Hijrah, Kecemasan atau Harapan Baru? | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Hijrah, Kecemasan atau Harapan Baru?

Hijrah, Kecemasan atau Harapan Baru?
Foto Hijrah, Kecemasan atau Harapan Baru?

Oleh Nurma Dewi

SEMANGAT dan “persatuan Islam” terus menyala di hati kaum muslimin, tetapi lumpuh dalam fakta. Di balik meluapnya harapan itu, ada sebuah proses telah menuntut pergorbanan yang teramat mahal dan tidak mungkin manusia dapat menggantikannya yaitu hilangnya nyawa. Satu nyawa sesungguhnya sudah terlalu mahal untuk terjadinya proses perubahan. Nyawa adalah karya Tuhan, manusia dengan alasan apa pun tidak berhak mengambil dari orang lain.

Gejala apakah sesungguhnya terjadi di masyarakat Islam? Sulit memberi jawaban secara konprehensif dan kuat. Barangkali akibat yang ditimbulkan dari gejala itu yang memang luar biasa seperti perang saudara, pengungsi di segenap tragedi kemanusiaan, kehancuran infastruktur fisik dan sosial, hilangnya nyawa yang tak lagi terhitung. Lihatlah duka cita yang masih berlangsung di Palestina, Irak, Afghanistan, Suriah, Libya, Mesir, Yaman, Myanmar.

Penderitaan Rohingya, Palestina, bukanlah semata persoalan dua etnis atau bangsa yang berbeda, namun itu merupakan persoalan kemanusiaan yang menuntut tanggung jawab semua orang. Pesan utama kepada semua orang bahwa masalah Palestina, Rohingya, adalah masalah kemanusiaan mendesak saat ini. Kita lupa akan pesan dari langit, bahwasanya Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin. Cita-cita inilah yang harus kita realisasikan untuk dapat tercipta kehidupan manusia yang bahagia, aman, sejahtera di seluruh permukaan bumi. Dalam Negara-negara yang sedang berkonflik, Islam “rahmat bagi semesta alam” terasa sangat jauh, tetapi umat Islam tidak boleh melepaskan misi ini, karena ini pesan dari langit dan betapapun kerusakan dibumi pesan ini harus direalisasikan.

Makna hijrah
Secara harfiah hijrah artinya berpindah. Secara istilah mengandung dua makna yaitu, hijrah makani dan hijrah maknawi. Hijrah makani adalah hijrah secara fisik berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain atau dari suatu tempat yang kurang baik menuju tempat yang lebih baik. Misal hijrah Rasulullah saw dari Mekkah ke Madinah. Keterancaman kehidupan Rasulullah dan para sahabat, membawa Rasulullah meninggalkan tanah kelahirannya.

Awalnya Rasulullah mengizinkan sekitar 200 orang muslim pergi ke Madinah secara diam-diam guna menghindari kekejaman Quraisy. Kemudian Nabi Muhammad menyusul dan tiba di Madinah pada 24 September 622. Bisa juga hijrah karena gangguan terhadap harta benda, hijrah menghindari tekanan fisik, seperti hijrahnya Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as, ketika dua Nabiyullah ini khawatir akan gangguan kaumnya.

Adapun hijrah maknawi adalah berpindah dari nilai yang kurang baik menuju ke nilai yang lebih baik. Dari perangai yang tidak elok menuju keperangai yang elok. Juga hijrah dengan menundukkan hawa nafsu untuk mencapai derajat kemanusiaan. Hijrah yang mengakhiri periode Mekkah dan mengawali periode Madinah merupakan titik balik kehidupan Rasulullah. Akibat “hijrah” menjadikan Islam dikenal keseluruh bumi.

Hijrah dalam arti berpindah, yaitu berpindah dari tidak taat kepada Allah menjadi taat, dari korupsi menjadi tidak korupsi, dari pemakai narkoba menjadi tidak narkoba, dari perilaku pedagang yang curang dalam timbangan ataupun takaran menjadi pedangang yang adil, dari perilaku buang sampah sembarangan menjadi membuang sampah pada tempatnya, dari tidak menjaga lingkungan menjadi menjaga lingkungan, dari perokok menjadi tidak merokok, dari tidak membaca menjadi gemar membaca, dari lemah kebermutu dan unggul, dari bodoh menjadi berilmu pengetahuan, dari sering menyebarkan berita dusta menjadikan orang yang berkata baik dan benar lagi bijaksana.

