‘Tsunami Cup’ Lelucon Sang Pemimpin? | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

‘Tsunami Cup’ Lelucon Sang Pemimpin?

‘Tsunami Cup’ Lelucon Sang Pemimpin?
Foto ‘Tsunami Cup’ Lelucon Sang Pemimpin?

Oleh Teuku Zulkhairi

MESKIPUN Gubernur Aceh Irwandi Yusuf telah memberikan pernyataan di akun media sosial miliknya tentang ide “Tsunami Cup” yang mendapat plot anggaran mencapai Rp 11 miliar, namun gagasan ini dari berbagai sisi rupanya memang membuka peluang untuk dikritisi. Publik memahami bahwa agenda kegiatan Tsunami Cup pastilah berkaitan erat dengan peringatan tsunami di Aceh yang saban tahun diselenggarakan pada Desember. Artinya, settingan agenda turnamen Tsunami Cup adalah jelas dalam rangka memperingati bencana tsunami Aceh 2004.

Alhasil, pernyataan di media sosial dari orang nomor satu di Aceh ini belum menjawab persoalan yang substansial. Kita tidak menyoal kegiatan olahraga semacam sepakbola, karena memang agama Islam yang dianut masyarakat Aceh sendiri juga menaruh perhatian besar pada persoalan olahraga, namun menjadi masalah adalah saat kegiatan ini hendak dilaksanakan untuk mengenang bencana Tsunami di Aceh. Mengenang bencana koq dengan turnamen sepakbola?

Peringatan Allah
Dari perspektif Islam, kita memahami bencana tsunami yang pernah terjadi di Aceh sebagai teguran, ujian dan peringatan dari Allah Swt. Teguran bagi orang yang lalai, ujian bagi orang yang beriman, dan peringatan kepada orang-orang yang senantiasa inkar. Tentunya, hikmah dan ibrah terbesar dari bencana tsunami yang seharusnya kita petik adalah bahwa kita seharusnya terus berada di jalan Allah, dan segara kembali ke jalannya ketika kita khilaf. Artinya, peringatan bencana tsunami mestilah diperingati dengan kegiatan yang bisa menghidupkan ruhiyah kita agar terus mendekat kepada-Nya. Lalu, bisakah Tsunami Cup mendorong kita dan masyarakat kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt? Tentu tidak.

Pernyataan Gubernur Aceh di sosial media bahwa tujuan dari Tsunami Cup ini untuk menarik perhatian negara-negara luar pun patut dikaji ulang. Sebagai orang nomor satu di Provinsi Aceh, seharusnya Irwandi hendaknya merumuskan formulasi yang lebih tepat dalam agenda internasionalisasi Aceh sehingga ide-ide bagus berkaitan dengan upaya internasionalisasi Aceh tidak berbenturan dengan apa yang seharusnya kita kerjakan sebagai muslim dalam memperingati bencana Tsunami di Aceh.

Meskipun Irwandi mengatakan judul “Tsunami Cup” ini akan diganti dengan judul lain, akan tetapi tetap saja publik masih bisa membaca bahwa ada agenda turnamen sepak bola untuk memperingati tsunami. Jadi, agenda internasionalisasi Aceh jika betul-betul serius, mestinya tidak perlu harus membenturkannya dengan apa yang semestinya dikerjakan dalam memperingati tsunami di Aceh sesuai dengan semangat Islam, agama kita masyarakat Aceh. Sampai di sini, harapan kita adalah bahwa apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang disekeliling pemimpin adalah mengingatkan agar sang pemimpin terus “di jalan yang lurus”, tidak berbelok sehingga tersesat arah dan tujuan.

Dan untuk Pak Irwandi, hendaknya sebagai pemimpin mestilah lebih banyak mendengat ketimbang berbicara. Judul pernyataan Irwandi merespons sejumlah opini publik di akun media sosial miliknya dengan judul “Aceh Dibawah Tempurung dan Proses Menyingkirkan Tempurung” sangat terkesan sekali bahwa sebagai pemimpin Pak Irwandi sedang tidak mau mendengar aspirasi publik yang disampaikan lewat media dan juga sosial media. Dari judul ini, seolah-olah orang-orang yang mengkritiki program pemerintah maka mereka seperti sedang berada di bawah tempurung. Apalagi, kalimat Irwandi yang mempertanyakan “apakah korban tsunami yang telah meninggal dunia membutuhkan kenduri dan doa kita? Jawabannya adalah menurut kedalaman pengetahuan agama masing-masing orang”. Ini terkesan mengambil kapling ulama sehingga terkesan sangat sombong. Ataukah, ini memang strategi memperkuat argumen pentingnya turnamen sepak bola dalam rangka memperingati tsunami dengan dalih doa dan kenduri bagi korban tsunami masuk bab khilafiyah fiqh? Oleh sebab itu, perihal kenduri dan doa untuk korban tsunami yang disinggung sendiri oleh Pak Irwandi, saya usulkan hendaknya beliau bertanya saja kepada para ulama dan tidak menjadikannya sebagai lelucon di sosial media! Ataukah, barangkali Pak Irwandi justru ragu pentingnya doa dan kenduri untuk korban tsunami?

