Muhasabah Pergantian Tahun | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Muhasabah Pergantian Tahun

  • Reporter:
  • Jumat, September 22, 2017
Muhasabah Pergantian Tahun
Foto Muhasabah Pergantian Tahun

Oleh Abdul Gani Isa

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus…” (QS. at-Taubah: 36)

MEMASUKI tahun baru Hijriyah, ditandai dengan masuknya bulan Muharram. Yang berarti kita telah meninggalkan 1438 Hijriyah, dan memasuki tahun baru 1439 Hijriyah. Di tahun baru Hijriyah ini, kita sebagai muslim yang taat, perlu introspeksi diri (muhasabah), terhadap semua apa yang telah kita lakukan atau kita perbuat. Dan memilih semua bentuk amalan yang baik untuk tetap kita pertahankan dan meningkatkan amalan yang baik untuk kita kerjakan, serta meninggalkan semua perbuatan yang tidak bermanfaat, baik untuk diri kita ataupun orang sekitar kita.

Di dalam tahun baru ini, kita senantiasa berusaha untuk menjadi hamba Allah Swt yang taat akan perintahnya, dengan menjalankan semua kewajiban, menegakkan hukum syariat-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah Swt berfirman bahwa manusia memiliki tugas utama untuk beribadah kepada-Nya (QS. adz-Dzariyat: 56). Kalaulah di tahun-tahun lalu kita masih sering melakukan berbagai kesalahan atau masih banyak kekurangan, maka marilah kita tutup kekurangan-kekurangan itu dengan semangat “hijrah”, memperbaiki diri menuju kesempurnaan, baik itu dalam beribadah, bekerja, bermasyarakat, dan berkreasi.

Sesuai dengan makna aslinya, hijrah memiliki pengertian meninggalkan (at-tarku) atau berpindah (al-intiqâl). Jika di masa-masa lalu masih banyak berbagai kemaksiatan yang kita lakukan, maka marilah kita ganti kemaksiatan itu dengan semangat memperbanyak amalan saleh. Mengajak orang berbuat yang makruf dan mencegahnya dari berbuat munkar. Kapan lagi kita memperbaiki diri, kalau bukan sekarang (ibda‘ binafsik). Dan tidaklah pantas kita menundanya, karena kita tidak tahu, kapan kehidupan di dunia ini berakhir.

Tidak abadi
Perlu juga diingat bahwa Allah Swt tidak menjadikan kehidupan di dunia ini abadi, sebagaimana firman-Nya, “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu Muhammad. Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan kematian, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kamu sekalian dikembalikan.” (QS. al-Anbiya: 34-35).

Ayat di atas sungguh sangat jelas menerangkan, bahwa kehidupan di dunia ini tidak kekal, dan semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.

Pandangan senada dikuatkan oleh Ibnul ‘Araby dalam tafsirnya Ahkâmul Qur’an, yaitu: Pertama, hijrah dari satu negeri yang sedang berperang atau dalam status darurat perang ke negeri yang aman damai. Contohnya, hijrah Rasulullah saw dan para shahabat dari Mekkah ke Madinah. Hukumnya adalah wajib. Kedua, menyingkirkan diri dari negeri yang didominasi oleh perbuatan-perbuatan keagamaan yang diada-adakan (bid’ah), yang tidak bersumber kepada Alquran dan Sunnah. Ketiga, keluar dari negeri yang dikuasai oleh perbuatan-perbuatan maksiat (haram). Menentang perbuatan haram itu wajib bagi setiap Muslim.

Keempat, menyingkirkan diri dari tindakan penindasan dan teror yang bersifat fisik, seperti Nabi Ibrahim as menyingkir dari kezaliman Namruzisme, Nabi Musa dari Fir’unisme dan lain-lain. Dan, kelima, menyingkirkan diri karena khawatir atau merasa tidak ada jaminan keselamatan harta-benda, karena perlindungan terhadap keselamatan harta-benda itu, menurut pandangan Islam setara dengan perlindungan terhadap jiwa kaum keluarga dan lain-lain.

Jika demikian, mengapa manusia lalai dan terus berada dalam kubangan kemaksiatan, dan menunda-nunda waktu untuk taubat dan berbuat amalan shaleh. Bukankah kita sudah tahu bahwa ajal manusia adalah rahasia Allah Swt semata, sebagaimana firman-Nya, “Tiap-tiap umat memiliki batasan waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak akan mengundurkannya barang sesaatpun, dan tidak dapat pula memajukannya.” (QS. al-A’raf: 33).

Ayat ini memberi informasi bahwa umur kita akan terus berjalan seiring jarum jam berputar, dan kesempatan tidak akan pernah mengiringi putaran jarum jam, dan yang pasti kesempatan itu, tidak akan pernah ada untuk kedua kalinya. Ini berarti umur kita bukannya semakin bertambah, tetapi sebaliknya dari tahun ketahun umur kita semakin berkurang, akhirnya mati.

