Bencana Perubahan Iklim | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Bencana Perubahan Iklim

Bencana Perubahan Iklim
Foto Bencana Perubahan Iklim

Oleh Asmaul Husna

DI Indonesia, istilah perubahan iklim memang tidak sepopuler seperti kasus korupsi atau narkoba. Banyak yang menganggap ini hanyalah permasalahan biasa saja, tidak seakut kasus-kasus korupsi yang saban hari beritanya diantar oleh koran dan televisi. Hal itu disebabkan karena dampak perubahan iklim selalu berkaitan dengan permasalahan lain sehingga yang dilihat sebagai masalah adalah permasalahan lain tersebut.

Ketidakpedulian dan kekhawatiran terhadap perubahan iklim juga disebabkan karena banyak yang menganggap bahwa dampak perubahan iklim itu adalah persoalan yang terjadi “nanti”, sesuatu yang akan terjadi saat mungkin generasi sekarang sudah mati. Jadi tidak perlu dikhawatirkan sekarang, karena toh puluhan tahun depan mungkin kita tidak lagi sempat mengalaminya. Anggapan seperti inilah yang membuat banyak orang tidak mau ambil pusing dengan perubahan iklim. Selama hutan Indonesia masih menyimpan kekayaannya, selama itu pula keserakahan tak berganti nama.

Namun dampak perubahan iklim sebenarnya bukanlah persoalan “nanti”. Faktanya, dampak yang ditimbulkan semakin berserakan di depan mata. Akhir-akhir ini kita sering disuguhkan berita tentang kebakaran hutan, kekeringan, dan badai di laut lepas. Di Aceh misalnya, beberapa waktu lalu hutan di Aceh Barat terbakar sempurna hingga mencapai 65 Ha (Serambi, 27/7/2017). Belum lagi kebakaran lahan gambut seperti yang terjadi di Nagan Raya dan Aceh Jaya, juga ikut menambah daftar derita hutan Aceh dan tentunya mengundang bencana.

Tidak berhenti pada kebakaran hutan, kabar kekeringan yang melanda berbagai daerah di Indonesia juga santer terdengar. Di beberapa daerah, warga terpaksa mengandalkan sumur bor untuk menyuplai air ke sawah guna menyelamatkan tanaman padi dari ancaman mati sebelum dipanen. Sebagian lainnya, petani terpaksa memotong padi yang sudah puso akibat kemarau sehingga memanggang tanaman hijau tersebut dan akhirnya terpaksa menjadi pakan ternak. Ancaman kelaparan pun tidak bisa dihindarkan.

Bencana tidak berhenti pada kebakaran dan juga kekeringan. Baru-baru ini, kabar tentang badai di perairan Samudera Hindia dan Selat Malaka di ujung utara Aceh juga memantik kekhawatiran tinggi. Beberapa waktu lalu, dua boat tenggelam di jalur Banda Aceh-Sabang dan perairan Aceh Utara (Serambi, 16/9/2017). Di musim pancaroba seperti ini, boat yang karam, nelayan yang hilang, adalah kabar buruk yang selalu membayang. Karena ketika cuaca buruk melanda, maka kemungkinan kabar buruk juga akan menyerta.

Dampak perubahan iklim
Beberapa peristiwa di atas hanyalah sebagian dari dampak perubahan iklim yang terjadi di Aceh. Sebelumnya pada 2015, kebakaran hutan di Riau juga menyisakan derita tak terkira. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, ada 156 titik panas sumber kabut asap di Sumatera dan Kalimantan. Di Sumatera, kabut asap menyelimuti 80 persen wilayahnya. Paling tidak, 25,6 juta jiwa terpapar asap, yaitu 22,6 jiwa di Sumatera dan 3 juta jiwa di Kalimantan (Kompas.com, 5/9/2015).

Di Indonesia, kebakaran lahan menjadi tantangan terbesar dalam perubahan iklim. Hal tersebut tidak hanya berefek pada meningkatnya emisi gas rumah kaca secara signifikan, tapi juga berdampak buruk bagi kesehatan. Nyatanya, dampak lingkungan sudah dimula sejak dalam kandungan. Bayi yang lahir akan mudah terserang penyakit karena sejak mengandung, ibunya sudah menghirup kabut asap yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan.

