RSUZA akan Tambah CT Scan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

RSUZA akan Tambah CT Scan

RSUZA akan Tambah CT Scan
Foto RSUZA akan Tambah CT Scan

* Untuk Kurangi Antrean Pasien

BANDA ACEH – Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh akan menambah satu unit computerized tomography scanner (CT Scan) yang selama ini hanya ada satu unit di rumah sakit tersebut. Penambahan CT Scan ini dilakukan untuk mengurangi antrean pasien di ruang radiologi, serta dapat merawat alat tersebut yang akan digunakan secara bergantian.

Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan Medis RSUZA, Dr dr Azharuddin SpOT(K) Spine FICS kepada Serambi, Selasa (26/9) menyampaikan, selama ini jumlah pasien yang melakukan CT Scan sampai 40 orang/hari. Tidak hanya CT Scan saja, tapi juga ada CT Scan yang menggunakan kontras yaitu semacam obat yang disuntik kemudian jalannya obat itu baru di discan sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

“Kalau yang CT Scan tanpa kontras mungkin tidak terlalu lama prosedurnya sekitar 5-10 menit. Namun demikian, tiap pasien dapat menghabiskan waktu 20-30 menit dengan berbagai proses lainnya. Lebih lama lagi kalau yang CT Scan MRI bisa sampai satu jam tiap pasien. Apalagi kalau pasiennya tidak berdaya, gak bisa jalan dan harus digotong untuk pindah memindah,” sebutnya.

Karena budget penambahan CT Scan relatif terbatas, kata Azharuddin, akan dimasukkan dalam anggaran 2018 pada pengadaan alat prioritas. Harga CT Scan ini bervariasi mulai Rp 7 miliar hingga Rp 12 miliar per unitnya. Tergantung kualitasnya. Sementara yang dimiliki RSUZA saat ini bernilai Rp 12 miliar dengan kualitas sedang menengah.

Dikatakan, alat CT Scan itu sangat emergency pada pasien-pasien yang separuhnya itu mengancam nyawa. Alat ini dapat digunakan untuk mendiagnosis dan memonitor beragam kondisi kesehatan, tanpa CT Scan tidak dapat diketahui penyakitnya.

Dikatakan, tidak banyak rumah sakit daerah yang memiliki CT Scan, sehingga ketika ada kecelakaan harus dirujuk ke Banda Aceh. Menurut Azharuddin, hal ini perlu mendapatkan kepedulian dari pemerintah daerah setempat, sebab bagaimana akan mendatangkan dokter ahli bedah saraf apabila di rumah sakit tersebut tidak ada CT Scan.

“Dalam era otonomi itu, bupati maupun walikota juga memikirkan insfrastruktur sehingga SDM pun ketika mau ke daerah, gak nanya-nanya dulu ada CT Scan atau tidak. Kemudian bupati maupun walikota juga gak diperbolehkan membeli dulu sebelum ada ahlinya. Maka itu harus sinergi,” tandasnya.

Wadir Pelayanan Medis RSUZA, dr Azharuddin menyebutkan, banyak alat kesehatan yang belum ada di rumah sakit tersebut, terutama pada bagian mata yang selama ini hanya memiliki alat-alat standar.

“Akhirnya bagian mata RSUZA melakukan operasi seperti rumah sakit daerah. Meskinya kita sebagai rumah sakit rujukan provinsi mempunyai alat-alat yang canggih sehingga dapat melakukan operasi saraf mata terjepit, retina, bukan hanya operasi katarak saja. Dan itu harus ada alat-alat yang harus dibeli, seperti laser karena keterbatasan kita tiap tahun tidak pernah punya dana yang memadai untuk alat-alat kesehatan,” jelasnya.

Dikatakan, untuk alat operasi saraf mata terjepit harganya sampai Rp 4 miliar. Karena ketiadaan alat-alat tersebut sehingga pasien dari daerah langsung dirujuk ke luar daerah seperti ke Medan, Jakarta, dan Malaysia.(una) (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id