Memaknai Hijrah Nabi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Memaknai Hijrah Nabi

Memaknai Hijrah Nabi
Foto Memaknai Hijrah Nabi

Oleh Agustin Hanafi

TIDAK terasa waktu berjalan begitu cepat, sesaat lagi kita akan memasuki tahun baru Islam 1439 H, yang penanggalannya dinisbahkan pada peristiwa hijrah Rasul dari Mekkah ke Madinah. Meskipun peristiwa ini telah berlalu 14 abad, namun patut kita kenang dan mengambil spirit dari perjuangan Rasul dan para sahabat yang rela meninggalkan kampung halaman, sanak famili dan harta benda, bahkan mempertaruhkan jiwa raganya demi kecintaan kepada Allah dan Rasul, sebagaimana firman-Nya, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At-Taubah: 20).

Pelajaran penting
Ada beberapa pelajaran penting dari peristiwa hijrah, yaitu sikap kerja keras dan optimisme sebagaimana yang dipraktikkan Baginda Rasulullah saw. Ketika Rasul menyampaikan kepada Abu Bakar ra bahwa Allah Swt memerintahkannya untuk berhijrah dan mengajak sahabatnya itu untuk hijrah bersama, Abu Bakar menangis kegirangan. Dan seketika itu juga ia membeli dua ekor unta dan menyerahkannya kepada Rasul saw, untuk memilih yang dikehendakinya sebagai kendaraan tunggangan.

Abu Bakar bersikeras agar unta itu diterima sebagai hadiah, namun Nabi saw menolak, dan pada akhirnya Abu Bakar setuju menjualnya kepada Nabi. Rasulullah ingin mengajarkan bahwa untuk mencapai suatu usaha besar, dibutuhkan pengorbanan maksimal dari setiap orang. Berhijrah dengan segala daya yang dimiliki, tenaga, pikiran dan materi, bahkan dengan jiwa raga beliau. Dengan membayar harga unta itu, Rasul mengajarkan kepada Abu Bakar dan kepada kita bahwa dalam mengabdi kepada Allah Swt, janganlah mengabaikan sedikit kemampuan pun, selama kita masih memiliki kemampuan itu.

Dengan demikian, dalam menjalani hidup ini tidak gampang pasrah dan mudah berputus asa, tetapi berjuanglah dengan segala daya yang dimiliki sembari bermunajat kepada Allah dan yakinlah bahwa di balik kesulitan terdapat kemudahan, sebagaimana janji Allah Swt. Dalam kehidupan berkeluarga, misalnya, ketika telah resmi menjadi suami-isteri, tanamkan dalam jiwa masing-masing bahwa ikatan pernikahan itu sifatnya suci dan sakral. Tidak rapuh, tak lapuk oleh hujan dan tak lekang karena panas. Maka yang dibutuhkan adalah kearifan, kebijaksanaan dalam mengatasi semua problematika itu, dan harus disadari bahwa menyandang status suami-isteri jauh lebih terhormat ketimbang hidup sendirian.

Oleh karena itu, yang diharapkan adalah kerja keras, masing-masing pihak berupaya meringankan beban pasangannya, membahagiakan dan menyejahterakannya, tidak berleha-leha dan menghabiskan waktu sia-sia karena isteri dan anak butuh makan, pakaian dan biaya sekolah. Sedangkan cara untuk memenuhi semua itu hanya melalui kerja keras, tidak dengan berpangku tangan mengharap hujan turun dari langit. Karena hidup bukan hanya sekadar menarik dan menghembuskan napas. Hidup dalam pandangan agama adalah kesinambungan dunia dan akhirat. Tiada arti hidup seseorang apabila dia tidak menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban-kewajiban yang lebih besar dan yang melebihi kewajiban-kewajibannya hari ini.