Hijrah dari perilaku menerobos lampu merah menjadikan kita orang yang mematuhi peraturan berlalu lintas. Ini hal-hal kecil yang dilakukan, namun Allah memberi apresiasi terhadap setiap kebaikan yang dilakukan meskipun sekecil zarrah. Setiap perbuatan baik tak ada yang sia-sia karena kebaikan akan kembali kepada yang melakukannya. Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah, apakah itu ucapan, perbuatan, keberpihakan dan intimidasi. Lalu, apa yang harus ada dalam hijrah? Yaitu niat karena Allah karena kesucian niat mempengaruhi kebaikan amal perbuatan.

Harapan baru
Sejak masa awal dakwah Islam, ketika kaum muslim di Mekkah menjadi pribadi yang tertindas dan selalu dalam kejaran musuh. Al-Qur’an telah menumbuhkan dari mereka suatu masyarakat yang memiliki rasa kesetiakawanan yang sempurna. Pribadi-pribadi mereka disatukan dengan ikatan persaudaraan dan solidaritas, yaitu iman kepada Allah dan menyembah-Nya dengan mendirikan shalat, bergotong royong, tukar menukar pendapat, bekerja sama dalam infak, dalam urusan ekonomi.

Pribadi-pribadi terdahulu memiliki semangat persatuan yang membuat mereka kuat. Inilah yang telah hilang dari kita. Kita sangat mudah di obok-obok oleh berita yang tidak valid. Padahal Islam menyuruh umatnya untuk meneliti informasi tersebut. Kalau dalam tubuh internal kita tidak dapat bersatu, bagaimana kita bisa membantu saudara-saudara semisal di Palestina yang sudah cukup lama dalam duka, untuk menjadikan Palestina merdeka hanya butuh pengakuan dari Yahudi.

Begitu juga krisis Rohingya, Irak, dan Suriah. Pun Indonesia kita punya dilema tersendiri. Kemiskinan masih mendominasi, pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat bawah belum ada dampak yang signifikan. Barangkali ada pemberdayaan ekonomi, akan tetapi tidak ada sebuah pengawasan. Setelah diberi bantuan mereka lepas begitu saja. Dalam pemberdayaan ekonomi kita harus merekrut pengusaha dan para dermawan.

Demikian juga masalah pendidikan yang terus mencari formulasi baru guna mengatasi krisis moralitas anak bangsa. Begitu juga persoalan politik yang belum tampak kedewasaannya dan diperparah dengan prilaku pejabat-pejabat yang korupsi sampai triliunan. Penggangguran merupakan hal krusial, terlihat dominannya pelamar CPNS 2017. Satu fomasi diserbu ribuan pelamar. Ini menandakan ketidak tersediaannya lapangan kerja.

Dalam menyambut momentum tahun baru 2439 Hijriah ini, patut kita renungkan sebuah sabda Rasullullah saw, “Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, itulah orang yang beruntung. Siapa yang hari ini sama saja dengan kemarin, itu adalah orang yang rugi. Siapa yang hari ini lebih jelek dari hari kemarinnya, maka ia adalah orang yang terlaknat.” (HR. Hakim).

Pesan dari sabda ini dapat menjadi pemantik untuk terus berbuat kebaikan di manapun kita berada. Penanggalan hijriah memiliki signifikansi dalam bidang peradaban. Namun umat Islam, tidak boleh terjatuh dalam kenangan kejayaan masa lalu, akan tetapi bagaimana apa yang telah Rasul contohkan baik dalam sikap, ucapan, perbuatan dapat mengwarnai dalam kehidupan kita sehari-hari.

Semangat tahun baru Islam sebagaimana semangat Umar bin Khatab yang menyatukan satu persepsi dengan menetapkan kalender Hijriah, kita seyogyanya memiliki semangat persatuan, persatuan dalam ekonomi, persatuan dalam politik, persatuan dalam teknologi, persatuan dalam dunia pendidikan, persatuan dalam mazhab yang berbeda, dan dengan persatuan ini kita akan melihat kekuatan umat Islam yang mengangumkan. Muara persatuan ini adalah menuju pada persatuan segenap umat Islam yang diikat oleh kesamaan agama yang membentuk solidaritas sedunia.

* Nurma Dewi, Warga Gampong Ilie, Ulee Kareng, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id