Aceh dalam Khazanah Dunia Melayu | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Aceh dalam Khazanah Dunia Melayu

Aceh dalam Khazanah Dunia Melayu
Foto Aceh dalam Khazanah Dunia Melayu

OLEH M ADLI ABDULLAH, PhD, Dosen Hukum Adat dan Hukum Islam di Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Pulau Penang, Malaysia

KALI ini saya diundang menjadi salah satu pemakalah dalam Konferensi Sejarah dan Sejarawan Nasional Malaysia yang diadakan di Pulau Pinang selama dua hari, Kamis dan Jumat lalu. Konferensi ini menghadirkan 320 peserta yang terdiri atas ilmuwan, sejarawan, politisi, dan pendidik seperti Prof Emeritus Ahmat Adam, Prof Abu Talib Ahmad, Prof Mahani Musa, Prof Ooi Keat Gin, Dr Azmi Arifin, dan lain-lain. Sedangkan dari Indonesia yang hadir terdiri atas Dr Warjio dari Sumatera Utara dan saya dari Nanggroe Aceh.

Konferensi ini dibuka oleh Datuk Senior Muhamad Farid bin Saad. Beliau mengharapkan agar konferensi ini dapat melahirkan gagasan baru yang bersumber dari persejarahan, adat istiadat, dan budaya di Malaysia untuk pembangunan Malaysia yang berkelanjutan dan termasyhur sepanjang masa.

Kesinambungan pembangunan suatu negara tidak hanya diukur dari segi modernitas dan bangunan fisik, namun yang terpenting adalah penguatan sumber daya manusia dan pelestarian nilai-nilai sejarah harus digunakan untuk membangun modal manusia yang berindentitas kuat dan berkesinambungan.

Kemudian ia melanjutkan, “Tiada hari ini kalau tiada masa lalu dan tiada hari depan kalau tiada ada hari ini.” Begitu pesanya. Oleh karena itu, untuk menghindari gangguan nilai dan malapetaka masa depan, akibat kerusakan budaya yang terus berlanjut, penguatan disiplin sejarah, pemeliharaan situs-situs sejarah, penguatan penelitian maupun pendidikan harus terus digalakkan. Saya sepakat dengan pendapatnya bahwa dalam membangun negeri tidak boleh melupakan sendi-sendi sejarah.

Prof Emeritus Ahmat Adam, seorang dosen senior bidang sejarah di Universitas Malaya Kuala Lumpur dalam makalahnya “Sejarawan dan Persoalan Sejarah Melayu” mengkritik sejarawan Malaysia yang menafikan peran Aceh, Jawa Kuno, Sanskrit, Persia dalam penulisan sejarah prakolonial Malaysia. Padahal, katanya, Hikayat Hang Tuah, sebuah epik sastra yang menceritakan mengenai legenda Laksamana Melaka, para sarjana umumnya percaya ditulis di Johor, tapi Ahmat Adam membantahnya. Dia justru menyakini Hikayat Hang Tuha itu ditulis di Aceh dan judulnya bukan “Hang Tuah” tetapi “Hang Tuha” (tuha dalam bahasa Aceh artinya tua).

Karena ditulis di masa Kerajaaan Aceh, maka pengaruh karya-karya Aceh seperti Bustanussalatin, Hikayat Aceh, Hikayat Meukuta Alam, naskah Lada Sicupak I dan II, sangat kuat dalam Hikayat Hang Tuha. Bahkan, menurut Ahmat Adam, dalam hal kisah kunjungan Hang Tuha ke benua Rum (Turki) telah diambil seutuhnya kisah yang terdapat dalam naskah Lada Sicupak II. Sedangkan dari Hikayat Aceh pengarang Hikayat Hang Tuha telah meniru penggunaan sapaan seperti “Paduka Syah Alam” yang digunakan oleh Raja Aceh yang juga dipakai merujuk kepada raja Melaka. Selain itu banyak juga kata-kata Aceh lainnya yang masuk dalam Hikayat Hang Tuha seperti kata luta (r) untuk lontar, biram (intan merah), ganda (tangkai), geulupak (hiasan emas dalam bentuk kelopak bunga), patarakna (peterana), rakna (ratna), peunjurek (jahat), peutuha (warna gelap), po (tuan, raja), pucak (puncak) dan lain-lain tersebut, ungkapnya.

Kritikan Ahmat Adam tersebut tak dapat diterima oleh banyak sarjana di Malaysia, tapi ini minimal telah membuka wacana untuk membangun kajian lanjutan terhadap pengaruh Aceh dalam dunia Melayu.