Begitu juga halnya pelajar dan mahasiswa, belajarlah dengan tekun dan sungguh-sungguh, hargailah waktu sebagaimana pepatah Arab “Waktu lebih berharga dari pada emas”. Kemudian ikutilah pola hidup sehat dengan tidak begadang membahas sesuatu yang kurang bermanfaat, tidak merokok apalagi narkoba, tidak mengikuti gaya hidup yang membuat batin bergejolak. Harus disadari betul bahwa yang namanya “kesempatan emas” tidak terulang untuk kedua kalinya, maka manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Jangan mudah mengeluh dengan mencari kambing hitam, menyalahkan system, peraturan, sarana prasarana, keterbatasan ekonomi sehingga tidak bergairah yang berujung kegagalan yang membuat orang tua kecewa.

Tergantung niat
Berkaitan dengan peristiwa hijrah, terdapat sebuah hadis yang sangat populer karena ada seorang pemuda pada masa itu enggan berhijrah untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya, namun demi seorang perempuan pujaan hatinya, dia rela berangkat hijrah, sehingga muncul hadis Nabi saw “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya (keridaannya) maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasulnya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena kesenangan dunia atau untuk menikahi wanita maka hijrahnya itu kepa da apa yang ditujunya”.

Dengan demikian, segala sesuatu tergantung niat, jika tulus karena Allah maka akan mendapat ridha-Nya, sebaliknya, menjadi sia-sia jika disebabkan faktor lain. Untuk itu, ketika memutuskan untuk menikahi seseorang, apakah niatnya suci murni karena ingin melaksanakan perintah agama atau hanya sekadar melampiaskan nafsu biologis semata, tertarik dengan calon pendamping hidup karena bekal agama yang dimilikinya atau karena ingin menguasai harta benda dan menikmati kecantikannya sehingga ikatan pernikahan yang diharapkan langgeng hingga akhir hayat mudah rapuh dan berakhir dengan perceraian.

Begitu juga ketika menjadikan guru sebagai sebuah profesi, jika niatnya untuk memperoleh keridhaan Allah, akan hadir di ruang kelas bukan hanya sekadar memenuhi absensi, tetapi penuh semangat dengan menyiapkan bahan ajar secara serius, agar mudah dicerna oleh anak didiknya. Kemudian, disiplin, menghargai waktu, menyapa dan menegur anak didik dengan ramah dan penuh senyum, menjawab pertanyaan dengan penuh ikhlas dan wajah yang berbinar sehingga timbul ikatan emosional antara guru dengan murid. Arif dan bijaksana, lues dan profesional, tidak membusungkan dada karena keluesan ilmu dan gelar akademik yang dimilikinya.

Begitu juga ketika di kantor, saling tegur sapa, mengucapkan salam, menebarkan senyuman, tidak menyebarkan fitnah dan berburuk sangka, memberikan pelayanan dengan baik dan ramah kepada siapa saja tanpa membedakan status sosial, tidak merasa superior, tidak mudah tersinggung ketika ada yang minta penjelasan dan klarifikasi, saling merangkul, asah, asih, asuh, menjauhkan diri dari sifat iri dan dengki karena sebesar biji zarrah pun amal kebaikan kita niscaya akan dicatat oleh Allah Swt.

Ketika menjadi seorang pedagang, jika niatnya untuk memperoleh rida dan keberkahan dari Allah, ia tidak hanya memikirkan untung rugi, tetapi memperhatikan nilai lain sesuai anjurkan agama yaitu tolong-menolong, menanamkan nilai-nilai kejujuran, tidak mengurangi timbangan. Dengan demikian, ia tidak hanya sibuk menghitung rupiah, tetapi ingat akan kewajibannya sebagai seorang muslim, yaitu tidak melalaikan shalat apalagi meninggakannya,

Kemudian terkait hijrah, mungkin saat ini tidak lagi dimaknai secara sempit seperti fisik, tetapi nilai dan spiritnya itu harus diaplikasikan dalam dimensi kehidupan, dengan melakukan revolusi mental, mengubah mindset bahwa hidup ini bukan hanya melulu identik dengan materi dan bersikap pragmatis. Tetapi makna lain dari hijrah itu adalah berusaha mengubah sifat buruk menjadi baik, dari sifat baik menjadi lebih baik.

* Dr. H. Agustin Hanafi, Lc., MA., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh. Email: [email protected] (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id