Jangan Lengah Awasi Obat Illegal Berbahaya | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Jangan Lengah Awasi Obat Illegal Berbahaya

Jangan Lengah Awasi Obat Illegal Berbahaya
Foto Jangan Lengah Awasi Obat Illegal Berbahaya

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh menyita sekitar 100 item lebih obat tradisional (OT) dari lima toko obat di Banda Aceh, Senin (25/9). Sedangkan pil PCC (Paracetamol, Caffein, dan Carisoprodol) yang menjadi target utama inspeksi mendadak ini tidak ditemukan.

Mengenai obat PCC ini, meski di daerah lain sudah ditemukan dalam jumlah banyak, termasuk pabrik dan gudangnya di Pulau Jawa dan Sulawesi, tapi kita bersyukur pil yang mematikan itu belum terindikasi beredar di Aceh.

Kepala BBPOM Banda Aceh, Zulkifli, mengatakan, “Ada beberapa apotek yang kita datangi, dan belum kita temukan pil PCC di Banda Aceh. Pil PCC ini sering salah digunakan sehingga dampaknya buruk sekali terutama di kalangan remaja kita yang menggunakan obat-obat ini untuk fly. Makanya, sejak tahun 2013 pil PCC sudah dilarang beredar.”

PCC itu sebetulnya bukan narkotika dan juga bukan obat terlarang. Tapi, untuk mengonsumsi obat ini harus menggunakan resep dokter. Yang menjadi pil ini sekarang dilarang beredar antara lain karena obat PCC ini sudah diproduksi secara liar dan diperdagangkan secara diam-diam sebagai obat penenang layaknya narkotika. Apalagi, dicampur dengan zat lainnya saat dikonsumsi. Efeknya, selain ada yang meninggal, ada juga yang mengalami ganggguan jiwa, dan lain-lain.

Yang sangat menakutkan, sindikat pengedar pil PCC ini menyasar anak-anak remaja setara pelajar SMP. Dan ini sudah terbukti terjadi di Sulawesi. Karenanya, para orangtua harus lebih serius mengawasi dan mengamati aktivitas serta tingkah laku anak-anaknya.

Selain soal PCC, banyak juga obat dan jamu-jamuan yang ternyata diperjualbelikan secara liar di Indonesia, termasuk di Aceh. “Selain illegal, obat-obat dan jamu-jamu yang kita sita itu juga bisa merusak kesehatan masyarakat bila dikonsumsi,” kata pejabat BBPOM.

Dalam sidak kemarin, ditemukan juga obat daftar G yang diperjualbelikan di toko obat. Padahal, obat yang ternmasuk daftar G itui hanya boleh dijual di apotek. Dan, depot atau toko obat sangat dilarang menjual ibat daftar G. Obat bergolongan keras ini hanya boleh dibeli dengan menggunakan resep dokter. Dan mengonsumsinya juga harus sesuai anjuran dokter.

Persoalan obat ini bukan hanya legal dan illegal, keras dan tidak keras, tapi juga belakangan ini sering ditemukan perdagangan obat-obat yang sudah kedaluwarsa (expired) di toko-toko obat dan apotek. Kemudian, dalam inspeksi mendadak oleh tim terpadu itu, ditemukan pula ada toko obat yang tidak mendapat rekomendasi dari Dinas Kesehatan sebagai prasyarat untuk dapat berdagang obat.

Semua itu kita lihat sebagai kelemahan dalam pengawasan. Oleh karenanya, ke depan ini kita berharap pemerintah lebih serius memantau peredaran obat yang resmi maupun tidak resmi. Sebab, menurut aturan, pembinaan apotek dan toko obat dilakukan Kementerian Kesehatan, BPOM, dinas kesehatan kabupaten/kota, dan organisasi profesi. Masyarakat sangat menunggu langkah konkret pemerintah membangun kelembagaan layanan kesehatan yang lebih andal demi terpenuhinya hak masyarakat atas kesehatan. (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id