Warisan Malaysia di Guar Kepah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Warisan Malaysia di Guar Kepah

Warisan Malaysia di Guar Kepah
Foto Warisan Malaysia di Guar Kepah

OLEH MUHAMMAD NOVAL, Mahasiswa Master Arkeologi Universiti Sains Malaysia, melaporkan dari situs Arkeologi Guar Kepah, Pulau Penang, Malaysia

EMPAT bulan sudah saya melakukan ekskavasi (penggalian) di situs arkeologi Guar Kepah, Malaysia. Ketika berita tentang proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sedang dikerjakan di situs bersejarah Kerajaan Aceh Darussalam, Gampong Pande dan Gampong Jawa, Banda Aceh, hati saya tergugah untuk melaporkan bagaimana Malaysia merawat situs arkeologinya.

Guar Kepah adalah situs arkeologi yang terletak sekitar satu jam perjalanan dari Kota Penang, Malaysia, atau sekitar 20 km jaraknya dari pusat perkotaan. Penemuan situs ini mencuat ke publik setelah profesor arkeologi Universiti Sains Malaysia (USM) menemukan kerangka manusia purba yang diperkirakan berusia 6.000 tahun lalu pada April 2017. Bukan hanya itu, bahkan penemuan ini menyedot perhatian media massa untuk memublikasikan penemuan tersebut, sehingga menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat. Setiap hari ada saja masyarakat yang berkunjung ke situs ini untuk melihat langsung kerangka yang digelari “Penang Woman” tersebut.

Pemerintah Kota Penang melalui jabatan warisan langsung turun ke situs arkeologi tersebut dan memberikan komitmen untuk membiayai, merawat, dan menghentikan semua aktivitas yang akan mengganggu dan merusak situs Guar Kepah tersebut. Saya melihat respons yang sangat positif dari pemerintah daerah atau Menteri Pulau Pinang terhadap penemuan tersebut ketika berjumpa langsung dengan Deputi Gubernur Pulau Pinang di Situs Guar Kepah.

Hal ini sangat kontras dengan sikap Pemerintah Aceh yang sampai saat ini belum mengambil sikap yang tegas untuk menghentikan aktivitas perusakan situs arkeologi peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam yang berusia 400 tahun lalu.

Selain itu, Pemerintah Pulau Pinang telah mengucurkan dana tidak kurang dari 3 juta ringgit lebih untuk menjaga dan merawat situs tersebut serta ingin menjadikan Guar Kepah sebagai salah satu destinasi wisata Pulau Pinang.

Komitmen pemerintah negeri jiran ini untuk menjaga situ dan nilai-nilai sejarahnya tidak diragukan lagi. Baru-baru ini saya mendengar dari seorang guru besar di Universiti Sains Malaysia tentang rencana Pemerintah Pulau Pinang untuk membangun museum arkeologi terbesar di Asia Tenggara untuk menarik para wisatawan, peneliti, dan pakar arkeologi dunia.

Melihat bagaimana Pemerintah Malaysia dalam menjaga situs warisannya membuat hati saya tergugah untuk menulis reportase ini demi menjaga warisan Kerajaan Aceh Darussalam di Gampong Pande dan Gampong Jawa. Malah saya sendiri sedang mengkaji batu nisan Aceh yang terdapat di Gampong Pande sebagai bahan untuk penulisan tesis master saya tentang penyebaran batu nisan Aceh di Asia Tenggara.

Alangkah sedihnya apabila peninggalan-peninggalan yang bernilai historis tersebut hancur dan hilang oleh proyek instalasi pembuangan limbah biologis tersebut. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melestarikan situs-situs peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam, termasuk yang ada di Gampong Pande dan Gampong Jawa. Hal ini mengingat peninggalan sejarah Aceh di Malaysia juga dirawat dengan baik, termasuk batu Aceh di Malaysia yang tersebar di beberapa negeri bagian Malaysia, seperti Johor, Perak, dan Kedah yang jumlahnya mencapai 400 nisan.

Semoga reportase ini menggugah kita semua untuk lebih serius menjaga situs arkeologi sebagai bagian dari pengahargaan terhadap sejarah masa lalu, peninggalan leluhur kita, sebagaimana dinukilkan dalam syair lagu Aceh yang berbunyi, “Buet ureung awai cit ka meutuentee, geutanyoe mantong tarika-rika” (Perbuatan orang dahulu sudah pasti tertata dengan baik, namun kita saja yang masih menerka-nerka). Saleum aneuk nanggroe dari Pulau Pinang, Malaysia.
<[email protected] (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id