Dari Mekkah ke Madinah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dari Mekkah ke Madinah

Dari Mekkah ke Madinah
Foto Dari Mekkah ke Madinah

(Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1439 H)

Oleh Muhammad Yakub Yahya

ZAMAN beralih, musim berputar. Hujan dan kemarau saling bergantian. Siang dan malam, iringi damai dan perang bersama anak Nabi Adam as. Cucu dan cicit Siti Hawa. Bulan sabit dan purnama, terus muncul dan terbenam. Saat sejengkal tanah di sini berdarah-darah sesama, ada sehasta di belahan lain yang sedang kumpulkan donasi untuk membantu. Saat sedepa bagian bumi di sana sedang dijajah dan komunitasnya diusir, selalu ada tangan di sini yang menengadah memohon kedamaian pada Tuhan.

Kita wajib sadari, usia dunia kian ringkih. Sungguh banyaknya perang itu sebuah pertanda. Kita sedang dekati kiamat. Kiamat sudah dekat. Namun jika di tangan kita ada benih, padahal besok langit digulung, wajib kita tebarkan benih itu. Jika besok langit runtuh, maka aturan, regulasi, dan dakwah tetap jalan.

Bulan beranjak, tahun berganti. Mari kita isi dengan zikir dan amalan baik. Bukan dengan tiupan lilin dan tepuk tangan. Sebab umur kita berkurang, tak elok dirayakan. Kita kian dekat ke liang lahat, di antara batu nisan. Maut kadang masih lama mengintai kita yang disebut orang tua ini. Saat yang sama kita sedang kafankan dan mandikan satu anak muda. Muda belia maut di balapan. Ajal bisa saja masih lama mengintip ke gubuk kita yang dipanggil nenek kakek. Saat yang sama kita sedang kebumikan seorang cucu dan remaja. Almarhum hanyut di pantai hari liburan.

Izrail mungkin masih lama menunggu jadwal kita. Meskipun kita sedang sakit menahun. Pada saat yang sama kita baru saja takziahi jenazah saudara kita yang dibilang kekar dan sehat. Karena kelebihan makan durian semalam. Malikul maut kadang masih lama ke rumah kita yang sembunyikan batu empedu, darah manis, tinggi darah, lemak gapah, kolesterol dan batu di pinggal ini. Padahal kita baru pulang kenduri tujuh harian di lorong sebelah. Kelahiran kenal nomor urut, kakek dan ayah dulu, baru anak dan cucu. Kematian mengenal nomor acak, bukan nomor urut.

Perenungan hijrah
Inilah secuil makna saban tahun kita tapaki awal bulan dan harinya. Selamat Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1439 Hijriah. Lebih dari empat juta warga Islam di nanggroe indatu Aceh, bersama lebih dari satu miliar populasi Islam di bumi, pada 2017 ini kembali merenungi tahun baru Hijriah. Dalam dukacita, juga suka. Kedukaan kita antara lain, karena perenungan hijrah Nabi Muhammad saw dan sahabat yang mulia dulu itu, bersamaan dengan kabar pengusiran kaum muslimin dari kampung halamannya.

Terma hijrah kali ini, beriringan dengan cobaan terhadap kadar keimanan dan citra persaudaraan setiap kita, pada ribuan masyarakat Islam Rohingya. Saudara kita di seberang yang seiman dan seakidah dengan kita ini, terus dibantai dan diusir oleh pemerintah zalim. Nun jauh di seberang negara lain, di belahan dunia Allah ini, juga hampir sama, hamba Allah ini terzalimi dan terjajah.

Merenungi tahun baru Islam ini, kita terus iringi doa dan empati pada saudara serumah kita. Yang disebutnya sedang ditakdirkan kurang mapan. Simpati kita pada tetangga sebelah. Yang disebutnya sedang diuji sedang kurang beruntung. Rasa berbagi kita pada saudara lain lorong, beda dusun, dan sebelah kampung, gampong siblah yang kurang maju.

Substansi hijrah generasi awal, dari kemurahan kaum Anshar pada zuhud dan qanaah-nya Muhajirin dulu, yang hampir 15 abad silam, sukses diajarkan pada kita sejak kita kanak-kanak, dan kini sedang mengantar anak-anak ke madrasah. Dilanjutkan oleh sikap egalitarianisme, sosialisme, dan universialisme Islam itu oleh generasi emas pascazaman terbaik di Mekkah-Madinah itu.

Tahun baru Islam, ajak kita renungkan detik-detik hijrah, dan kebangkitan umat akhir zaman. Hijrah ajarkan keseharian kita, bahwa di sini, bukan di sana, selalu kita didampingi barisan pecundang dan shaf penolong. Hijrah dan perantauan ingatkan kita pada perubahan, dinamika hidup, dan pembaruan. Peringatan hijrah tahun ini menarik karena jamaah haji yang masuk gelombang kedua, pekan pertama dan kedua Muharrram ini, masih di Tanah Suci.

Enam hari sebelum memasuki tahun baru Islam, jamaah Aceh mulai jalani rute ke Madinah (sekitar 7-8 jam perjalanan), setelah sebulan di Mekkah. Sepekan seusai puncak peringatan 1 Muharram, pada Selasa (26/9) dini hari, jamaah haji asal Aceh mulai tiba. Kelompok terbang (kloter) perdana tinggalkan Bandara Internasional dari Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah.