Oleh sebab itu marilah kita isi hidup ini dengan memperbanyak amal saleh, belajar dengan giat, bekerja dengan ikhlas, dan beribadah dengan mengharapkan ridha Allah Swt semata. Sekarang kita masih hidup, tetapi siapa tahu besok pagi kita akan mati. Sekarang kita masih dapat menikmati tahun baru hijriah, tetapi siapa tahu tahun depan kita akan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Untuk bahan renungan, ada baiknya mengingatkan kembali satu riwayat tentang anak Umar bin Khatab, saat pulang dari sekolahnya sambil menghitung tambalan-tambalan melekat di bajunya yang sudah usang dan kusut.

Dengan rasa kasihan, Umar sang Amirul Mukminin sebagai ayahnya mengirim sepucuk surat kepada bendaharawan negara, yang isinya minta agar beliau diberi pinjaman uang sebanyak 4 (empat) dirham, dengan jaminan dipotong gajinya bulan depan. Kemudian, bendaharawan itu mengirim surat balasan kepada Umar yang isinya, “Wahai Umar, apakah engkau telah dapat memastikan bahwa engkau akan hidup sampai bulan depan? Bagaimana kalau engkau mati sebelum melunasi utangmu?”

Membaca surat bendaharawan itu, maka seketika itu juga Umar tersungkur menangis. Lalu, beliau menasehati anaknya dan berkata, “Wahai anakku, berangkatlah ke sekolah dengan baju usangmu itu sebagaimana biasanya, karena kamu tidak dapat memperhatikan umurku walaupun untuk satu jam.”

Sungguh, batasan umur manusia tidak ada yang mengetahuinya, kecuali hanya Allah Swt semata. Wama tadri nafsun madza taksibu ghadan, wama tadri nafsun biayyi ardhin tamut (QS. Luqman: 34). Setiap diri tidak tahu apa yang dikerjakan besok, dan setiap jiwa tidak tahu di bumi mana ia akan dikuburkan.

Introspeksi diri
Oleh karena keterbatasan tersebut, dan karena rahasia Allah Swt semata, maka marilah kita pergunakan kesempatan hidup ini dengan meningkatkan ketakwaan kita kepada-Nya dan menambah semangat beramal ibadah yang lebih besar lagi.

Mari terus-menerus semua kita melakukan introspeksi diri dan muhasabah dalam menyambut tahun baru hijriah, adalah sangat perlu bagi kita untuk berkaca diri, menilai dan menimbang amalan-amalan yang telah kita perbuat selama ini, kiranya hari esok lebih baik dari hari kemarin, penilaian ini bukan hanya untuk mengetahui seberapa besar perbuatan kita. Tapi itu semua dilakukan untuk mengendalikan semua bentuk amalan perbuatan yang hendak kita lakukan dengan penuh pikiran, pertimbangan, dan pertanggung jawaban.

Sebab, manusia yang tidak pernah bercermin diri bagaikan binatang liar yang terlepas dari jeratan, ia akan berlari dengan sekencang-kencangnya dan melompat dengan sekuat tenaga tanpa menghiraukan kalau itu akan membahayakannya kembali. Manusia yang demikian akan berbuat sekehendak hatinya, tanpa berpikir dan pertimbangan, yang pada akhirnya ia akan terjatuh ditempat yang sama dan meratapi perbuatannya dengan berulang-ulang kali, sungguh malang nasibnya jika setiap tahun ia harus terjatuh dan terjatuh lagi di tempat/lubang yang sama.

Rasulullah saw juga mengingatkan umatnya tentang perbuatan yang tercela, dengan sabdanya, Tanda kecelakaan itu ada empat: Pertama, tidak mau mengingat dosa yang telah lalu, padahal dosa-dosa itu tersimpan di sisi Allah Swt; Kedua, menyebut nyebut segala kebaikan yang telah diperbuat, padahal siapa pun tidak tahu apakah kebaikan kebaikan itu diterima atau ditolak; Ketiga, memandang orang yang lebih unggul dalam soal duniawi, dan; Keempat, memandang orang yang lebih rendah dalam hal agama.

Allah Swt berfirman, Aku menghendaki dia, sedang dia tidak menghendaki diri-Ku, maka dia Aku tinggalkan. Sungguh sangat malang dan tiada ungkapan bagi manusia yang ditinggalkan sang Khaliq. Akan tetapi Allah Swt, Maha bijaksana, sehingga ia tidak menghendaki hamba-hamba-Nya terjerumus dalam kehancuran. Akan tetapi Allah Swt memberikan tuntunan hidup berupa agama Islam, yang di dalamnya terdapat ajaran-ajaran yang menuju kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu, berbahagialah bagi mereka yang memperoleh nikmat umur yang panjang dan mengisinya dengan amalan-amalan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang bijak. Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. Ahmad).

Adalah suatu tindakan yang bijak, jika manusia berbuat salah, kemudian ia sadar dan memperbaiki kesalahannya dengan berbuat amalan yang baik dengan komitmen tidak akan mengulangi kesalahannya itu. Ingat! Pakaian terakhirmu adalah kain kafan, kenderanmu adalah keranda, rumah masa depan adalah kuburan, teman menyertaimu adalah amal, dan gelar terakhirmu adalah almarhum/almarhumah. Wallahu a’lamu bis-shawab.

* Dr. H. Abdul Gani Isa, SH, M.Ag., Staf Pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Anggota MPU Aceh. Email: [email protected] (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id