Sadar Statistik | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Sadar Statistik

Sadar Statistik
Foto Sadar Statistik

Oleh Hendri Achmad Hudori

DATA Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan II 2017 sebesar 4,01% (y-on-y), lebih rendah dari angka Nasional untuk periode yang sama sebesar 5,01% (y-on-y). Persentase penduduk miskin Aceh pada Maret 2017 sebesar 16,89%, jauh lebih tinggi dari angka Nasional untuk periode yang sama sebesar 10,64%. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Aceh pada 2016 sebesar 70, sedikit masih dibawah angka Nasional yaitu 70,18.

Ketiga indikator di atas menunjukkan bahwa kondisi pembangunan di Aceh masih berada di bawah rata-rata Nasional, atau dengan kata lain Aceh masih relatif tertinggal dibandingkan daerah lain di Indonesia. Inilah sedikit contoh dari sekian banyak data statistik yang merupakan potret pembangunan suatu daerah.

Data statistik mempunyai peran yang sangat penting, yaitu sebagai acuan dalam pembangunan. Tanpa data yang akurat, maka tujuan pembangunan akan sulit dicapai. Di sinilah BPS berperan sebagai penyedia data statistik terpercaya (baca; berkualitas). Perjalanan BPS sebagai pelopor data statistik ternyata sudah berjalan sangat panjang. Sejarah kegiatan statistik bahkan sudah berlangsung sebelum Indonesia merdeka.

Sejarah statistik
Hari Statistik Nasional diperingati pada 26 September setiap tahunnya. Hal ini tidak lepas dari sejarah statistik yang terjadi di Indonesia. Kegiatan statistik di Indonesia bermula ketika pada 1920 didirikan sebuah kantor statistik di Bogor oleh Director van Landbouw Nijverheid en Hendel (Direktur Pertanian dan Perdagangan). Pada 1924, lembaga ini kemudian berganti nama menjadi Centraal Kantoor voor de Statistik (Kantor Pusat Statistik) dan dipindahkan ke Batavia (Jakarta). Setelah melewati proses sejarah yang panjang, pada 1 Juni 1957 melalui Keputusan Presiden RI No.131 Tahun 1957, Kantor Pusat Statistik kemudian diubah menjadi Biro Pusat Statistik (BPS), dan pada 1997 berganti nama kembali menjadi Badan Pusat Statistik (BPS).

Selanjutnya, adanya anjuran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar setiap negara melakukan sensus penduduk secara serentak. Maka, pada 24 September 1960, payung hukum pelaksanaan sensus tersebut diundangkan melalui UU No.6 Tahun 1960 tentang Sensus. Dua hari kemudian yakni pada 26 September 1960 dikeluarkan UU No.7 Tahun 1960 terkait penyelenggaraan statistik secara luas dan menyeluruh. Setahun setelah UU tersebut keluar yaitu pada 1961, sensus penduduk pertama kali dilakukan di Indonesia sejak meraih kemerdekaan.

Jadi pemilihan 26 September sebagai Hari Statistik Nasional diambil dari hari lahirnya UU No.7 Tahun 1960 terkait penyelenggaraan statistik secara luas dan menyeluruh, yang merupakan tonggak awal dan pijakan hukum mula-mula penyelenggaraan statistik selepas Indonesia merdeka. Hari Statistik Nasional sangat penting diperingati setiap tahun oleh seluruh insan statistik dan masyarakat di seluruh negeri untuk meningkatkan kesadaran tentang statistik yang berperan besar dalam pembangunan.

Menurut UU No.16 Tahun 1997 tentang Statistik, statistik dibagi menjadi tiga, yaitu: (1) statistik dasar, (2) statistik sektoral dan (3) statistik khusus. Statistik dasar adalah statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk kepentingan yang bersifat luas, baik bagi pemerintah maupun masyarakat, yang memiliki ciri-ciri lintas sektoral, berskala Nasional, dan makro yang penyelenggaraannya menjadi tanggung jawab BPS. Sedangkan statistik sektoral dan statistik khusus diselenggarakan oleh instansi tertentu/masyarakat lainnya, pemanfaatan untuk tugas-tugas pemerintahan dan kebutuhan spesifik lainya.

BPS sebagai lembaga statistik resmi pemerintah mempunyai visi sebagai pelopor data statistik terpercaya untuk semua. Meskipun demikian, realitanya masih ada pihak yang kurang percaya kepada data BPS. Misalnya untuk data kemiskinan. Masih ada pihak yang meragukan metodologi dan cara pengumpulan datanya.

