Gulee Jampu ala Okinawa | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Gulee Jampu ala Okinawa

Gulee Jampu ala Okinawa
Foto Gulee Jampu ala Okinawa

OLEH DR ILHAM MAULANA, Wakil Dekan III FMIPA Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Okinawa, Jepang

RASANYA tak ada yang tak kenal gulee campu atau gulee jampu (sayur campur) di Aceh. Ternyata tidak hanya ada di Aceh, di bagian paling selatan Jepang pun, tepatnya di Pulau Okinawa juga dikenal sayur campur. Sebutan untuk campuran sayuran ini pun sangat mirip dengan sebutan semacamnya di Aceh. Tumis campuran sayuran dengan telur dan tahu ini dikenal oleh masyarakat Okinawa dengan istilah chanpuru. Terkadang makanan ini juga ditambah daging. Beberapa jenis sayuran yang sering dijadikan bahan pembuatan chanpuru adalah kol, wortel, peria, tauge, bawang bombay, dan kucai. Sementara daging yang sering digunakan adalah daging babi.

Konon, kata chanpuru yang dijadikan nama makanan campur tersebut memang berasal dari bahasa Indonesia atau bahasa Melayu. Masyarakat Okinawa secara umum memang percaya pada sejarah bahwa budaya Okinawa saat ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan asing yang di antaranya berasal dari Jepang, Amerika, Cina, Thailand, dan Indonesia. Hal ini terhubung erat dengan hubungan perdagangan yang terjalin pada zaman dulu antara Okinawa dengan negara-negara tersebut. Bahkan mereka sendiri menyebut budayanya sebagai chanpuru bunka (budaya campur).

Fakta bahwa ada pengaruh bahasa Indonesia dalam budaya Okinawa memang masih bisa didiskusikan, apalagi ternyata dalam bahasa Jepang sendiri juga dikenal istilah champon atau dalam bahasa Mandarin ada istilah chan yang berarti mencampur. Bagaimanapun, istilah chanpuru digunakan oleh masyarakat Okinawa dalam banyak penyebutan, terutama makanan. Beberapa jenis makanan yang dinamakan chanpuru adalah goya chanpuru (orak-arik peria), mamina chanpuru (orak-arik tauge), tamana chanpuru (orak-arik kol dan bawang bombay), tofu chanpuru (orak-arik tahu), dan papaya chanpuru (orak-arik papaya).

Budaya campur ini juga yang membedakan orang-orang Okinawa dengan orang Jepang pada umumnya yang tinggal di pulau utama. Uniknya, mereka justru bangga dengan hasil akulturasi itu. Salah satu perbedaan mencolok adalah masalah makanan, seperti yang terjabarkan di atas.

Perbedaan lain yang mungkin saja dihasilkan oleh pengaruh budaya luar Jepang adalah kebiasaan untuk tidak terlalu tepat waktu. Bukan rahasia lagi bahwa orang Jepang terkenal dengan kedisiplinan waktu yang ketat. Namun, ternyata hal itu tidak benar-benar berlaku di Okinawa. Masyarakat yang tinggal di pulau ini terbiasa untuk ngaret sekitar 10-15 menit dari waktu yang disepakati.

Salah satu hasil pencampuran budaya yang disyukuri oleh masyarakat Okinawa adalah kemampuan mereka berkomunikasi dalam bahasa Inggris jauh lebih baik dibandingkan orang Jepang yang tinggal di pulau utama Jepang. Kemungkinan juga hal ini dikuatkan dengan kehadiran ribuan tentara amerika yang hingga saat ini menempati pangkalan militer Amerika Serikat di pulau tersebut. Selain itu, karena faktor bahasa ibu mereka, masyarakat asli pulau Okinawa juga lebih fasih dalam melafalkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris.

Masyarakat asli Pulau Okinawa dan pulau-pulau di sekitarnya memang memiliki bahasa ibu yang berbeda dengan bahasa Jepang. Salah satu bahasa asli masyarakat Okinawa adalah bahasa Uchinaguchi yang dituturkan oleh masyarakat Okinawa tengah hingga selatan. Sementara di bagian utara mereka lebih banyak berbicara dalam bahasa Kunigami. Sejak Okinawa menjadi bagian dari Jepang pada akhir abad ke-19, Pemerintah Jepang mewajibkan penggunaan bahasa Jepang baku sebagai bahasa pengantar resmi di Okinawa. Bahasa Okinawa sejak saat itu dilarang penggunaannya. Namun saat ini, bahasa Okinawa justru dijadikan salah satu objek penelitian intensif di Universitas Ryukyus, Okinawa.

Semua fakta tentang proses pencampuran yang terjadi di Okinawa ini menuntun masyarakat Okinawa untuk lebih terbuka dan sangat ramah pada pendatang. Hal ini sangat membantu daerah ini untuk memperkuat industri pariwisatanya. Kondisi alam yang indah serta iklim yang cenderung tropis telah dimanfaatkan oleh pemerintah daerah Okinawa untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu sumber pendapatan utama daerah ini.

Daerah Aceh bagaimanapun, punya banyak kesamaan dengan Okinawa, baik dari sisi budaya yang merupakan hasil pencampuran berbagai budaya dunia, makanan seperti gule campu-nya, juga potensi pariwisata dengan keindahan alam dan pantainya. Tapi sayangnya, potensi di Aceh belum terkelola secara optimal, sehingga kita masih jauh tertinggal dibandingkan Okinawa. (uri/homas/ebriani/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id