Pijay Krisis Solar | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pijay Krisis Solar

Pijay Krisis Solar
Foto Pijay Krisis Solar

* Nelayan tak Melaut

MEUREUDU – Krisis bahan bakar minyak (BBM) jenis bio solar di Kabupaten Pidie Jaya dalam satu bulan terakhir, membuat para nelayan di daerah ini tidak melaut. Padahal, nelayan merupakan pihak yang secara khusus diberikan akses untuk menggunakan solar bersubsidi.

Pantauan Serambi di perkampungan nelayan kawasan Meunasah Jurong Teupin Pukat, Kecamatan Meurahdua, Selasa (19/9), puluhan boat nelayan mulai dari boat berkapasitas 2 GT hingga boat bermesin tempel (tep-tep), tidak beraktivitas dan nelayan menganggur.

Hanya sebagian kecil boat nelayan yang memaksa turun ke laut demi menghidupi keluarga. Karena sudah terlalu lama menganggur. “Persediaan solar sangat terbatas. Sehingga dalam seminggu, kami hanya bisa satu hari di laut dan empat hari di darat (menganggur),” kata Zulkifli, nelayan di kawasan Teupin Pukat, kemarin.

Kondisi ini juga dibenarkan sejumlah nelayan di kawasan itu yang bernasib sama. Mereka berharap perhatian dinas terkait (DKP Pijay) agar mencari solusi segera untuk mengatasi persoalan ini.

Selama ini, nelayan cenderung menggunakan BBM jenis bio solar karena harganya lebih murah (subsidi), yaitu Rp 5.150 per liter. Sementara Solar Dex harganya mencapai Rp 7.300 per liter.

Kebutuhan solar untuk boat nelayan, sedikitnya dua jeriken (80 liter per hari. Kebutuhan tersebut sulit mereka dapatkan, karena persediaan solar di SPBU Meurahdua dan SPBU Bandardua –tempat biasa nelayan membeli solar– sangat terbatas.

“Seharusnya pemerintah membangun SPBN (Stasiun Pengisian Bahan bakar untuk Nelayan) di daerah ini.Sehingga kami tak perlu berebut solar dengan warga yang tak berhak menggunakan solar bersubsidi,” ujar Zulkifli.

Direktur SPBU Meurahdua, Dahlian, yang dikonfirmasi kemarin, mengaku pasokan Bio Solar dan Solar Dex dibatasi, lantaran pasokan yang diberikan pihak Pertamina tidak sebanding dengan kebutuhan rata-rata per hari kecil. “Selama ini, solar dipasok paling banyak 8 ton per hari. Sementara kebutuhan riil mencapai 16 ton hari,” ungkapnya

Karena itu, kata Dahlian, penjualan bio solar untuk nelayan ia batasi hanya satu jeriken (40 liter) per orang. “Jika mau tambah, mereka harus beli Solar Dex (nonsubsidi) dengan jatah satu jeriken lagi. Namun banyak nelayan menolak, karena harganya mahal,” kata Dahlian.

Persoalan krisis bahan bakar termasuk solar ini, ujar Dahlian, sudah disampaikan pada semua Abu Laot Lhok se-Pijay pada pertemuan sebelumnya. “Bukan kami tak melayani nelayan, tapi memang jatah yang diberikan sangat sediit. Sehingga penjualannya terpaksa kami batasi,” tambahnya.(ag) (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id