imran Thaid mengatakan, dirinya tidak mampu menegur lagi kafe yang buka hingga larut malam, meski sudah pernah diingatkan. Dia berharap adanya pengawasan maksimal dari WH. Beberapa waktu lalu, kata Imran Thaid, ada juga kafe yang disinyalir menjual minuman keras.(riz) (uri/homas/ebriani/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id