Dalam Kesyahduan Tahun Baru Islam | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dalam Kesyahduan Tahun Baru Islam

Dalam Kesyahduan Tahun Baru Islam
Foto Dalam Kesyahduan Tahun Baru Islam

RINAI hujan menyapu pelataran Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (20/9) malam, bersama alunan zikir yang menggema dari bibir seribuan jamaah yang memadati masjid. Tumpah ruah hingga ke teras, sebagian jamaah memilih lesehan di bawah payung elektrik yang mengembang dengan anggunnya. Menampilkan wajah baru masjid kebanggaan masyarakat Aceh yang berdiri sejak abad ke-17 itu.

Sesekali tempias mengelus wajah-wajah teduh jamaah. Syahdu. Kecipak kaki para bocah berlarian di lantai marmer pelataran rumah Allah yang mengilap lantaran digenangi air.

Bertepatan dengan malam Jumat, malam paling mulia, di bawah langit bulan September, umat muslim Aceh dan umat muslim lainnya di berbagai belahan dunia, berkumpul untuk menyanjungkan puja dan puji ke hadirat Ilahi. Mereka memaknai Tahun Baru Islam dengan mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

“Pada momen 1 Muharam nyoe kiban amalan tanyoe, peu jalan di tempat atau jalan santai? Ta kaji, ta letakkan niat, ta peugleh hate. (Pada momen 1 Muharam ini bagaimana amalan kita? Apa jalan di tempat atau jalan santai? Kita kaji, kita niatkan membersihkan hati),” seru Tgk Khairun dalam ceramah singkatnya.

Membuka zikir setelah shalat Isya tersebut, ia mengajak umat Islam untuk introspeksi diri. Betapa waktu seperti berlari dan kini sudah memasuki tahun 1439 Hijriah. Sejarah hijrah sang Nabi Muhammad saw, hendaknya menjadi pengingat bagi umat manusia untuk senantiasa menuju ke arah yang lebih baik. Bagaimana cara umat muslim memaknai tahun baru dengan spirit yang diajarkan agama dan sungguh Nabi Muhammad Saw adalah sebaik-baik teladan.

Ya, refleksi tahun baru Islam tak ubahnya ritual, hanya semangat hijrahnya lah yang menjadi pembeda. Wallahu ‘alam. Hanya manusia itu sendiri dan Sang Pemiliknya yang tahu.

Pada hari yang sama, umat muslim Tanah Air, tak terkecuali di Aceh, juga ramai-ramai menggelar pawai. Gempita Tahun Baru Islam begitu terasa, meski di tengah cuaca yang tak menentu. Setidaknya begitulah agama dan budaya melebur di tengah masyarakat dengan populasi muslim terbesar dunia.

Malam beranjak tua, dingin semakin mengggigit. Usai siraman rohani, di bawah pimpinan Ustaz Samunzir, jamaah larut dalam zikir. Bersama doa-doa pembuka tahun yang dipanjatkan. Bergaung tak ubahnya seperti berlomba dengan deru kendaraaan yang berlarian di jantung kota. Di luar rinai hujan masih mengguyur, di dalam rumah Allah derai airmata menitik. Menebar semangat hijrah bagi mereka yang mau berubah. Selamat Tahun Baru Islam. (nurul hayati) (uri/homas/ebriani/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id