Berbeda dengan dulu, Rasulullah dan sahabat ke Madinah, dalam pengusiran dan pengejaran di Mekkah. Namun kini jamaah Aceh ke Kota Nabi dalam damai dan kesukaan. Semuanya sudah haji dan umrah. Panggilan itu yang dibawa pergi, yang lain semisal kamar penginapan, tenda Arafah Muzdalifah, dan Mina (Armina), Kakbah, dan bus di Mekkah ditinggalkannya. Dulu Nabi saw meninggalkan kampung halaman, tanpa bisa memilikinya kembali, hingga sampai masanya fathu Makkah (penaklukan Mekkah), untuk menjenguk kembali. Ada kesamaan dulu dan sekarang pada hijrah ini, pada perpindahan, pada pergerakan, meskipun nilainya tetap tidak sama.

Kelebihan berhaji
Kurang dari 10 hari di Madinah, jamaah mulai pulang, setelah 40 hari berpisah dengan rekan dan mitra di Aceh tercinta ini. Usai jamaah dari pantai Barat-Selatan (Nagan Raya, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Aceh Singkil, Kota Subulussalam, dan Banda Aceh) itu mendarat, awali kepulangan 11 kloter lainnya. Di sini, guru kami ajarkan, ada tiga kelebihan berhaji: Pertama, huda (hidayah atau petunjuk); Kedua, mubaraka (barakah atau keberkatan), dan; Ketiga, amina (aman, tenang, dan nyaman). Orang yang dapat hidayah saja yang berhaji, meskipun dalam pandangan manusia, itu tidak mungkin baginya. Sebab banyak orang kelihatan mampu, dan lebih pantas, tapi belum juga bisa masuk dalam golongan sang Tamu Allah (Dhuyufurrahman).

Ayat yang merangkum tiga kelebihan tadi ialah, Inna awwala baitiw wudhi’a linnaasi lalladzii bi bakkata mubaarakaw wa hudal lil ‘aalamiin yang bermaksud “Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia adalah yang di Mekkah (Kakbah),” (QS. Ali Imran 96). Insya Allah dari rezeki yang diberkati, yang diperoleh secara barakah. Sebab banyak orang yang lebih berada dari calon haji, ternyata belum bisa naik haji, dengan alasan ‘belum ada panggilan’. Seterusnya, barakah juga sepulang dari Tanah Haram. Artinya tidak ada laporan, ia jadi pengemis, atau menjadi miskin dan fakir, setelah pulang dari sana. Sebagaimana tidak ada yang jatuh miskin, karena bersedekah dengan ikhlas itu.

Di Tanah Suci juga ada lembah Bakkah (Mekkah), yang di sana ada Baitullah. Satu tempat ibadah tertua di dunia, yang diberkati, menunjuki, dan jadi petunjuk bagi sekalian alam. Fiihi aayaatum bayyinatum maqaamu Ibraahiim, wa man dakhalahuu kaana aaminaa… (Di sana ada Maqam Ibrahim, siapa yang masuk ke sana, aman). (QS. Ali ‘Imran: 97).

Mekkah nama lainnya adalah Bakkah (lembah tangis, menangis). Jika kita tidak bisa menangis di sana, tidak ada kesempatan lagi untuk menangis. Semua di sana bisa menangis. Kelebihan lainnya, orang telah berhaji akan dinilai barakah hidupnya, aman dan tenang (muthma-innah) menjemput maut dari Izrail. Dia akan tenang ketemu kekasihnya, yakni Allah Taala.

Sambung guru kami, kaitan dengan panggilan di atas, dalam hidup seorang muslimin, ada tiga panggilan: Pertama, azannya muazzin. Ada yang datang ke mushalla sebelum dipanggil oleh muazzin ini. Ada tiba sedang dipanggil, dan ada yang seusai dipanggil. Ada yang masbuq selalu. Bahkan ada yang terkejut saat dipanggil. Contoh gumamnya, “Sebentar-bentar azan, sebentar-bentar azan. Sudah azan lagi, ka azan lom hai.” Kedua, panggilang Nabi Ibrahim as, itulah naik haji, juga orang Aceh naik haji ini. Dan, ketiga, panggilan malaikat Izrail.

Di antara perbedaan ketiga itu, ialah jika panggilan muazin dan haji, kita pakaikan sendiri pakaian ini dan pakaian ihram. Namun untuk panggilan Izrail, orang lain yang pakaikan kafan putih pada kita. Sebaliknya, ada kesamaan untuk ketiganya, yakni sama-sama berpakaian putih, sewarna dengan warna kafan. Bagus ke masjid berbusana putih. Ihram juga berpakaian putih, di antaranya untuk mengingatkan kita pada kubur. Sebagaimana wukuf di atas tanah berpasir (di Arafah) yang ingatkan kita mahsyar dan akhirat.

Setiap kita renungi tahun baru Islam, apalagi saat orang Aceh sedang ke Madinah, mengingatkan kita untuk terus berbuat, berpindah, dan berubah. Ingat pula kita pada ajal, kematian, di balik sakratul maut, kubur, shirathal mustaqim, dan para mahsyar.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1439 Hijriah!

* Muhammad Yakub Yahya, Pembantu Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPPIH) Embarkasi/Debarkasi Aceh, Dewan Pengarah TPQ Plus Baiturrahman Banda Aceh. E#mail: [email protected] (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id