Untuk internal BPS, hal ini dapat dimaklumi bahwa tidak semua orang mengetahui bagaimana business process yang dilakukan di BPS. Seperti, bagaimana BPS selalu menggunakan metode ilmiah dalam setiap kegiatan statistik agar dapat dipertanggungjawabkan, penerapan SOP (standard operating procedure) untuk keseragaman petugas statistik, adanya monitoring kualitas, dan masih banyak lagi hal lain yang diterapkan untuk menjamin kualitas data yang dihasilkan.

Tidak berlebihan rasanya, kalau penulis mengatakan bahwa BPS lebih banyak mendapatkan pengakuan di luar negeri. Sebagai contoh, BPS RI sering menjadi model bagi negara lain melakukan studi banding ke Indonesia tentang cara pengumpulan dan penyajian data statistik. Kepala BPS RI juga pernah ditunjuk sebagai Ketua Komite Statistik Se-Asia Pasifik yang beranggotakan 62 negara. Bahkan, dalam buku 123 Prestasi Indonesia yang Mengguncang Dunia karya Pena Kreativa, BPS Indonesia termasuk dalam 10 National Statistic Office terbaik di dunia.

Data statistik yang berkualitas harus mempunyai error atau kesalahan yang sekecil-kecilnya. Dalam ilmu statistik, ada dua jenis error, yaitu sampling error dan non-sampling error. Sampling error adalah kesalahan karena metode sampling. Error ini dapat ditentukan besarnya sesuai metode sampling yang digunakan. Sementara non-sampling error adalah kesalahan yang disebabkan selain oleh metode sampling. Error ini tidak dapat ditentukan besarnya, tetapi hanya bisa diupayakan untuk dikurangi.

Satu contoh non-sampling error yaitu kesalahan petugas dalam melakukan wawancara. Upaya untuk menguranginya adalah melalui pelatihan petugas sebelum melakukan wawancara di lapangan. Akan tetapi ada non-sampling error lainnya yang sulit dikontrol, yaitu kejujuran memberikan data dari sisi responden (orang yang memberi jawaban saat wawancara).

Data berkualitas
Di sinilah diperlukan kesadaran responden agar memberi jawaban yang jujur tanpa rekayasa, sehingga dapat menghasilkan data yang berkualitas. Pengalaman di lapangan, misalnya ketika petugas Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) melakukan wawancara di gampong-gampong (desa), sering muncul pertanyaan dari warga yang menjadi responden, peu na bantuan (apa ada bantuan)? Apabila ada anggapan tentang bantuan, seringkali responden merekayasa jawabannya agar dianggap sebagai orang miskin.

Hal tersebut mengakibatkan data yang tercatat tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya atau bias. Bahkan yang lebih sedih lagi masih ada masyarakat yang menolak untuk diwawancarai, seperti yang sering dialami oleh petugas pendataan Sensus Ekonomi Lanjutan baru-baru ini ketika mendatangi pemilik usaha. Dengan alasan tidak ada waktu, takut kena pajak, masalah kerahasiaan perusahaan, dan lain-lain. Padahal memberikan keterangan kepada petugas statistik adalah kewajiban warga negara yang telah diatur oleh UU No.16 Tahun 1997 tentang Statistik. Perlu diketahui pula bahwa ada sanksinya bagi yang tidak mau didata.

Selain itu, kerahasiaan jawaban responden juga akan dijamin, serta pendataan BPS sama sekali tidak terkait dengan pajak. Dampak yang timbul dari penolakan (non-response) responden adalah berkurangnya kecukupan jumlah sampel –beberapa metode sampling tidak melakukan pergantian sampel– yang akan berdampak terhadap penurunan kualitas data hasil estimasi.

Perilaku sebagian masyarakat di atas merupakan gambaran, ternyata masih ada yang kurang peduli atau belum sadar dengan statistik. Banyak faktor yang ikut menentukan kualitas data yang dihasilkan BPS, di antaranya kesadaran dan kejujuran responden dalam memberikan jawaban. Data yang berkualitas (baca; akurat) sangat penting, karena pada akhirnya akan digunakan sebagai acuan untuk pembangunan di masa depan.

Mengutip kata-kata terkenal dari mantan Presiden Amerika Serikat John F Kennedy yang mengatakan, “jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu”. Sebagai warga nanggroe yang baik, mari kita sadar statistik untuk Aceh yang lebih sejahtera. Selamat Hari Statistik!

* Hendri Achmad Hudori, SST, M.Si., BPS Kabupaten Aceh Besar. Email: [email protected] (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id