Sebagai muslim mestilah kita ingat bahwa Allah Swt telah menganugerahkan kita dua telinga, sementara mulut adalah satu. Artinya, hendaklah kita lebih banyak mendengar ketimbang berbicara. Baik mendengar pendapat publik media sosial maupun warga di dunia nyata. Yakinlah, setiap masukan dan kritikan publik itu adalah energi dan nutrisi untuk menyukseskan pemerintahan. Kumpulkan pendapat-pendapat publik yang bernas dan konstruktif dan jadikan kebijakan meskipun itu melawan pikiran kita. Dan bertanyalah kepada ulama dalam setiap hal, karena ulama adalah “lampu penerang” dalam gelapnya kehidupan. Bukankah Gubenur Irwandi Yusuf sangat dekat dengan salah satu ulama kharismatik Aceh, yaitu Tgk H Muhammad Amin Blang Blahdeh (Abu Tumin)? Sudahkah beliau betul-betul dimintai pendapatnya dalam agenda membangun Aceh? Bukankah beliau telah berada di garis depan saat kampanye pemenangan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah di masa kampanye Pilkada?

Saat jelang pelaksanaan Pilkada yang lalu, saya menulis sebuah artikel di Harian Serambi Indonesia dengan judul “Memahami Sikap Ulama dalam Pilkada” dengan harapan semua masyarakat bisa menghargai adanya perbedaan pendapat ulama dalam dinamika politik Aceh. Sebab, realitasnya ada ulama yang mendukung Pak Irwandi, ada ulama yang mendukung Muzakir Manaf, Tarmizi A Karim dan sebagainya. Tugas publik adalah menghargai ulama, apapun pilihan politik mereka. Nah sekarang, sudahkah ulama dilibatkan dalam penyusunan agenda-agenda kebijakan pembangunan? Jika tidak, maka tidaklah salah jika publik menduga bahwa pelibatan ulama dalam Pilkada yang lalu hanyalah sarana untuk meraih kekuasaan semata. Jika demikian, berarti marilah kita mohon perlindungan dan ampunan dari Allah Swt.

Banyak kegiatan lain
Kembali ke persoalan “Tsunami Cup” di atas. Sesungguhnya, banyak sekali kegiatan positif lainnya yang bisa diselenggarakan untuk memperingati bencana tsunami Aceh. Dan yang pasti, keseluruhan peringatan tersebut haruslah bermuara pada menggugah kesadaran diri kita dan masyarakat seluruhnya untuk menyadari Kebesaran dan Kemahakuasaan Allah Swt, mengingat kematian dan mempersiapkan kehidupan setelah kematian dengan cara memperbanyak amal untuk kehidupan akhirat. Lakukan kegiatan apa saja untuk memperingati bencana tsunami di Aceh selama bisa mengarahkan kita ke arah ini.

Hari ini, begitu banyak generasi Aceh yang lahir pascatsunami yang sesungguhnya mereka tidak memahami bencana maha dahsyat yang pernah menimpa Aceh. Di Banda Aceh, dalam penelusuran saya hanya beberapa sekolah Islam yang masih memutar video tsunami untuk ditonton peserta didik, sehingga mengingatkan mereka sejarah bencana ini dan apa yang harus mereka persiapkan untuk masa depan dunia dan masa depan akhirat.

Begitu juga yang berkaitan dengan sejarah keislaman Aceh, di mana Islam telah menjadi worldview (cara pandang) masyarakat Aceh masa lalu. Pengalaman saya mengajar, begitu banyak mahasiswa yang tidak paham tentang masa lalu Aceh yang identik dengan sejarah dan identitas keislaman Aceh yang lagee zat dan sifeut. Sangat banyak pekerjaan yang harus kita lakukan untuk memperkenalkan masa lalu Aceh kepada generasi baru yang belum kita kerjakan.

Banyak program positif yang dilakukan Gubernur/Wakil Gubernur Aceh sejak dilantik yang patut kita apresiasi. Kendati pun demikian, sebagai masyarakat kita tidak akan lelah sampai kapanpun untuk terus mengingatkan saat pemerintah khilaf. Wallahu a’lam bish-shwab.

* Teuku Zulkhairi, MA., Mahasiswa Program Doktoral UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Alumnus Dayah Babussalam Matangkuli, Aceh Utara. Email: [email protected] (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id