PT Samana Bantah belum Bayar Lahan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

PT Samana Bantah belum Bayar Lahan

PT Samana Bantah belum Bayar Lahan
Foto PT Samana Bantah belum Bayar Lahan

BANDA ACEH – PT Samana Citra Agung (SCA) membantah semua tudingan warga Gampong Kulee, Kecamatan Batee, Pidie, yang menyatakan pihaknya belum membayar ganti rugi lahan warga seluas 250 hektare yang diklaim kini telah dikuasai perusahaan. Ganti rugi lahan telah selesai sejak tahun 1997.

“Memang ada lahannya, tapi di luar area (pembangunan PT Semen Indonesia Aceh). Kita tidak tahu milik siapa. Yang diklaim lahan itu diambil oleh PT Samana tidak benar,” kata Safaruddin SH, kuasa hukum PT SCA dalam konferensi pers di salah satu rumah makan di kawasan Banda Aceh, Jumat (22/9).

Safaruddin didampingi Direktur Utama PT SCA, Deni Fahlevi dan Burhan, mantan Kepala BPN Pidie, menyampaikan bahwa penguasaan lahan oleh PT SCA telah terjadi sejak 1997 dengan bukti dua sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) dan 1998 dengan dua bukti sertifikat Hak Pakai (HP) seluas 1.558,83 hektare.

Ketika pabrik Semen Indonesia ingin didirikan, kata Safar, pihaknya sudah meminta masyarakat setempat yang merasa tanahnya masuk dalam area pembangunan pabrik semen dengan dibuktikan surat kepemilikan agar mengajukan komplain ke Kantor Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA).

Permintaan itu juga disampaikan kepada Keuchik Gampong Kulee agar memfasilitasi warganya. Saat itu, YARA memberi tenggat waktu selama 60 hari. Apabila ada warga yang tidak mengerti cara membuat permohonan komplain, YARA juga membantu membuatnya.

“Tapi sampai hari ini tidak ada komplain yang diajukan warga.

Kita tidak tahu berapa jumlah luas lahan yang dipersoalkan karena warga tidak memiliki bukti surat. Jadi, kita heran sebab sebenarnya masalah pembebasan lahan ini sudah clean and clear,” ujar Safar.
Sebelumnya, sejumlah warga Gampong Kulee, Kecamatan Batee, Pidie, Sabtu (16/9) pagi memblokir jalan menuju lokasi pembangunan pabrik Semen Indonesia Aceh (SIA), untuk menyuarakan tuntutan ganti rugi lahan seluas 250 hektare kepada PT Samana Citra Agung.

Amatan Serambi, pemblokiran jalan itu dilakukan dengan membentangkan kayu di ruas jalan depan Meunasah Gampong Kulee. Akibatnya, kendaraan operasional dan truk pembawa material pembangunan pabrik, termasuk kendaraan warga tidak bisa melintas, sehingga harus memutar mengambil jalan lain.

Tokoh masyarakat setempat yang juga mantan Keuchik Kulee, Muhammad Salabi (58), mengatakan, aksi tersebut dilakukan karena sejumlah warga pemilik lahan di lokasi pembangunan pabrik semen, belum menerima ganti rugi dari PT Samana sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pembebasan lahan pabrik tersebut.

Hanya Minta Kerja
Direktur Utama PT SCA, Deni Fahlevi dalam kesempatan itu juga menyampaikan bahwa sebenarnya isu ganti rugi lahan di area pembangunan pabrik Semen Indonesia Aceh yang disuarakan warga Gampong Kulee bukanlah persoalan yang mendasar. Sebab, masalah ganti rugi lahan telah selesai.

“Mereka (warga) pernah meminta ingin bertemu dengan saya. Ketika mereka bertemu di Pidie, mereka hanya bilang kami butuh kerja Pak. Jadi, isu (ganti rugi lahan) itu tidak pernah keluar ketika berhadapan langsung dengan kami,” katanya yang didampingi pegawainya.

Dia menjelaskan, PT SCA sudah membayar semua lahan warga dan membayar semua jenis tanaman yang ada di dalamnya termasuk tanaman yang tidak ada nilai. “Terhadap pohon yang tidak ada nilainya, Pemerintah Pidie saat itu membuat harga baru. Kita bayar juga,” ujarnya.

Setelah itu, tambahnya, masyarakat tidak pernah datang lagi ke PT Samana Citra Agung untuk mengkomplain. Tapi, ketika rencana pembangunan pabrik semen mencuat, warga kembali melakukan protes dengan melakukan demo dan mengusung isu ganti rugi lahan.(mas) (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id