Pada sesi siang, giliran saya dipersilakan memaparkan makalah di depan para sejarawan Malaysia. Saya memanfataatkan kesempatan tersebut dengan membawa makalah yang berjudul “Misteri ‘Tuan Seberang’ Berdasarkan Ma Bain-as-Salatin”. Tuan Seberang, seorang tokoh semenanjung pada kurun ke-17 yang sangat berpengaruh dalam sejarah Kerajaan Aceh dan sangat disegani oleh Portugis dan Belanda. Kitab Ma Bain-as-Salatin sendiri yang menjadi kitab undang-undang atau perlembagaan Kerajaan Aceh sempat menyebut empat kali tentang ketokohan Tuan Seberang dalam naskah tersebut.

Naskhah Ma Bain-as-Salatin merupakan produk Kerajaan Aceh bersamaan dengan naskah as-Salatin lainnya yang sudah dikenal dalam kalangan keilmuan seperti kitab Sulalat-us-Salatin, kitab Taj-us-Salatin dan kitab Bustanul Salatin. Jadi, saya membedah posisi keempat kitab tersebut di depan sejarawan Malaysia.

Kemudian dalam sesi diskusi, salah seorang penanya, Aisyah Kamaruddin yang sedang meneliti Undang-Undang Kedah, versi Ku Din Ku Meh (1893), meminta saya untuk menelaah lebih lanjut naskah-naskah ini, karena selama ini diyakini bahwa dua dari empat naskah tersebut, yakni Sulalat-us-Salatin dan Taj-us-Salatin, dihasilkan di Johor, bukan di Aceh.

Saya kemudian menjelaskan bahwa keempat nama akhir kitab as-Salatin di atas dihasilkan pada masa Kerajaan Aceh, baik di masa Sultan Saidil Mukammil (1588-1604), Iskandar Muda (1607-1636), dan Iskandar Thani (1636-1641). Semuanya tertarik, suasana sedikit menggelitik, karena pendapat saya dapat membongkar persejarahan Melayu.

Setelah acara selesai, saya merenung sendiri atas jalannya konferensi sejarawan Malaysia tahun 2017 ini, di mana satu per satu khazanah Aceh akan menjadi milik orang lain, karena anak bangsa sendiri tak mampu atau bahkan tak serius menjaga dan menghargai lagi sejarah bangsanya. Jangankan peduli terhadap dunia literasi, para pemikir dari Aceh masa masa lampau, merawat dan mendiskusikannya saja tidak ada. Ini cobaan masa depan untuk dunia intelektual Aceh. Kalau energi positif tidak dilakukan, maka pembangunan masa depan Aceh mengkhawatirkan.

Sata teringat, situs sejarah yang ada di Gampong Pande, Lamreh (Krueng Raya), Samudera Pasai maupun di tempat lain begitu mudah disingkirkan, bahkan dibumihanguskan atau minimal dikikis secara perlahan seperti yang kita saksikan baru-baru ini.

Bahkan lebih sedihnya lagi, situs-situs budaya dan sejarah keagungan Kerajaan Aceh sedang dialihfungsikan sebagai tempat pembuangan tinja (proyek IPAL). Di masa lalu, Aceh pernah jaya sebagai negara maritim dengan rakyatnya makmur sentosa, namun akankan Aceh semakin suram di masa mendatang? Apabila situs dan khazanah Aceh tidak dilestarikan, maka sejarah Aceh akan menjadi dongeng dan mulai ditinggalkan oleh anak bangsa, dan ini berbeda dengan bangsa lain seperti Malaysia yang terus mempertahankan indentitasnya untuk ditata demi masa depan yang lebih baik. Misalnya, Pemerintah Johor, Malaysia, mendirikan Yayasan Warisan Johor dengan tujuan untuk memelihara warisan sejarah, seni dan budaya negeri Johor, dengan adanya kesadaran Pemerintah Johor menginginkan khazanah Melayu tidak pupus dan terhakis dalam arus pembangunan, sehingga ada khazanah Aceh Tajussalatin yang ditulis oleh Bukhari Aljauhari, dinyatakan ditulis di Johor, bukan di Aceh, bagi mareka claim ini penting untuk menunjukkan bahwa Johor pernah memiliki peradaban sebagai indentitas bangsa. Walau sebenarnya banyak sarjana yang menyatakan Tajussalatin sama seperti hikayat Hang Tuah, Sulalatussalatin, dan Bustanussalatin justru merupakan hasil karya pada masa Kerajaan Aceh.

Aceh dulu memang disegani, tapi bagaimanakah kini? Hanya pembaca yang bisa menjawabnya. (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id