Tidak hanya lingkungan, perubahan iklim juga bisa mengancam kesehatan mental. Di Australia, seorang remaja mengalami stres akibat perubahan iklim. Ia menolak untuk minum air, karena ia meyakini tindakannya tersebut dapat mengakibatkan kematian jutaan orang di negara-negara yang dilanda kekeringan hebat seperti yang terjadi di beberapa negara di Benua Afrika.

Kabut asap menjadi ancaman serius. Ia bisa menjadi pemantik awal yang mengundang berbagai penyakit. Di Aceh Barat akibat kebakaran lahan selama hampir dua minggu, ratusan warga terkena Ispa atau penyakit pernapasan akibat pekatnya kabut asap yang melanda. Secara tak langsung, asap menurunkan daya tahan tubuh dan meningkatkan stres sehingga Ispa lebih mudah terjadi. Asap juga memperburuk kondisi penderita sakit jantung, ginjal, atau pun penyakit paru kronis seperti bronkitis. Belum lagi meningkatnya serangan wabah malaria dan demam berdarah.

Dampak buruk kebakaran hutan Indonesia bagi kesehatan tidak hanya menyasar penduduk lokal saja. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura juga harus merasakan derita dicekik kabut asap selama berbulan-bulan. Kadar cemaran kabut asap yang melanda sampai ke negeri jiran itu telah melebihi ambang batas aman. Tidak hanya jiran, kerusakan hutan Indonesia juga akan berdampak buruk bagi perubahan iklim dunia.

Somalia adalah bukti nyata bagaimana dampak perubahan iklim begitu mengerikan. Pada Maret lalu, hampir tiga juta orang di Somalia menghadapi kerawanan pangan. Dalam rentan waktu 48 jam, 110 warga Somalia mati kelaparan dan mengalami dehidrasi akibat kemarau yang kerontang. Puluhan kematian juga terjadi karena penyakit kolera akibat kurangnnya minum air bersih. Kekeringan tersebut membuat 50.000 anak berisiko meninggal. Sebelumnya, saat bencana kelaparan melanda Somalia pada 2010-2912, hampir 260 ribu orang meninggal (bbc.com, 5/11/2017).

Menumbuhkan kesadaran
Darurat kabut asap akibat kebakaran hutan dan badai di lautan bukanlah kutukan Tuhan. Bencana ini adalah permintaan. Sesuatu yang telah “direncanakan.” Di era reformasi dan otonomi daerah, hutan lindung dan konservasi berubah fungsi menjadi hutan produksi. Hutan Indonesia mengalami tekanan kuat terjadinya penebangan liar dan penggarapan kawasan untuk lahan pertanian. Hal ini juga cenderung mendapat dukungan dari pemerintah daerah yang ingin mengubah hutan lindung menjadi hutan produksi. Penebangan liar seolah berjalan beriringan dengan izin pemerintah yang membolehkan tambang di wilayah hutan lindung untuk sekadar meningkatkan pendapatan daerah tanpa mempertimbangkan efek yang ditimbulkan.

Melihat berbagai dampak yang ditimbulkan akibat perubahan iklim tersebut, maka perlu menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Deforestasi akibat pengalihan hutan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit harus segera dihentikan. Pemerintah dapat melakukannya dengan mencabut izin usaha perusahaan yang terbukti telah merusak lingkungan. Karena jika tidak segera dihentikan, bukan tidak mungkin pada 2030, pulau-pulau kecil Indonesia juga akan hilang akibat pemanasan global.

Dampak perubahan iklim memang tidak terlihat langsung seperti pembantaian etnis Rohingya atau pun para koruptor yang memiskinkan rakyat jelata. Tetapi perubahan iklim mampu membunuh pelan-pelan. Jika peristiwa perubahan iklim ini dibiarkan begitu saja, maka bukan hanya koruptor yang dicekik mati karena asap kebakaran hutan, tapi rakyat jelata hingga pemuka agama juga akan merasakan dampak yang sama. Bencana tidak memilah korban antara orang baik dengan yang durjana. Selama ada kerusakan, maka setiap orang di sekitarnya juga dianggap telah menyumbang kesalahan. Deforestasi hutan harus segera dihentikan untuk menyelamatkan korban perubahan iklim yang tak berdosa. Sungguh, kiamat iklim itu sudah dekat.

Asmaul Husna, peminat isu sosial dan lingkungan. Email: [email protected] (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id