BBPOM Kembali Sita OT tanpa Izin Edar | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

BBPOM Kembali Sita OT tanpa Izin Edar

BBPOM Kembali Sita OT tanpa Izin Edar
Foto BBPOM Kembali Sita OT tanpa Izin Edar

BANDA ACEH – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh kembali menyita sekitar 100 item lebih obat tradisional (OT) dari lima toko obat yang berada di Jalan Diponegoro, Jalan Kartini Peunayong, dan Simpang Surabaya, Banda Aceh, Senin (25/9). Sejumlah obat tradisional itu disita pada inspeksi mendadak (sidak) terhadap pil PCC (Paracetamol, Cafein dan Carisoprodol) yang saat ini banyak ditemukan di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Sidak kali ini ke beberapa toko obat dengan target utama kita adalah pil PCC, termasuk obat-obatan yang merusak kesehatan masyarakat. Disana banyak jamu-jamu dan obat tradisional yang sudah terindikasi selama ini tidak boleh beredar lagi karena mengandung bahan kimia obat,” jelas Kepala BBPOM Banda Aceh, Drs Zulkifli Apt kepada Serambi usai sidak yang juga melibatkan Polda, Polres, BNN, serta Dinas Kesehatan (Dinkes) Banda Aceh.

Dikatakan Zulkifli, obat tradisional yang disita karena tidak memiliki izin edar, mengandung bahan kimia obat yang tidak diperbolehkan digunakan pada obat tradisional karena berdampak pada kesehatan. Selain itu, juga ditemukan obat daftar G yaitu obat keras dimana toko obat tidak diperbolehkan untuk menjualnya, kecuali apotek dan itu pun harus dengan resep dokter. Kepada pedagang tersebut akan diberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Beberapa obat tradisional atau obat kuat yang disita yaitu gali-gali, bulan madu, mustang, liong, viat sing, dan lainnya.

Sementara Kadinkes Banda Aceh, dr Warqah Helmi menyebutkan dari lima toko obat itu hanya satu yang tidak memiliki rekomendasi dari Dinkes Banda Aceh yaitu yang berada di Jalan Diponegoro.

“Bagi yang ingin mendapat izin menjual obat-obatan itu harus memiliki izin toko obat, dan rekomendasi Dinkes yang izinnya dikeluarkan Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DMPTSP) Banda Aceh. Sedangkan yang kita temukan tadi surat izin tempat usaha (SITU) dan surat izin usaha perdagangan (SIUP) untuk penjualan rempah dan jamu, tapi bukan untuk obat-obatan,” jelas dr Warqah.

Kepala BBPOM Banda Aceh, Zulkifli juga menyebutkan berdasarkan sidak yang dilakukan terhadap sejumlah apotek yang berada di Jalan AMD Batoh, Jalan Panglima Polem, dan Jalan Daud Beureueh, Banda Aceh, hingga kini belum ditemukan adanya pil PCC yang dijual di apotek-apotek tersebut.

“Ada beberapa apotek yang kita datangi, dan belum kita temukan pil PCC di Banda Aceh. Pil PCC itu namanya somadril, dan somadril ini sudah ditarik BBPOM sejak 2013, karena sering salah digunakan sehingga dampaknya buruk sekali terutama di kalangan remaja yang menggunakan obat-obat ini untuk fly,” kata Zulkifli.

Dikatakan, pihaknya menarik obat itu karena lebih banyak mudharatnya namun ternyata pabrik-pabrik ilegal membuat seperti aslinya. “Tentu di sini dalam pengawasan rutin yang kita lakukan di kabupaten/kota, kita juga memantau obat-obat yang sudah ditarik oleh BBPOM masih beredar atau tidak. Obat yang sudah ditarik tentu menjadi target teman-teman di BBPOM,” demikian katanya.(una) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id