Abrasi Meluas di Geunteng Barat | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Abrasi Meluas di Geunteng Barat

Abrasi Meluas di Geunteng Barat
Foto Abrasi Meluas di Geunteng Barat

* Badan Jalan dan Kebun Warga Amblas

SIGLI – Abrasi akibat terjangan ombak di pesisir Gampong Geunteng Barat, Kecamatan Batee, Pidie, terus meluas hingga mengancam sedikitnya tujuh unit rumah warga yang kini hanya berjarak 1-5 meter dari garis pantai.

Abrasi itu tidak saja mengancam rumah penduduk, tapi juga telah membuat badan jalan Geunteng Barat-Pulo Bungong, amblas. Sehingga akses mobilitas warga di kedua desa ini sangat terganggu. Termasuk puluhan hektare lahan kebun kelapa milik warga hilang ditelan gelombang pasang. Sehingga kerugian akibat rusaknya sarana umum dan properti warga akibat bencana ekologi yang terjadi sejak lama itu, ditaksir mencapai miliaran rupiah.

“Lahan kebun saya sudah jadi lautan. Badan jalan juga amblas akibat abrasi yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Kini sebagian warga yang tinggal di dekat pantai, khawatir rumahnya akan ditelan laut,” kata Abdul Gani (43) warga Gampong Geunteng Barat, Selasa (26/9).

Pantauan Serambi, ruas jalan yang amblas tersebut yakni jalan penghubung antara Gampong Geuteng Barat dengan Gampong Pulo Bungong yang masuk dalam Kecamatan Batee. Badan jalan yang sebagian sudah beraspal, amblas hingga beberapa kilometer.

Gampong Geunteng Barat ini merupakan salah satu desa nelayan yang berada persis di pinggir pantai, menghadap langsung ke Selat Malaka. Jumlah penduduk desa ini 1.126 jiwa dengan jumlah keluarga 335 kepala keluarga (KK).

Warga mengaku bencana abrasi ini sudah berlangsung lama, bahkan telah menghilangkan puluhan persil tanah warga berupa kebun-kebun kepala. Beberapa orang tua gampong yang ditanyai Serambi, mengaku bahwa dulu jarak antara kawasan permukiman tempat warga mendirikan rumah jaraknya mencapai belasan kilometer dengan garis pantai.

Namun seiring waktu, wilayah desa terus digerus abrasi, khususnya saat gelombang pasang dan musim angin barat. Sehingga jarak antara rumah yang saat dibangun puluhan tahun lalu jauh dari pantai. Kini hanya tinggal beberapa meter saja. Jika tak segera dibangun tanggul penahan ombak, sekitar tujuh rumah warga dipastikan akan tersapu gelombang dalam waktu satu tahun ke depan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie, Apriadi SSos, mengaku ada tujuh rumah yagn kini terancam abrasi karena jaraknya sudah sangat dekat dengan pantai. Terkait ancaman bencana abrasi ini, pihaknya pun sedang melakukan penanganan darurat dengan mengeruk dasar mengeruk muara (kuala) yang dangkal. Sehingga diharapkan dapat meredam gelombang laut ke wilayah permukiman.

“Namun penanganan darurat ini berjalan lamban, karena keterbatasan alat berat (beko) yang hanya satu unit bisa digunakan. Kami sedang mengupayakan satu unit lagi agar bisa dipakai mengeruk dasar muara di sisi yang lain, sehingga pengerjaan bisa dilakukan maksimal,” katanya.

Sementara untuk penaggulangan jangka panjang, ia berjanji segera mengusulkan pembangunan tanggul penahan ombak ke BNPB. “Hari Kamis besok, kami akan ke BNPB Pusat untuk mengusulkan pembangunan tanggul ini,” ujar Apriadi.(aya) (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id